Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Ketika Rebung Tak Lagi Tumbuh: Catatan Duka PPM

29
×

Ketika Rebung Tak Lagi Tumbuh: Catatan Duka PPM

Share this article

Penulis: emha| Editor; asyary|

Jakarta|PPMIndonesia.com– Ada organisasi yang mati karena dibubarkan negara. Ada pula yang mati karena konflik internal. Namun ada jenis kematian yang paling sunyi: organisasi yang masih bernama, tetapi kehilangan kader dan ruh perjuangan. Pada titik inilah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) hari ini berdiri—atau tepatnya, terdiam.

PPM tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari rahim sejarah yang keras, dari represi negara terhadap gerakan mahasiswa awal 1980-an melalui kebijakan NKK–BKK yang mengebiri aktivitas politik kampus. Saat ruang gerak mahasiswa dipersempit, para aktivis memilih jalan lain: turun ke masyarakat, membangun kesadaran sosial melalui dakwah bil hal—kerja nyata, bukan sekadar retorika.

Namun empat puluh satu tahun kemudian, pertanyaan paling menyakitkan justru muncul dari dalam:
ke mana perginya kader PPM?

Dari Rebung yang Segar ke Batang yang Menua

PPM adalah gerakan yang lahir dari semangat kolektif. Tahun 1982 hingga 1985 menjadi masa subur, ketika berbagai yayasan, lembaga studi, dan kelompok dakwah pembangunan bersepakat meleburkan diri. Mereka datang dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo, Malang, Bali, Lombok, dan wilayah lain—membawa kegelisahan yang sama: kemiskinan struktural dan ketidakadilan sosial.

Nama-nama besar ikut meletakkan fondasi: Adi Sasono, Habib Chirzin, Ali Mustofa Trajutisna, Heri Yuswantoh, Dawam Rahardjo, dan banyak tokoh lain. PPM kala itu bukan sekadar organisasi, tetapi gerakan nilai—hidup di desa, pasar, pesantren, kelompok pemulung, petani, pedagang kecil, dan ruang-ruang budaya.

PPM tumbuh seperti rebung: muda, lentur, dan menjanjikan masa depan.

Namun hari ini, rebung itu nyaris tak terlihat.

Kaderisasi yang Terputus, Ingatan yang Memudar

Salah satu luka terdalam PPM adalah terhentinya kaderisasi. Hampir dua dekade, organisasi ini berjalan tanpa sistem pengkaderan yang terencana dan berkelanjutan. Akibatnya, PPM mengalami apa yang bisa disebut sebagai organizational amnesia—kehilangan ingatan tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk apa ia ada.

Banyak generasi baru bahkan tidak mengenal sejarah PPM. Lebih menyedihkan lagi, sebagian pengurus pun tidak lagi merujuk pada nilai-nilai dasar pendirian. Organisasi tetap ada secara administratif, tetapi jiwa kadernya menghilang.

Badan-badan otonom yang dulu menjadi kekuatan justru hidup segan mati tak mau. Program pemberdayaan melemah. Gerakan sosial berubah menjadi rutinitas struktural. PPM pelan-pelan menjauh dari denyut masyarakat yang dulu ia bela.

Dunia Berubah, Tapi Apakah Kita Berubah?

Masyarakat hari ini memang berbeda. Nilai konsumtif, materialistik, dan individualistik semakin dominan. Namun justru di tengah perubahan itulah peran PPM seharusnya semakin relevan. Ketika negara dan pasar gagal melindungi yang lemah, organisasi masyarakat sipil seharusnya hadir sebagai penyangga.

Ironisnya, PPM justru mengalami kemunduran sejak awal 2000-an. Perubahan status—dari yayasan, menjadi ormas, lalu perkumpulan pada 2022—lebih bersifat administratif daripada transformasional. Tidak diikuti pembaruan visi, metode, dan terutama regenerasi kepemimpinan berbasis kader.

PPM seakan terjebak dalam nostalgia masa lalu, tanpa cukup energi untuk menjemput masa depan.

Duka yang Seharusnya Menyadarkan

Tulisan ini bukan untuk menuding siapa pun. Ini adalah catatan duka, tetapi juga peringatan. Duka karena sebuah organisasi besar yang dibangun dengan keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan, kini kehilangan penerus. Peringatan karena sejarah tidak pernah memaafkan generasi yang menyia-nyiakan amanat.

Para pendiri PPM sebagian besar telah berpulang. Mereka tidak membawa pulang warisan materi, hanya nilai dan teladan. Pertanyaannya: apakah nilai itu masih hidup, atau ikut terkubur bersama mereka?

Menutup Duka, Membuka Jalan

PPM belum mati. Selama masih ada kesadaran untuk berbenah, harapan itu ada. Tetapi harapan tidak tumbuh dari seremonial, melainkan dari keberanian mengambil keputusan pahit:

  • mengakui kegagalan kaderisasi,
  • membuka ruang bagi generasi baru,
  • mengembalikan PPM ke akar pemberdayaan masyarakat,
  • dan menjadikan organisasi kembali sebagai alat perjuangan, bukan sekadar struktur.

Rebung tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia butuh tanah yang subur, air yang cukup, dan tangan yang merawat.

Jika PPM ingin hidup, maka ia harus berani melahirkan kembali kadernya—atau bersiap menjadi catatan sejarah yang berhenti di angka 41.

Dan sejarah, kita tahu, selalu mencatat dengan jujur:
siapa yang berjuang, dan siapa yang hanya menjaga nama.(emha)

Example 120x600