Scroll untuk baca artikel
Hikmah

APA YANG DIMAKSUD AL-QUR’AN DENGAN TAAT KEPADA RASUL?

5
×

APA YANG DIMAKSUD AL-QUR’AN DENGAN TAAT KEPADA RASUL?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Sebuah Perintah yang Berulang Kali Disebutkan

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di antara perintah yang paling sering diulang dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Hampir di setiap pembahasan mengenai iman, amal saleh, hukum, dan kehidupan bermasyarakat, Al-Qur’an selalu menghubungkan keduanya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.” (QS Muhammad [47]: 33)

Juga firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisa [4]: 59)

Namun pertanyaan yang sering muncul adalah: apa sebenarnya yang dimaksud Al-Qur’an dengan taat kepada rasul?

Apakah ketaatan itu ditujukan kepada pribadi rasul sebagai manusia? Ataukah kepada risalah yang dibawanya dari Allah?

Untuk menjawabnya, Kajian Syahida menggunakan pendekatan Al-Qur’an bil Al-Qur’an, yaitu memahami suatu ayat melalui ayat-ayat lain yang berbicara tentang tema yang sama.

Rasul Diutus untuk Membawa Risalah Allah

Untuk memahami makna ketaatan kepada rasul, pertama-tama kita harus memahami apa tugas seorang rasul.

Allah berfirman:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]: 129)

Ayat ini menjelaskan bahwa tugas rasul adalah:

  • Membacakan ayat-ayat Allah.
  • Mengajarkan Al-Kitab.
  • Menyucikan manusia.

Allah juga berfirman:

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ

“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)

Dengan demikian, fokus utama kerasulan adalah penyampaian wahyu Allah.

Mengapa Ketaatan kepada Rasul Selalu Disandingkan dengan Ketaatan kepada Allah?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS An-Nisa [4]: 80)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Rasul bukanlah sesuatu yang terpisah dari ketaatan kepada Allah.

Mengapa?

Karena Rasul adalah penyampai pesan Allah kepada manusia.

Sebagaimana seorang utusan kerajaan membawa pesan dari rajanya, demikian pula seorang rasul membawa risalah dari Allah.

Maka ketika seseorang menerima risalah yang dibawa rasul, sesungguhnya ia sedang menerima petunjuk Allah.

Rasul Sendiri Diperintahkan Mengikuti Wahyu

Menariknya, Rasul yang diperintahkan untuk ditaati ternyata juga diperintahkan untuk taat kepada wahyu.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.” (QS Al-A’raf [7]: 203)

Dan:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An’am [6]: 50)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Rasul sendiri tidak berjalan berdasarkan kehendak pribadinya dalam menyampaikan risalah.

Beliau mengikuti wahyu yang diturunkan Allah.

Karena itu, ketaatan kepada Rasul pada hakikatnya terkait erat dengan wahyu yang beliau ikuti dan beliau sampaikan.

Rasul Tidak Berbicara Menurut Hawa Nafsu

Al-Qur’an menegaskan:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (QS An-Najm [53]: 3-4)

Ayat ini sering dijadikan dasar bahwa otoritas Rasul berasal dari wahyu yang diterimanya.

Dengan kata lain, yang menjadikan Rasul wajib ditaati bukan karena beliau memiliki sumber petunjuk yang berdiri sendiri, melainkan karena beliau menyampaikan petunjuk Allah.

Apa yang Harus Ditaati dari Rasul?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Rasul diperintahkan untuk menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya.

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (QS Al-Maidah [5]: 67)

Dan:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.” (QS Al-An’am [6]: 19)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa alat utama yang digunakan Rasul untuk memberi petunjuk adalah Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.

Karena itu, menaati Rasul berarti menerima dan mengikuti petunjuk yang dibawa beliau dari Allah.

Rasul Tidak Berwenang Mengada-adakan Ajaran

Untuk menjaga kemurnian wahyu, Allah memberikan peringatan yang sangat keras.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ۝ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ۝ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian Kami potong urat jantungnya.” (QS Al-Haqqah [69]: 44-46)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang rasul tidak memiliki kewenangan untuk mengubah, menambah, atau mengurangi risalah Allah menurut kehendaknya sendiri.

Tugasnya adalah menyampaikan.

Ketika Al-Qur’an Menjelaskan Tujuan Ketaatan

Mengapa Allah memerintahkan manusia menaati Rasul?

Jawabannya terdapat dalam tujuan kerasulan itu sendiri.

لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)

Ketaatan kepada Rasul bertujuan membawa manusia kepada petunjuk Allah, membebaskan mereka dari kebodohan, kesesatan, dan kezaliman menuju kehidupan yang diterangi wahyu.

Rasul dan Al-Qur’an Tidak Dapat Dipisahkan

Salah satu ayat yang paling menyentuh adalah pengaduan Rasul pada Hari Kiamat.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)

Keluhan Rasul yang diabadikan Al-Qur’an bukanlah karena umat meninggalkan dirinya secara fisik, melainkan karena mereka meninggalkan Al-Qur’an yang menjadi inti risalahnya.

Ini menunjukkan eratnya hubungan antara Rasul dan wahyu yang dibawanya.

Penutup: Hakikat Taat kepada Rasul

Melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an, terlihat bahwa Rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab-Nya, menyampaikan wahyu-Nya, dan membimbing manusia menuju cahaya petunjuk.

Karena itu, ketika Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk taat kepada Rasul, hakikatnya adalah menaati risalah yang dibawa Rasul dari Allah.

Ketaatan kepada Rasul bukan sekadar pengakuan lisan, bukan pula sekadar ekspresi cinta dan penghormatan, melainkan kesediaan untuk mengikuti petunjuk Allah yang beliau sampaikan kepada umat manusia.

Maka ukuran sejati ketaatan kepada Rasul bukanlah seberapa sering namanya disebut, melainkan seberapa sungguh-sungguh seseorang menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman hidupnya. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.(syahida)

Example 120x600