Jakarta|PPMIndonesia.com– Dalam banyak kesempatan, umat Islam akrab dengan kata taslīm. Ia sering dipahami sebagai “mengucapkan salam.” Namun ketika Al-Qur’an menggunakan istilah ini, apakah maknanya berhenti pada ucapan lisan, ataukah menunjuk pada sikap batin yang lebih mendalam?
Untuk menjawabnya, pendekatan Qur’an bil Qur’an (Syahida) mengajak kita menelusuri bagaimana Al-Qur’an sendiri menjelaskan istilah tersebut melalui ayat-ayat lain yang saling berkaitan.
Taslīm dalam Konteks Keimanan
Salah satu ayat paling tegas tentang makna taslīm terdapat dalam firman Allah:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusanmu dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)
Ayat ini menjelaskan taslīm sebagai penerimaan total tanpa keberatan batin. Ia bukan sekadar ucapan, melainkan kepatuhan penuh terhadap keputusan Rasul sebagai pembawa wahyu.
Taslīm dan Perintah Bershalawat
Kata taslīm juga muncul dalam ayat yang sangat populer:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh ketundukan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Jika taslīm dalam QS 4:65 berarti penerimaan total, maka perintah “wa sallimū taslīman” dalam QS 33:56 dapat dipahami sebagai perintah untuk menerima sepenuhnya kerasulan Nabi dan ajaran yang dibawanya.
Dengan demikian, taslīm tidak berhenti pada ungkapan “assalāmu ‘alaika,” tetapi meluas menjadi komitmen iman terhadap risalah.
Islam, Taslīm, dan Kepasrahan Total
Akar kata taslīm sama dengan Islam dan aslama (berserah diri). Al-Qur’an menggunakan bentuk ini untuk menggambarkan kepatuhan total kepada Allah:
إِذْ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Berserah dirilah!’ Ia menjawab, ‘Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.’”
(QS. Al-Baqarah: 131)
Kepasrahan Nabi Ibrahim ini bukan simbol verbal, melainkan komitmen total dalam tindakan dan keyakinan.
Taslīm sebagai Jalan Keselamatan
Al-Qur’an juga menghubungkan taslīm dengan keselamatan dan kedamaian:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Ash-Shu’ara: 88-89)
Hati yang salīm (bersih, utuh) berasal dari akar kata yang sama. Ini menunjukkan bahwa taslīm bukan sekadar formalitas, tetapi proses pemurnian hati menuju kepatuhan yang utuh.
Antara Salam dan Substansi
Tradisi mengucapkan salam kepada Nabi adalah bentuk adab dan penghormatan. Namun melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, terlihat bahwa taslīm dalam Al-Qur’an mengandung makna yang jauh lebih dalam:
- Menjadikan Rasul sebagai rujukan hukum dan nilai.
- Tidak menyimpan keberatan batin terhadap wahyu.
- Menerima dan menjalankan ajaran dengan kesadaran penuh.
Dengan demikian, taslīm adalah bentuk keimanan yang matang—perpaduan antara penghormatan, kepatuhan, dan komitmen moral.
Menghidupkan Taslīm dalam Kehidupan
Jika taslīm dimaknai sebagai penerimaan total, maka ia menjadi cermin kualitas iman seseorang. Ia bukan sekadar ucapan, tetapi kesediaan untuk menyesuaikan pikiran, sikap, dan tindakan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Di tengah derasnya perbedaan dan perdebatan, taslīm mengajarkan satu hal mendasar: iman yang sejati melahirkan ketundukan yang sadar, bukan keterpaksaan.
Dan di situlah taslīm menemukan maknanya yang paling hakiki. (A Mohamed)



























