Kajian Syahida: Menjadikan Al-Qur'an sebagai Timbangan Kebenaran JAKARTA.PPMIndonesia.com. Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia
Kegelisahan yang Tidak Boleh Diabaikan
Tidak sedikit Muslim yang pernah mengalami kegelisahan ketika berhadapan dengan berbagai doktrin keagamaan yang sulit dipahami oleh akal sehat. Sebagian memilih diam dan menerima tanpa bertanya. Sebagian lain berusaha mencari penjelasan yang memuaskan. Ada pula yang akhirnya menjauh dari agama karena merasa tidak menemukan jawaban yang masuk akal.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu manusia selalu berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Tuhan, wahyu, kehidupan, dan kebenaran.
Pertanyaannya adalah: bagaimana Al-Qur’an mengarahkan manusia ketika berhadapan dengan ajaran atau doktrin yang tidak memuaskan nalar?
Kajian Syahida dengan metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an menemukan bahwa Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mematikan akalnya. Sebaliknya, Al-Qur’an mengajak manusia berpikir, menimbang, dan kembali kepada wahyu Allah sebagai rujukan tertinggi.
Al-Qur’an Tidak Takut terhadap Pertanyaan
Salah satu ciri utama Al-Qur’an adalah keberaniannya mengajak manusia menggunakan akal.
Allah berfirman:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Maka apakah kamu tidak menggunakan akal?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Pada ayat lain Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa: 82)
Dan firman-Nya:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak meminta manusia menerima sesuatu tanpa pemahaman. Justru Al-Qur’an mendorong manusia melakukan tadabbur, perenungan, dan pengkajian.
Mengapa Nalar Penting dalam Beragama?
Menurut Al-Qur’an, akal merupakan salah satu sarana yang Allah berikan agar manusia dapat mengenali kebenaran.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Kemudian Allah menjelaskan karakter mereka:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring serta memikirkan penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Dalam perspektif Al-Qur’an, berpikir bukanlah ancaman bagi iman. Justru berpikir merupakan jalan untuk memperkuat keimanan.
Al-Qur’an Mengkritik Taklid Buta
Salah satu sebab lahirnya doktrin-doktrin yang tidak pernah diuji adalah budaya taklid buta.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu hanya karena diwariskan oleh tradisi.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah Allah turunkan, mereka berkata: Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.” (QS. Al-Baqarah: 170)
Lalu Allah bertanya:
أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Apakah mereka tetap mengikutinya walaupun nenek moyang mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap keyakinan harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika Terjadi Perselisihan, Ke Mana Harus Kembali?
Dalam kehidupan beragama sering muncul berbagai pendapat, tafsir, dan ajaran yang saling bertentangan.
Al-Qur’an memberikan petunjuk yang sangat jelas.
Allah berfirman:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang sesuatu apa pun yang kamu perselisihkan, maka keputusannya kembali kepada Allah.”
(QS. Asy-Syura: 10)
Bagaimana keputusan Allah dapat diketahui?
Melalui wahyu-Nya yang terpelihara, yaitu Al-Qur’an.
Karena itu, ketika muncul suatu doktrin yang membingungkan, langkah pertama bukanlah mematikan akal, melainkan mengujinya dengan petunjuk Al-Qur’an.
Al-Qur’an sebagai Al-Furqan
Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang salah.
Allah berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 1)
Sebagai Furqan, Al-Qur’an berfungsi menjadi standar penilaian terhadap berbagai keyakinan dan ajaran.
Karena itu, setiap doktrin yang mengatasnamakan agama perlu ditimbang dengan neraca Al-Qur’an.
Bukan sebaliknya, Al-Qur’an yang harus dipaksa menyesuaikan diri dengan doktrin tertentu.
Orang Beriman Mengikuti Bukti, Bukan Sekadar Klaim
Al-Qur’an mengajarkan budaya argumentasi dan pembuktian.
Allah berfirman:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah: Datangkanlah bukti kalian jika kalian memang benar.” (QS. Al-Baqarah: 111)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak dibangun di atas klaim tanpa dasar.
Kebenaran harus memiliki hujjah, dalil, dan bukti yang dapat diuji.
Karena itu, ketika suatu ajaran tidak memiliki landasan yang jelas dalam Al-Qur’an atau bertentangan dengan prinsip-prinsipnya, seorang mukmin berhak menelaahnya secara kritis.
Mengapa Sebagian Orang Takut Menggunakan Akal?
Ironisnya, ada anggapan bahwa semakin sedikit berpikir maka semakin besar keimanan seseorang.
Padahal Al-Qur’an justru mencela mereka yang tidak menggunakan akalnya.
Allah berfirman:
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya makhluk yang paling buruk di sisi Allah ialah mereka yang tuli, bisu, dan tidak menggunakan akalnya.”
(QS. Al-Anfal: 22)
Bahkan penghuni neraka digambarkan menyesal karena tidak menggunakan akalnya ketika hidup di dunia.
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: Sekiranya dahulu kami mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”
(QS. Al-Mulk: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa penggunaan akal merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.
Kembali kepada Al-Qur’an
Kajian Syahida memandang bahwa solusi terhadap kebingungan, konflik pemahaman, dan doktrin yang tidak memuaskan nalar bukanlah meninggalkan agama, melainkan kembali kepada sumber ajaran yang paling otoritatif.
Allah berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)
Ketika manusia menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama, maka agama akan kembali tampil sebagai petunjuk yang selaras dengan fitrah, akal sehat, dan tujuan penciptaan manusia.
Iman Tidak Takut pada Kebenaran
Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia menutup mata terhadap pertanyaan. Al-Qur’an juga tidak mengajarkan ketakutan terhadap penggunaan akal.
Sebaliknya, kitab suci ini mengajak manusia berpikir, merenung, mengamati, dan menimbang bukti.
Karena itu, ketika suatu doktrin tidak memuaskan nalar, seorang mukmin tidak perlu tergesa-gesa menolak agama dan tidak pula harus mematikan akalnya.
Jalan yang diajarkan Al-Qur’an adalah kembali kepada wahyu Allah, menguji segala sesuatu dengan petunjuk-Nya, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai Furqan yang membedakan antara kebenaran dan kekeliruan.
Sebab iman yang kokoh bukanlah iman yang takut terhadap pertanyaan, melainkan iman yang lahir dari pencarian yang jujur dan tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah.
Ketika doktrin tidak memuaskan nalar, maka sudah saatnya kita kembali kepada Al-Qur’an. (syahida)





























