Jakarta|PPMIndonesia.com– Empat puluh satu tahun adalah usia yang panjang bagi sebuah organisasi masyarakat. Ia cukup untuk membuktikan kesetiaan, tetapi juga cukup lama untuk menyingkap kealpaan. Pada usia inilah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) berdiri hari ini—dengan jejak pengabdian yang nyata, sekaligus dengan tunas kaderisasi yang kian terlupakan.
PPM lahir pada pertengahan dekade 1980-an, sebuah masa ketika ruang politik mahasiswa dibatasi melalui kebijakan NKK–BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus–Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Ketika kampus dibungkam, sebagian aktivis memilih jalan sunyi: turun ke masyarakat, bekerja bersama rakyat kecil, dan menjadikan dakwah sebagai kerja nyata. Dari konteks inilah PPM menemukan bentuk dan maknanya—sebagai gerakan dakwah bil hal dan pemberdayaan sosial.
Dari Tekanan Politik ke Gerakan Sosial
Proses kelahiran PPM berlangsung sejak 1982 hingga 1985, melalui rangkaian lokakarya, pertemuan lintas lembaga, dan konsolidasi aktivis dari berbagai daerah. Gerakan dakwah pembangunan digagas oleh tokoh-tokoh seperti Adi Sasono, Habib Chirzin, Ali Mustofa Trajutisna, serta didukung oleh lembaga-lembaga seperti LSP, LP3ES, dan Dhorowati Institute.
Gerakan ini menyebar ke berbagai wilayah: Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo, Malang, Bali, hingga Lombok. PPM hadir di tengah pemulung, pedagang kecil, petani, pesantren, dan ruang-ruang budaya. Ia tidak menjadikan masyarakat sebagai objek, tetapi sebagai subjek perubahan.
Pada 30 Januari 1985, melalui Konvensi Dakwah Pembangunan, PPM resmi berdiri. Seluruh yayasan pendukung dileburkan, sementara badan-badan otonom dibentuk untuk menjaga kelincahan gerakan.
PPM sebagai Ruang Pengabdian
Dalam perjalanannya, PPM tidak hanya berbicara tentang ide, tetapi mengelola praktik. Program Pedagang Grosir Keliling (PGK) menjadi salah satu contoh bagaimana PPM membangun kekuatan ekonomi rakyat kecil. Demikian pula pengembangan pesantren kejuruan, festival budaya, hingga pendampingan komunitas marginal.
PPM menjadi ruang pengabdian lintas profesi—aktivis, intelektual, dai, seniman, dan pelaku usaha kecil. Organisasi ini hidup karena kesukarelaan, keikhlasan, dan keyakinan bahwa perubahan sosial hanya mungkin terjadi jika masyarakat dilibatkan secara aktif.
Tunas yang Tak Lagi Dirawat
Namun sejarah tidak berhenti pada fase pengabdian. Memasuki awal 2000-an, PPM mulai menghadapi tantangan internal yang serius. Aktivitas pemberdayaan melemah, badan otonom banyak yang stagnan, dan yang paling menentukan: kaderisasi tidak berjalan secara sistematis.
Hampir dua dekade, PPM berjalan tanpa mekanisme regenerasi yang memadai. Akibatnya, terjadi keterputusan antara generasi pendiri dan generasi penerus. Banyak kader muda tidak lagi mengenal sejarah, nilai, dan orientasi dasar PPM. Organisasi tetap eksis secara administratif, tetapi kehilangan energi gerakan.
Perubahan status kelembagaan—dari yayasan menjadi organisasi kemasyarakatan, lalu perkumpulan pada 2022—belum sepenuhnya diiringi pembaruan visi dan strategi. Tunas-tunas baru tidak tumbuh karena lahan kaderisasi dibiarkan kering.
Relevansi yang Masih Terbuka
Ironisnya, di tengah masyarakat yang semakin konsumtif, individualistik, dan timpang secara ekonomi, nilai-nilai PPM justru semakin relevan. Pemberdayaan masyarakat, keadilan sosial, dan partisipasi warga adalah kebutuhan mendesak zaman ini.
Yang dipersoalkan bukan apakah PPM masih dibutuhkan, melainkan apakah PPM siap memperbarui dirinya. Tanpa keberanian untuk mengevaluasi masa lalu dan membangun kaderisasi yang kontekstual, PPM berisiko menjadi organisasi yang hidup dalam arsip, tetapi absen dalam kenyataan sosial.
Menjaga Jejak, Menumbuhkan Tunas
Peringatan 41 tahun PPM seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan. Jejak pengabdian para pendiri adalah warisan berharga, tetapi warisan itu hanya bermakna jika diteruskan.
PPM tidak kekurangan sejarah. Yang ia butuhkan adalah generasi yang mau memikul amanat sejarah itu—dengan cara baru, bahasa baru, dan tantangan baru.
Jika tunas kembali dirawat, rebung akan tumbuh. Dan jika rebung tumbuh, PPM tidak hanya akan dikenang sebagai organisasi masa lalu, tetapi hadir kembali sebagai gerakan masa depan. (acank)



























