Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Teologi Pemberdayaan PPM (Serial 4) Qaryah Thayyibah dan Jalan Baru Pemberdayaan Desa

6
×

Teologi Pemberdayaan PPM (Serial 4) Qaryah Thayyibah dan Jalan Baru Pemberdayaan Desa

Share this article

Penulis: emha| Editor: asyary

Membangun Desa sebagai Pusat Peradaban, Kemandirian, dan Keadilan Sosial

JAKARTA|PPMIndonesia.com- Di tengah arus globalisasi dan pembangunan yang semakin terpusat di kota-kota besar, desa sering diposisikan sekadar sebagai wilayah pinggiran: pemasok tenaga kerja, penyedia bahan mentah, dan objek kebijakan pembangunan.

Padahal dalam sejarah peradaban manusia, desa adalah fondasi utama kehidupan.

Di desa: pangan diproduksi, solidaritas sosial tumbuh, budaya diwariskan, dan hubungan manusia dengan alam masih terjaga.

Karena itu, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang bahwa kebangkitan bangsa tidak mungkin terjadi tanpa kebangkitan desa.

Di sinilah konsep Qaryah Thayyibah menjadi penting sebagai jalan baru pemberdayaan masyarakat.

Qaryah Thayyibah: Desa sebagai Ruang Peradaban

Istilah Qaryah Thayyibah berangkat dari spirit Al-Qur’an tentang kehidupan yang baik, adil, dan penuh keberkahan.

Qaryah Thayyibah bukan sekadar desa yang maju secara fisik, tetapi desa yang: kuat secara spiritual, mandiri secara ekonomi, sehat secara sosial, dan lestari secara ekologis.

Dalam perspektif PPM, desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek peradaban.

Masyarakat desa harus ditempatkan sebagai pelaku utama perubahan sosial.

Krisis Desa Modern

Hari ini desa menghadapi tantangan besar: urbanisasi, ketergantungan ekonomi, kerusakan lingkungan, serta hilangnya generasi muda produktif.

Banyak desa kaya sumber daya, tetapi miskin pengelolaan.
Lahan subur luas, tetapi petani hidup dalam ketidakpastian.
Potensi alam besar, tetapi nilai tambah ekonomi justru dinikmati pihak luar.

Akibatnya desa kehilangan daya hidupnya.

Yang tersisa hanyalah ketergantungan terhadap bantuan dan proyek jangka pendek.

Pendapat Tokoh

Prof. Emil Salim

“Pembangunan sejati harus dimulai dari desa, karena desa adalah basis kehidupan bangsa.”

Menurut Emil Salim, pembangunan yang tidak memperkuat desa hanya akan memperbesar ketimpangan sosial dan ekologis.

Prof. Soedjatmoko

Cendekiawan besar Indonesia ini menekankan bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi proses memanusiakan manusia.

Desa harus menjadi ruang tumbuhnya: kreativitas, partisipasi, dan kemandirian masyarakat.

E.F. Schumacher

Dalam bukunya Small is Beautiful, Schumacher mengkritik pembangunan modern yang terlalu sentralistik dan industrialistik.

Ia percaya bahwa ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang dekat dengan manusia dan komunitas lokal.

Pandangan ini sejalan dengan konsep pemberdayaan desa berbasis komunitas yang dikembangkan PPM.

Jalan Baru Pemberdayaan Desa

PPM melihat bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya dengan infrastruktur.

Yang lebih penting adalah membangun: kesadaran masyarakat, kapasitas produksi, kelembagaan sosial, dan kepemimpinan partisipatif.

Karena itu, konsep Qaryah Thayyibah dikembangkan melalui beberapa pilar utama:

1. Ekonomi Komunitas

Desa harus memiliki kekuatan ekonomi berbasis rakyat: koperasi, pertanian terpadu, peternakan komunitas, UMKM desa, dan pasar lokal.

Ekonomi desa tidak boleh hanya bergantung pada pasar eksternal.

2. Pendidikan Pemberdayaan

Pendidikan tidak cukup menghasilkan pencari kerja.

Desa membutuhkan kader: penggerak sosial,minovator lokal, dan pemimpin komunitas.

Karena itu kaderisasi menjadi inti gerakan PPM.

3. Spiritualitas Sosial

Agama harus hadir sebagai energi gotong royong, kejujuran, dan solidaritas sosial.

Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi pusat: pendidikan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan moral sosial.

4. Kelestarian Lingkungan

Qaryah Thayyibah tidak memisahkan manusia dari alam.

Tanah, air, hutan, dan lingkungan dipandang sebagai amanah kekhalifahan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Dari Desa Objek Menjadi Desa Subjek

Selama ini banyak program pembangunan menjadikan desa sebagai penerima bantuan.

Akibatnya: kreativitas masyarakat melemah, ketergantungan meningkat, dan partisipasi sosial menurun.

PPM mendorong perubahan paradigma:
Desa harus menjadi subjek yang: merancang masa depannya sendiri, mengelola sumber dayanya sendiri, dan membangun ekonominya sendiri.

Qaryah Thayyibah dan Dakwah Bil Hal

Dalam perspektif Teologi Pemberdayaan PPM, dakwah tidak berhenti pada ceramah moral.

Dakwah harus hadir dalam: pemberdayaan petani, penguatan koperasi, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan ekonomi rakyat.

Inilah dakwah bil hal:
agama yang bekerja bersama masyarakat.

Karena kesalehan sejati bukan hanya banyaknya ritual, tetapi kemampuan menghadirkan kemaslahatan sosial.

Desa sebagai Masa Depan Bangsa

Kebangkitan bangsa Indonesia tidak akan lahir hanya dari gedung-gedung tinggi di kota besar.

Ia akan lahir dari desa-desa yang: berdaya, mandiri, berkeadilan, dan bermartabat.

Qaryah Thayyibah adalah visi tentang desa yang tidak kehilangan akar spiritualnya, tetapi juga tidak tertinggal dalam kemajuan sosial-ekonomi.

Desa bukan masa lalu.
Desa adalah masa depan peradaban Indonesia.

Dan dari desa yang berdaya, lahirlah bangsa yang kuat. (emha)

Example 120x600