Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri (2): Mayoritas dan Kebenaran

18
×

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri (2): Mayoritas dan Kebenaran

Share this article

Kajian syahida - Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu asumsi paling kuat dalam kehidupan sosial dan keberagamaan adalah keyakinan bahwa jumlah menentukan kebenaran. Apa yang diyakini banyak orang sering dianggap paling sahih, paling aman, dan paling benar. Namun Al-Qur’an, ketika bersaksi tentang dirinya sendiri, justru menghadirkan kritik tajam terhadap logika mayoritas.

Dalam kerangka kajian Qur’an bil Qur’an (kajian syahida), Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai sumber hukum, tetapi juga sebagai kritikus cara berpikir manusia. Ia menantang anggapan bahwa kebenaran dapat ditentukan oleh keramaian, tradisi turun-temurun, atau konsensus sosial semata.

Mayoritas Bukan Jaminan Kebenaran

Al-Qur’an secara eksplisit memperingatkan bahwa mengikuti mayoritas tanpa nalar dan kesadaran justru dapat menyesatkan.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka dan mereka hanyalah berdusta.”
(QS. Al-An‘am [6]: 116)

Ayat ini menegaskan bahwa jumlah tidak identik dengan petunjuk. Mayoritas bisa saja dibangun di atas prasangka (zhann), asumsi, dan kepentingan, bukan atas dasar kebenaran wahyu.

Kebenaran Tidak Diukur oleh Tradisi yang Diwarisi

Sering kali mayoritas bertahan bukan karena kebenaran substansial, melainkan karena tradisi yang diwariskan tanpa kritik. Al-Qur’an menyingkap pola ini berulang kali.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini menunjukkan bahwa mayoritas sering dibentuk oleh kenyamanan sejarah, bukan oleh pencarian kebenaran. Tradisi menjadi tameng untuk menghindari tanggung jawab berpikir.

Sedikit tapi Berkesadaran

Sebaliknya, Al-Qur’an kerap mengaitkan kebenaran dengan kesadaran, kesabaran, dan kejujuran, bukan dengan jumlah.

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit.”
(QS. Hud [11]: 40)

Kisah para nabi menunjukkan pola konsisten: mereka hampir selalu berada di pihak minoritas. Namun minoritas yang berpijak pada wahyu lebih bernilai daripada mayoritas yang berjalan tanpa kesadaran.

Mayoritas dan Ilusi Kesalehan

Al-Qur’an juga membongkar ilusi bahwa praktik keagamaan massal otomatis mencerminkan kedekatan dengan Allah.

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.”
(QS. Yusuf [12]: 106)

Ayat ini menggugurkan klaim bahwa kesalehan kolektif selalu identik dengan tauhid murni. Banyak orang beriman secara simbolik, tetapi masih menggantungkan kebenaran pada selain Allah.

Kriteria Kebenaran Menurut Al-Qur’an

Jika bukan mayoritas, lalu apa ukuran kebenaran menurut Al-Qur’an? Jawabannya ditegaskan secara konsisten: kebenaran diukur oleh kesesuaian dengan wahyu dan penggunaan akal yang jujur.

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang yang benar.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 111)

Al-Qur’an menuntut burhān (argumen, bukti), bukan sekadar pengulangan klaim mayoritas.

Tanggung Jawab Individu di Hadapan Kebenaran

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, setiap individu bertanggung jawab secara langsung atas pilihannya, terlepas dari posisi mayoritas.

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat secara sendiri-sendiri.”
(QS. Maryam [19]: 95)

Tidak ada legitimasi kolektif di hadapan Allah. Yang ada adalah pertanggungjawaban personal atas iman dan pilihan kebenaran.

Berani Sendiri Demi Kebenaran

Al-Qur’an, ketika menjelaskan dirinya sendiri, mengajak manusia untuk tidak bersembunyi di balik keramaian. Kebenaran tidak selalu ramai, tidak selalu populer, dan sering kali sunyi.

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Maka tidak ada lagi setelah kebenaran itu selain kesesatan.”
(QS. Yunus [10]: 32)

Pertanyaannya bukan di mana mayoritas berdiri, melainkan: di mana kebenaran berpihak—dan apakah kita berani berdiri bersamanya? (syahida)

Artikel ini merupakan bagian kedua dari seri kajian Qur’an bil Qur’an: Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri

Example 120x600