Meluruskan Iman agar Tidak Salah Menempatkan Tuhan
Jakarta|PPMIndonesia.com- Dalam kehidupan beragama, kata takdir sering menjadi penutup diskusi. Ketika usaha gagal, keadaan tak berubah, atau hidup terasa tidak adil, takdir hadir sebagai kalimat pamungkas: “Memang sudah takdirnya.”
Sayangnya, dalam banyak kasus, takdir tidak lagi dipahami sebagai konsep teologis yang membimbing iman, melainkan sebagai alasan untuk berhenti berpikir dan bertanggung jawab.
Pendekatan Qur’an bil Qur’an justru menunjukkan bahwa Al-Qur’an sangat tegas membedakan antara ketetapan Allah yang mutlak dan wilayah tanggung jawab manusia. Kekeliruan memahami batas inilah yang membuat iman menjadi pasrah keliru, bahkan cenderung menyalahkan Tuhan.
Takdir sebagai Ketetapan Penciptaan
Al-Qur’an menggunakan istilah qadar untuk menunjukkan bahwa alam semesta, termasuk kehidupan manusia, berjalan dalam ukuran, hukum, dan ketetapan Allah. Ketetapan ini bersifat kosmik dan mendahului keberadaan manusia.
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (ketetapan).”
(QS. Al-Qamar [54]: 49)
Ayat ini tidak berbicara tentang pilihan moral manusia, melainkan tentang struktur dasar kehidupan. Manusia tidak pernah dimintai persetujuan untuk lahir, tidak memilih orang tua, jenis kelamin, bangsa, waktu, maupun tempat kelahiran. Semua itu adalah wilayah takdir yang tidak pernah bisa dipilih.
Al-Qur’an menegaskan kembali:
إِنَّ اللَّهَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya; tidak ada pilihan bagi mereka.”
(QS. Al-Qashash [28]: 68)
Ayat ini secara eksplisit menutup klaim bahwa manusia sepenuhnya berdaulat atas hidupnya. Ada wilayah eksistensi yang sepenuhnya berada di tangan Allah.
Ajal, Tubuh, dan Realitas yang Tak Kita Kendalikan
Salah satu contoh paling nyata dari takdir adalah ajal. Tidak satu pun manusia diberi hak memilih kapan dan bagaimana kematian datang.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajal itu datang, mereka tidak dapat menundanya atau memajukannya walau sesaat.”
(QS. Al-A‘raf [7]: 34)
Demikian pula tubuh manusia. Jantung berdetak, darah mengalir, sistem imun bekerja, semua berlangsung tanpa keterlibatan kesadaran manusia. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak atas dirinya sendiri.
Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kepasrahan buta.
Takdir Bukan Alasan untuk Menyalahkan Allah
Masalah muncul ketika wilayah takdir diperluas secara tidak sah ke ranah yang seharusnya menjadi tanggung jawab manusia. Kegagalan sosial, kemiskinan struktural, kerusakan moral, bahkan ketidakadilan, sering kali diberi label “takdir Tuhan”.
Al-Qur’an justru meluruskan cara berpikir ini:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Musibah apa pun yang menimpamu adalah akibat dari perbuatan tanganmu sendiri.”
(QS. Asy-Syura [42]: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak semua yang terjadi boleh dibawa ke langit dan dibebankan kepada Tuhan. Ada peristiwa yang lahir dari kesalahan manusia sendiri—baik secara individu maupun kolektif.
Muhammad Abduh, pemikir Islam modern, menegaskan:
“Takdir tidak pernah dimaksudkan untuk membunuh ikhtiar, tetapi untuk menenangkan hati setelah usaha dilakukan.”
Ilmu Allah Tidak Sama dengan Paksaan
Sebagian orang beranggapan, jika Allah Maha Mengetahui segalanya, maka manusia tidak benar-benar memilih. Al-Qur’an tidak pernah menyamakan ilmu Allah dengan paksaan terhadap manusia.
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insan [76]: 3)
Allah menunjukkan jalan, bukan memaksa langkah. Karena itu, pertanggungjawaban tetap masuk akal dan adil.
Ali bin Abi Thalib merumuskan hal ini dengan sangat jernih:
“Takdir bukan paksaan, dan ikhtiar bukan kebebasan mutlak.”
Menempatkan Takdir secara Proporsional
Takdir dalam Al-Qur’an bukan alat untuk menyerah, melainkan kerangka iman agar manusia sadar batas. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan Tuhan, tetapi juga bukan boneka.
Iman yang sehat adalah iman yang:
- menerima ketetapan Allah tanpa protes,
- menjalani kehidupan dengan tanggung jawab,
- dan tidak menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam atas kesalahan manusia.
Dalam bingkai itulah takdir berfungsi: bukan mematikan kehidupan, tetapi menata kesadaran manusia agar tahu kapan harus tunduk, dan kapan harus berikhtiar.
Artikel ini merupakan bagian dari serial kajian “Takdir, Nasib, dan Tanggung Jawab Manusia” dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an.



























