Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

PPM, Dari Akar Rumput ke Dunia Digital: Mencari Makna di Era Gen Z

10
×

PPM, Dari Akar Rumput ke Dunia Digital: Mencari Makna di Era Gen Z

Share this article

Redaksi ppmindonesia, editor: asyary

JAKARTA|PPMIndonesia.com– Di setiap zaman, selalu ada generasi yang diberi kesempatan untuk menentukan arah perubahan. Pada dekade 1980-an, perubahan itu lahir dari tangan para aktivis muda yang memilih turun ke tengah masyarakat ketika ruang gerak politik kampus mengalami pembatasan. Dari semangat itulah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) lahir dan tumbuh menjadi salah satu gerakan pemberdayaan masyarakat yang memiliki jejak panjang dalam pembangunan ekonomi rakyat Indonesia.

Lebih dari empat dekade kemudian, Indonesia memasuki era yang sangat berbeda. Teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Cara belajar, bekerja, berorganisasi, hingga membangun hubungan sosial tidak lagi sama seperti sebelumnya. Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang penting untuk dijawab: apakah nilai-nilai perjuangan yang dibangun PPM masih memiliki makna bagi generasi muda hari ini, khususnya Generasi Z?

Jawabannya terletak pada kemampuan memahami bahwa perubahan zaman tidak selalu mengubah substansi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Jejak Panjang Gerakan Akar Rumput

Sejak awal berdirinya, PPM memilih jalan pemberdayaan sebagai strategi perubahan sosial. Gerakan ini hadir di tengah pedagang kaki lima, petani, nelayan, pelaku usaha kecil, kelompok perempuan, hingga komunitas masyarakat miskin perkotaan.

Berbagai program pengembangan koperasi, kelompok usaha bersama, pesantren kejuruan, ekonomi rakyat, hingga pendampingan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi ini. PPM tidak dibangun sebagai gerakan yang mengandalkan popularitas, tetapi sebagai gerakan yang bertumpu pada kerja nyata di lapangan.

Pendekatan tersebut telah melahirkan banyak kader, aktivis, akademisi, pengusaha, birokrat, hingga tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan berbasis rakyat.

Namun dunia terus bergerak. Tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini tidak lagi sama dengan tantangan empat puluh tahun lalu.

Ketika Dunia Berpindah ke Ruang Digital

Era digital telah menciptakan peluang sekaligus tantangan baru. Internet membuka akses informasi yang hampir tanpa batas. Teknologi mempercepat proses bisnis, pendidikan, dan komunikasi. Di sisi lain, perubahan ini juga melahirkan persoalan baru seperti kesenjangan digital, disrupsi ekonomi, banjir informasi, hingga melemahnya interaksi sosial berbasis komunitas.

Pelaku UMKM yang dahulu hanya bersaing di pasar lokal kini harus bersaing di pasar digital yang jauh lebih kompetitif. Petani tidak hanya membutuhkan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga akses informasi pasar dan teknologi pertanian. Anak muda tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung sangat cepat.

Dalam konteks inilah, nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan PPM justru menemukan relevansi baru.

Pemberdayaan masyarakat tidak lagi cukup dilakukan melalui pendekatan konvensional. Pemberdayaan harus memasuki ruang digital tanpa kehilangan ruh keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Memahami Karakter Gen Z

Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era internet. Mereka terbiasa dengan akses informasi yang cepat, komunikasi yang terbuka, serta budaya kolaborasi yang lebih cair.

Banyak pihak menilai Gen Z sebagai generasi yang individualis. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi ini justru memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu sosial, lingkungan, keadilan ekonomi, dan masa depan bangsa. Hanya saja, cara mereka berpartisipasi berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka lebih tertarik pada gerakan yang memberikan dampak nyata daripada sekadar slogan. Mereka lebih menyukai kolaborasi daripada hierarki yang kaku. Mereka ingin terlibat langsung dalam solusi, bukan hanya menjadi penonton.

Di sinilah PPM memiliki peluang besar untuk melakukan regenerasi dan transformasi.

Dari Organisasi Menjadi Ekosistem Perubahan

Ke depan, PPM tidak cukup hanya menjadi organisasi yang menjaga warisan sejarah. PPM harus berkembang menjadi ekosistem perubahan yang mampu menghubungkan pengalaman para senior dengan kreativitas generasi muda.

Program pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dipadukan dengan teknologi digital. Pendampingan UMKM dapat dilakukan melalui platform daring. Pendidikan kewirausahaan dapat dikembangkan melalui inkubasi bisnis digital. Penguatan komunitas dapat diperluas melalui jaringan media sosial dan platform kolaboratif.

Pada saat yang sama, nilai-nilai yang menjadi fondasi PPM harus tetap dipertahankan: gotong royong, keberpihakan kepada rakyat kecil, kemandirian ekonomi, dan partisipasi masyarakat.

Transformasi bukan berarti meninggalkan identitas. Transformasi adalah cara menjaga relevansi identitas itu sendiri.

Menjemput Masa Depan

Sejarah PPM membuktikan bahwa organisasi ini lahir dari keberanian membaca perubahan zaman. Ketika ruang kampus dibatasi, para pendirinya mencari ruang baru di tengah masyarakat. Ketika pembangunan terlalu berpusat pada negara dan modal besar, mereka memilih memperkuat ekonomi rakyat dari bawah.

Hari ini, tantangan baru kembali hadir dalam bentuk yang berbeda. Dunia digital menciptakan peluang yang sangat besar, tetapi juga risiko yang tidak kecil. Di tengah situasi tersebut, PPM memiliki kesempatan untuk kembali mengambil peran strategis.

Generasi Z membutuhkan ruang untuk berkontribusi. Masyarakat membutuhkan pendampingan agar tidak tertinggal dalam transformasi digital. Bangsa membutuhkan gerakan yang mampu menjembatani nilai-nilai luhur masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Karena itu, perjalanan PPM sesungguhnya belum selesai.

Dari akar rumput menuju dunia digital, PPM sedang memasuki babak baru sejarahnya. Sebuah babak yang menuntut keberanian untuk beradaptasi, kemampuan untuk berkolaborasi, dan komitmen untuk tetap berpihak kepada rakyat.

Di era Gen Z, makna perjuangan mungkin berubah bentuk. Namun semangat untuk membangun masyarakat yang mandiri, berdaya, dan berkeadilan tetap menjadi tujuan yang tidak pernah berubah. Itulah makna yang perlu terus dijaga dan diwariskan oleh PPM kepada generasi berikutnya.(redaksi ppmindonesia)

Example 120x600