Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an Menjelaskan Ramadan (3): Ilal-Lail dan Makna Penyempurnaan Puasa

9
×

Al-Qur’an Menjelaskan Ramadan (3): Ilal-Lail dan Makna Penyempurnaan Puasa

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Sebagian besar pembahasan tentang puasa Ramadan berhenti pada dua hal: menahan lapar dan menunggu waktu berbuka. Namun Al-Qur’an menggunakan diksi yang jauh lebih dalam. Ia tidak mengatakan “akhirilah puasa”, tetapi:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(Al-Baqarah: 187)

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an dan kajian syahida, kita bertanya:
Apa makna “ilal-lail”? Dan mengapa digunakan kata “atimmū” (sempurnakan)?

Makna “Ilal-Lail”: Sampai Datangnya Malam

Kata al-lail dalam Al-Qur’an bukan sekadar waktu gelap, tetapi fase yang memiliki batas kosmik yang jelas.

Allah berfirman:

وَآيَةٌ لَّهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ

“Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang darinya, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan.”
(Yasin: 37)

Ayat ini menunjukkan bahwa malam adalah fase ketika cahaya siang benar-benar ditanggalkan. Artinya, batas berbuka bukan sekadar perkiraan, tetapi ketika transisi cahaya itu nyata terjadi.

Dalam ayat lain:

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.”
(Fatir: 13)

Proses ini gradual, tetapi memiliki titik batas yang jelas. Maka “ilal-lail” adalah momen ketika malam benar-benar masuk.

Mengapa Menggunakan Kata “Atimmū”?

Kata kerja atimmū berasal dari akar kata tamma (sempurna, utuh).

Al-Qur’an menggunakan akar kata yang sama dalam konteks penyempurnaan nikmat dan agama:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku…”
(Al-Ma’idah: 3)

Kata atmamtu (Aku sempurnakan) menunjukkan proses yang mencapai kelengkapan.

Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita memahami bahwa puasa bukan sekadar berhenti makan saat azan Maghrib, tetapi menjalani seluruh rentang waktu siang itu secara utuh—tanpa dikurangi atau disiasati.

Puasa sebagai Proses Utuh

Jika kita kembali ke tujuan puasa:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kamu bertakwa.”
(Al-Baqarah: 183)

Maka penyempurnaan waktu adalah bagian dari pendidikan takwa.

Takwa tidak dibangun dengan setengah hari kesabaran. Ia dibangun dengan kesadaran penuh sejak terbit fajar hingga datangnya malam.

Dimensi Kosmik Waktu Ibadah

Al-Qur’an menegaskan bahwa sistem waktu berjalan dengan presisi:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan (beredar) dengan perhitungan yang teliti.”
(Ar-Rahman: 5)

Artinya, batas “ilal-lail” bukan sekadar tradisi sosial, tetapi bagian dari sistem kosmik yang terukur.

Puasa mendidik manusia agar selaras dengan ritme alam yang Allah tetapkan.

Antara Menyegerakan dan Menyempurnakan

Sering kali pembahasan fikih menekankan keutamaan menyegerakan berbuka. Namun dalam teks Al-Qur’an, penekanan utamanya adalah penyempurnaan hingga datangnya malam.

Kajian syahida mengajarkan kita untuk membaca teks secara langsung:

  • Ada batas awal: min al-fajr (dari fajar).
  • Ada batas akhir: ilal-lail (hingga malam).
  • Ada perintah eksplisit: atimmū (sempurnakan).

Struktur ini menunjukkan disiplin waktu yang tegas.

Refleksi: Apakah Kita Sudah Menyempurnakan?

Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan menanti azan. Ia adalah latihan integritas:

  • Tidak berbuka sebelum waktunya.
  • Tidak melonggarkan batas secara sengaja.
  • Tidak memandang puasa sebagai formalitas administratif.

Penyempurnaan puasa berarti menjaga niat, menjaga lisan, menjaga etika, hingga detik terakhir sebelum malam tiba.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita melihat bahwa “ilal-lail” adalah batas kosmik yang jelas, dan “atimmū” adalah perintah untuk menuntaskan proses dengan integritas.

Ramadan mengajarkan kita bahwa ibadah bukan sekadar memulai dengan semangat, tetapi mengakhiri dengan kesempurnaan.

Karena dalam Al-Qur’an, yang dinilai bukan sekadar partisipasi—melainkan keutuhan.(syahida)

Example 120x600