Membaca Ujian dan Kebahagiaan dengan Metode Syahida (Qur’an bil Qur’an)
Jakarta|PPMIndonesia.com– Sahur bukan sekadar rutinitas makan sebelum fajar. Ia adalah momentum kesadaran. Di waktu yang sunyi itu, Al-Qur’an mengajarkan satu metode refleksi mendalam: syahida—kesaksian batin atas iman dan amal. Spirit sahur sesungguhnya adalah spirit evaluasi diri: apa yang telah kita persiapkan untuk “hari esok”?
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi fondasi utama dalam kajian Qur’an bil Qur’an: Al-Qur’an menafsirkan dirinya sendiri. Perintah “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad” (hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk esok) ditegaskan kembali dalam ayat lain:
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًاۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍۛ
“Pada hari ketika setiap orang mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan (di hadapannya), begitu pula kejahatan yang telah diperbuatnya.”
(QS. Ali ‘Imran: 30)
Dalam perspektif syahida, manusia bukan sekadar pelaku amal, tetapi saksi atas amalnya sendiri. Ia akan menyaksikan hasil perbuatannya. Maka romantika hidup—susah, senang, gagal, berhasil—bukanlah fragmen acak, melainkan rangkaian kesaksian menuju perhitungan akhir.
Romantika Hidup sebagai Sunnatullah
Mengapa hidup penuh pasang surut? Al-Qur’an menjawabnya dengan sangat sistematis.
اَلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini ditafsirkan oleh ayat lain:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, jelas bahwa ujian adalah keniscayaan. Ia bukan tanda kebencian Allah, melainkan mekanisme seleksi kualitas amal. Hidup bukan kompetisi siapa paling kaya, melainkan siapa paling baik amalnya.
Romantika kehidupan—jatuh bangun, kegagalan, harapan—adalah bagian dari sistem ilahi untuk membentuk ketangguhan ruhani.
Kesulitan dan Janji Kemudahan
Sering kali manusia hanya melihat sisi pahit perjalanan hidup. Padahal Al-Qur’an memberikan jaminan eksplisit:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Pengulangan ayat ini menegaskan hukum keseimbangan: tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Dalam metodologi syahida, seorang mukmin diajak menyaksikan kemudahan yang tersembunyi di balik kesempitan.
Ayat ini diperkuat dengan firman Allah:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya, setiap ujian sudah terukur. Tidak ada penderitaan yang melampaui kapasitas ruhani seseorang. Di sinilah letak optimisme Al-Qur’an.
Kebahagiaan dalam Perspektif Qur’ani
Banyak orang menilai kebahagiaan dari pencapaian materi. Padahal Al-Qur’an mengarahkan ulang definisi tersebut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
(QS. An-Nahl: 97)
Hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) tidak selalu identik dengan kemewahan, tetapi ketenangan batin. Kebahagiaan sejati lahir dari iman dan amal saleh, bukan dari sekadar simbol keberhasilan dunia.
Spirit Sahur: Momentum Kesaksian Diri
Dalam konteks Ramadan, Allah SWT menggunakan kata syahida:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barang siapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menghadirkan kesadaran penuh—kesaksian diri atas iman. Sahur menjadi simbol kesiapan menghadapi ujian kehidupan di “siang hari” dunia.
Romantika hidup, dalam kajian syahida Qur’an bil Qur’an, bukan sesuatu yang harus ditangisi berlebihan. Ia adalah panggung pembuktian kualitas takwa. Jatuh bukan akhir, melainkan bagian dari proses penyempurnaan.
Karena itu, Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan keputusasaan:
وَلَا تَيْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Yusuf: 87)
Penutup
Spirit sahur adalah spirit evaluasi, keteguhan, dan harapan. Romantika hidup adalah sunnatullah untuk menguji kualitas amal. Kebahagiaan bukan hasil instan, melainkan buah dari kesabaran dan kerja keras yang berada dalam koridor ketakwaan.
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita belajar bahwa setiap ujian memiliki tujuan, setiap kesulitan memiliki pasangan kemudahan, dan setiap amal akan disaksikan kembali.
Maka sahur bukan hanya tentang makanan sebelum fajar, tetapi tentang menata ulang arah hidup:
mengharap yang terbaik, bersiap menghadapi yang terburuk, dan tetap berjalan dalam cahaya wahyu.
Wallahu a’lam bish-shawab. 🌙(syahida)



























