Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Indonesia Besar Jika Desa Kuat

4
×

Indonesia Besar Jika Desa Kuat

Share this article

Penulis: emha| Editor: asyary

Ketika Masa Depan Bangsa Ditentukan dari Kemandirian Desa dan Kekuatan Rakyat

JAKARTA|PPMIndoensia.com- Di tengah gemerlap pembangunan kota, Indonesia sering lupa bahwa akar kehidupannya tetap berada di desa. Sawah yang menghasilkan pangan, kebun yang menopang ekonomi rakyat, sungai yang menghidupi masyarakat, hingga nilai gotong royong yang menjaga persaudaraan bangsa—semuanya tumbuh dari desa.

Namun ironisnya, desa justru sering menjadi wilayah yang paling tertinggal dalam arus pembangunan nasional.

Padahal sejarah menunjukkan satu kenyataan penting:

bangsa yang kuat lahir dari desa yang berdaya.

Indonesia tidak akan benar-benar besar hanya karena gedung tinggi, kawasan industri, atau pertumbuhan ekonomi statistik. Indonesia akan besar ketika desa-desa mampu berdiri mandiri, masyarakatnya sejahtera, dan rakyat kecil memiliki masa depan yang layak.

Desa Adalah Pondasi Indonesia

Sejak awal kemerdekaan, desa menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia.

Dari desa lahir: pangan nasional, budaya gotong royong, ketahanan sosial masyarakat, hingga nilai kebersamaan yang menjadi identitas bangsa.

Desa bukan sekadar wilayah administratif. Desa adalah pusat kehidupan rakyat.

Namun dalam perjalanan pembangunan modern, desa sering diposisikan hanya sebagai objek program. Masyarakat desa dipandang penerima bantuan, bukan pelaku utama pembangunan.

Akibatnya, banyak desa kehilangan:

  • generasi mudanya,
  • produktivitas ekonominya,
  • bahkan kepercayaan dirinya.

Anak-anak muda pergi ke kota karena merasa desa tidak lagi menjanjikan masa depan.

Ketimpangan Kota dan Desa Semakin Terlihat

Hari ini ketimpangan pembangunan masih terasa nyata.

Kota tumbuh cepat dengan: akses digital, infrastruktur, pusat investasi, dan peluang ekonomi.

Sementara banyak desa masih menghadapi:

  • sulitnya akses pasar,
  • rendahnya nilai hasil pertanian,
  • lemahnya pendampingan usaha,
  • keterbatasan teknologi,
  • hingga minimnya kepemimpinan ekonomi lokal.

Padahal desa memiliki potensi besar:

  • pertanian,
  • perkebunan,
  • peternakan,
  • perikanan,
  • wisata alam,
  • hingga ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Masalah utama desa bukan kekurangan potensi.

Masalahnya adalah kurangnya sistem yang menghubungkan potensi rakyat dengan kekuatan pasar dan kebijakan pembangunan.

Desa Tidak Butuh Belas Kasihan

Yang dibutuhkan desa bukan sekadar bantuan sesaat.

Desa membutuhkan:

  • pendampingan,
  • akses modal,
  • penguatan koperasi,
  • teknologi tepat guna,
  • serta pasar yang adil.

Petani tidak ingin terus diberi janji.
Mereka ingin hasil panennya dihargai.

Pelaku UMKM desa tidak ingin hanya diajak seminar.
Mereka ingin produknya bisa masuk pasar nasional.

Anak muda desa tidak ingin hanya menjadi penonton pembangunan.
Mereka ingin menjadi bagian dari perubahan.

Karena itu, pembangunan desa harus berubah dari pola administratif menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.

Koperasi dan UMKM Desa Harus Menjadi Kekuatan Baru

Jika Indonesia ingin memiliki ekonomi yang kuat, maka desa harus menjadi basis ekonomi rakyat.

Di sinilah pentingnya:

  • koperasi modern,
  • UMKM berbasis komunitas,
  • pertanian terpadu,
  • hilirisasi produk desa,
  • dan digitalisasi ekonomi rakyat.

Desa tidak boleh hanya menjual bahan mentah.

Desa harus mampu:

  • mengolah,
  • memasarkan,
  • dan membangun nilai tambah dari hasil produksinya sendiri.

Ketika desa mampu mengelola ekonominya secara mandiri, maka kesejahteraan tidak lagi terkonsentrasi di kota besar.

Generasi Muda Harus Kembali Melihat Desa sebagai Masa Depan

Salah satu tantangan terbesar pembangunan desa hari ini adalah hilangnya regenerasi.

Banyak anak muda menganggap desa identik dengan keterbelakangan.

Padahal di era digital, desa justru memiliki peluang besar: agroteknologi, ekonomi kreatif, wisata berbasis budaya,bisnis pangan lokal, hingga pemasaran digital produk desa.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mendukung.

Generasi muda desa harus diberi ruang: belajar, berinovasi, memimpin, dan membangun kampung halamannya sendiri.

PPM dan Jalan Pemberdayaan Desa

Sejak awal berdiri, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) meyakini bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari masyarakat bawah.

Karena itu, gerakan pemberdayaan desa bukan sekadar program sosial, tetapi jalan perjuangan.

PPM memandang desa sebagai: pusat pembelajaran sosial, basis ekonomi rakyat, ruang tumbuh kepemimpinan komunitas, dan fondasi ketahanan bangsa.

Pemberdayaan desa bukan hanya tentang ekonomi.

Ia juga tentang: menjaga solidaritas sosial, mempertahankan budaya gotong royong, serta membangun masyarakat yang mandiri dan bermartabat.

Indonesia Besar Dimulai dari Desa yang Berdiri Tegak

Bangsa yang besar bukan bangsa yang meninggalkan desanya.

Bangsa besar adalah bangsa yang mampu membuat rakyat desa: hidup layak, berdaya secara ekonomi, kuat secara sosial, dan bangga terhadap identitasnya sendiri.

Karena itu, masa depan Indonesia tidak boleh hanya dibangun dari pusat kota.

Ia harus tumbuh dari: sawah, kebun, pasar rakyat, koperasi desa, dan tangan-tangan masyarakat yang bekerja setiap hari menjaga kehidupan bangsa.

Desa Kuat, Indonesia Bermartabat

Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar. Namun kekuatan terbesar bangsa ini sesungguhnya ada pada rakyatnya.

Dan rakyat Indonesia sebagian besar masih hidup di desa.

Jika desa kuat: pangan nasional kuat, ekonomi rakyat kuat, solidaritas sosial kuat, dan bangsa akan lebih mandiri menghadapi krisis global.

Karena itu, membangun desa bukan pekerjaan pinggiran.

Membangun desa adalah membangun masa depan Indonesia.

Sebab Indonesia tidak akan benar-benar besar tanpa desa yang kuat. (emha)

Example 120x600