Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Jika Al-Qur’an Mengajak Berpikir, Mengapa Kita Takut Menggunakan Akal?

8
×

Jika Al-Qur’an Mengajak Berpikir, Mengapa Kita Takut Menggunakan Akal?

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran. Penulis: syahida

Table of Contents

Akal yang Sering Dicurigai

JAKARTA. ppmindonesia.com– Di sebagian lingkungan keagamaan, penggunaan akal sering dipandang dengan curiga. Tidak jarang seseorang yang mengajukan pertanyaan kritis terhadap suatu ajaran langsung dicap sebagai pembangkang, liberal, atau terlalu mengedepankan logika.

Akibatnya, lahirlah sebuah budaya yang tidak sehat: bertanya dianggap berbahaya, berpikir dianggap mengancam iman, dan penggunaan akal dipersepsikan sebagai jalan menuju kesesatan.

Namun benarkah demikian menurut Al-Qur’an?

Apakah kitab suci yang diturunkan Allah kepada manusia justru menghendaki manusia mematikan kemampuan berpikir yang telah dianugerahkan-Nya?

Kajian Qur’an bil Qur’an menunjukkan jawaban yang sangat berbeda. Al-Qur’an ternyata bukan kitab yang memusuhi akal, melainkan kitab yang berkali-kali membangunkan akal manusia dari tidur panjangnya.

Al-Qur’an Berulang Kali Memanggil Akal

Salah satu ciri paling menonjol dari Al-Qur’an adalah banyaknya seruan untuk berpikir.

Allah berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Maka apakah kamu tidak menggunakan akal?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Kalimat serupa muncul berulang kali dalam berbagai bentuk di banyak ayat.

Allah juga berfirman:

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu menggunakan akal.”
(QS. Al-Baqarah: 242)

Perhatikan bahwa tujuan penjelasan ayat-ayat Allah adalah agar manusia menggunakan akalnya, bukan agar manusia berhenti berpikir.

Orang Berakal Mendapat Kedudukan Istimewa

Al-Qur’an memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada orang-orang yang menggunakan akalnya.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)

Kemudian Allah menjelaskan ciri mereka:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”
(QS. Ali ‘Imran: 191)

Ayat ini menunjukkan bahwa berpikir bukan aktivitas yang bertentangan dengan keimanan. Justru berpikir tentang ciptaan Allah merupakan karakter orang beriman.

Mengapa Banyak Orang Takut Menggunakan Akal?

Jika Al-Qur’an demikian menghargai akal, mengapa sebagian umat justru takut menggunakannya?

Salah satu sebabnya adalah kekhawatiran bahwa penggunaan akal akan membuat manusia menolak wahyu.

Padahal Al-Qur’an tidak pernah mempertentangkan akal dan wahyu.

Yang dipertentangkan oleh Al-Qur’an adalah akal dengan hawa nafsu.

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)

Musuh utama manusia bukanlah akal, melainkan hawa nafsu yang menyesatkan akal.

Akal yang jernih justru akan mengantarkan manusia kepada pengakuan terhadap kebenaran.

Al-Qur’an Mengajak Manusia Meneliti Bukti

Ketika berbicara tentang keimanan, Al-Qur’an tidak meminta manusia menerima sesuatu secara membabi buta.

Allah berfirman:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: Datangkanlah bukti kalian jika kalian memang benar.”
(QS. Al-Baqarah: 111)

Ayat ini memperlihatkan bahwa bukti dan argumentasi merupakan bagian penting dalam ajaran Islam.

Al-Qur’an bahkan mengkritik keras mereka yang hanya mengikuti tradisi nenek moyang tanpa berpikir.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah Allah turunkan, mereka berkata: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Kemudian Allah bertanya:

أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apakah mereka tetap mengikutinya walaupun nenek moyang mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Akal adalah Jalan Menuju Pengakuan terhadap Wahyu

Kajian Syahida memandang bahwa akal memiliki peran penting pada tahap awal pencarian kebenaran.

Dengan akal, manusia mengamati alam semesta.

Dengan akal, manusia menimbang bukti.

Dengan akal, manusia meneliti kandungan Al-Qur’an.

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa: 82)

Ayat ini secara langsung mengajak manusia menguji dan menelaah Al-Qur’an.

Allah tidak meminta manusia percaya tanpa berpikir.

Sebaliknya, Allah mengundang manusia melakukan tadabbur dan pengkajian.

Setelah Yakin, Akal Tunduk kepada Wahyu

Meski demikian, Al-Qur’an tidak menempatkan akal sebagai otoritas tertinggi.

Setelah akal sampai pada kesimpulan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, maka wahyu menjadi pedoman utama.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, lalu mereka masih mempunyai pilihan lain dalam urusan mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 36)

Di sinilah letak keseimbangan Islam.

Akal digunakan untuk menemukan kebenaran.

Setelah kebenaran itu ditemukan, akal tidak menjadi hakim atas wahyu, melainkan menjadi alat untuk memahami dan mengamalkannya.

Mereka yang Tidak Menggunakan Akal Justru Dicela

Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah mencela orang yang menggunakan akal.

Yang dicela justru mereka yang tidak menggunakannya.

Allah berfirman:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya makhluk yang paling buruk di sisi Allah ialah mereka yang tuli, bisu, dan tidak menggunakan akalnya.”
(QS. Al-Anfal: 22)

Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan fungsi akal bukanlah bentuk ketakwaan.

Sebaliknya, penggunaan akal merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah.

Iman yang Kokoh Tidak Takut pada Akal

Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia mematikan pikirannya. Yang diminta adalah menggunakan akal secara benar, jujur, dan tunduk kepada kebenaran.

Iman yang rapuh biasanya takut terhadap pertanyaan.

Sebaliknya, iman yang dibangun di atas petunjuk Allah tidak takut terhadap pencarian, penelitian, dan perenungan.

Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah: “Bolehkah seorang mukmin menggunakan akal?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Jika Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, mengapa kita justru takut menggunakan akal yang telah Allah anugerahkan?

Mungkin sudah saatnya umat Islam kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama petunjuk, menggunakan akal untuk memahami tanda-tanda Allah, dan menjauhi sikap taklid yang menjadikan manusia mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Sebab Al-Qur’an tidak diturunkan untuk membelenggu akal, melainkan untuk membimbingnya menuju kebenaran. (syahida)

Box Redaksi

Kajian Syahida (Qur’an bil Qur’an) adalah metode memahami suatu persoalan dengan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai penjelas bagi ayat lainnya, sehingga kesimpulan dibangun di atas kesatuan pesan Al-Qur’an secara utuh dan konsisten. Untuk itu, setiap keyakinan, tradisi, dan pemahaman keagamaan perlu senantiasa ditimbang dengan petunjuk Al-Qur’an sebagai Al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil).

Example 120x600