SEMARANG, ppmindonesia.com– Matahari belum sepenuhnya tinggi di ufuk timur, namun semangat di sebuah sudut kebun organik di Semarang sudah menyala hebat. Di sana berdiri Guntoro Soewarno, seorang mentor organik alumni BSM 14 yang telah menghabiskan lebih dari 12 tahun hidupnya untuk sebuah misi besar: mengubah nasib petani Indonesia.
Bagi sebagian orang, bertani mungkin sekadar menanam dan memanen. Namun bagi Guntoro, pertanian adalah jalan ninja untuk mengentas kemiskinan dan menjemput kesejahteraan.
“Saya hanya ingin membantu para petani bisa kaya melalui jalur pertanian terintegrasi,” ujar Guntoro dengan binar mata penuh semangat yang tak pernah pudar, meski rambutnya mulai memutih dimakan waktu.
Sebuah Perjalanan Tanpa Batas Ruang
Perjalanan Guntoro mendampingi petani bukanlah kisah instan yang selesai dalam satu atau dua seminar. Ini adalah kisah tentang konsistensi sepanjang satu dekade lebih. Ia adalah tipe mentor yang tidak betah hanya duduk di belakang meja. Ketika pandemi atau jarak memisahkan, layar tatap muka digital seperti Zoom menjadi jembatannya membagikan ilmu. Namun, esensi sejati dari gerakannya ada pada langkah kaki yang turun langsung ke lapangan.
Dari satu daerah ke daerah lain, Guntoro mendatangi kebun-kebun binaannya. Ia menyapa tanah yang kering, mendengarkan keluh kesah petani yang merugi akibat harga pupuk kimia yang mencekik, lalu menawarkan solusi nyata dengan tangannya sendiri.
Bagi Guntoro, indikator keberhasilan seorang petani sejati tidak melulu soal tonase hasil panen. Ada hal yang jauh lebih mendalam: meningkatnya kualitas hidup, terciptanya kemandirian pangan di meja makan keluarga petani, serta lahirnya sumber pendapatan yang terus mengalir tanpa merusak alam.
Sinergi Bersama Pondok Literasi Alam BG Farm: Ruang Menempa Diri
Dalam perjalanan panjang menyebarkan virus kebaikan ini, langkah Guntoro menemukan gaung yang lebih kuat ketika bersinergi dengan lembaga yang satu visi. Salah satunya adalah Pondok Literasi Alam BG Farm. Tempat ini bukan sekadar lahan pertanian biasa, melainkan telah menjelma menjadi episentrum literasi hijau dan kawah candradimuka bagi para pencari ilmu pertanian berkelanjutan.
Melalui program skill up yang diadakan secara berkala, Pondok Literasi Alam BG Farm memfasilitasi ruang bagi para petani, pemuda, dan pegiat lingkungan untuk menyerap langsung ilmu praktis dari Pak Guntoro. Sinergi ini melahirkan sebuah konsep “Rihlah Organik”—sebuah perjalanan pembelajaran yang tidak hanya mengisi kepala dengan teori, tetapi mengasah kepekaan hati terhadap alam. Di BG Farm inilah, gagasan-gagasan besar Pak Guntoro diuji, dipraktikkan, dan disebarluaskan ke masyarakat yang lebih luas.
Filosofi Keyhole Garden: Membawa Laboratorium ke Lahan Mini
Salah satu mahakarya yang kini terus ditularkan dalam setiap perjalanan edukasi dan kelas skill up di BG Farm adalah konsep Keyhole Garden. Di atas lahan mini berukuran sekitar 3 x 3 meter, Guntoro bersama para santri literasi alam mampu menyulapnya menjadi oasis yang dihuni oleh puluhan jenis sayuran, tanaman hortikultura, hingga rempah-rempah.
Namun, jangan salah sangka. Bagi Pak Gun—sapaan akrabnya—Keyhole Garden bukan sekadar tempat menanam estetis.
Keyhole Garden adalah laboratorium mental. Di lahan kecil ini, petani belajar membangun mental pantang menyerah, mengamati bahasa tubuh tanaman, menguji formula pupuk organik, hingga memahami bagaimana ekosistem bekerja mengendalikan hama secara alami.”
Di lahan-lahan percontohan inilah, Guntoro mendobrak ketergantungan petani pada pabrik kimia. Ia mengajarkan teknologi sederhana yang bisa dibuat oleh siapa saja: menyulap air cucian beras yang biasa dibuang menjadi fermentasi pembenah tanah alami, memanfaatkan sampah dapur sebagai asupan nutrisi tanaman, serta menggelar mulsa alami demi menjaga kelembapan tanah.
Strategi ini terbukti ampuh memotong biaya produksi hingga ke titik terendah, mengembalikan kesehatan tanah yang telanjur rusak oleh kimia, sekaligus mengerek kualitas hasil panen menjadi lebih sehat.
Dari Tanah Menuju Pasar: Membangun Kepercayaan
Kisah perjalanan Guntoro tidak berhenti pada urusan menanam. Ia paham betul bahwa momok terbesar petani sering kali ada pada rantai pemasaran. Di sinilah letak keunikan strategi yang ia bagikan. Alih-alih menyuruh petani langsung menjual ke pasar besar, Guntoro mengajarkan sebuah filosofi pemasaran organik yang menyentuh hati.
“Bagi hasil panen terbaikmu kepada tetangga kanan-kiri sebagai promosi alami,” begitu ia selalu berpesan kepada para peserta pelatihannya.
Strategi ini bukan tanpa alasan. Guntoro percaya bahwa rasa dan kualitas sayuran organik tidak pernah berbohong. Ketika masyarakat sekitar sudah merasakan langsung bedanya sayuran yang sehat, mereka tidak akan ragu untuk datang kembali dan membeli. “Pasar terbaik sesungguhnya adalah lingkungan sekitar kita,” jelasnya mantap.
Warisan Ilmu yang Tak Pernah Padam
Perjalanan lebih dari 12 tahun ini menjadi bukti hidup bahwa transformasi di sektor pertanian tidak melulu soal kecanggihan teknologi atau modal yang melimpah. Di atas itu semua, ada ketulusan, kesabaran, dan pendampingan yang konsisten tanpa lelah.
Kolaborasi apik antara figur dedikatif seperti Guntoro Soewarno dan wadah bergerak seperti Pondok Literasi Alam BG Farm adalah potret masa depan pertanian Indonesia yang cerah. Lewat dedikasi ini, mereka sedang menyalakan lilin-lilin harapan di berbagai pelosok daerah, mencetak petani-petani mandiri yang berdaya, produktif, dan sejahtera dari sejengkal tanah organik yang mereka rawat dengan cinta.
Semoga jejak langkah Pak Gun dan atmosfer belajar di BG Farm terus menginspirasi kita semua untuk berani memulai dari yang kecil, belajar tanpa henti, dan merawat bumi demi masa depan yang lebih baik. (Rochmad Taufiq)
(Catatan Rihlah Organik Pondok Literasi Alam BG Farm, ditulis berdasarkan pengalaman mengikuti up-skilling bersama Pak Guntoro oleh Rochmad Taufiq).





























