Scroll untuk baca artikel
Hikmah

HAKIKAT KETAATAN KEPADA RASUL DALAM CAHAYA AL-QUR’AN

2
×

HAKIKAT KETAATAN KEPADA RASUL DALAM CAHAYA AL-QUR’AN

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Penulis: syahida

Kajian Syahida: Menelusuri Makna Taat kepada Rasul Melalui Al-Qur’an Bil Al-Qur’an

Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia


Ketika Ketaatan Menjadi Perdebatan

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di kalangan umat Islam, tidak ada yang meragukan kewajiban untuk menaati Rasulullah. Perintah tersebut berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan menjadi bagian dari keimanan seorang Muslim.

Namun sebuah pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah hakikat ketaatan kepada Rasul menurut Al-Qur’an?

Apakah ketaatan itu ditujukan kepada pribadi rasul sebagai manusia? Ataukah kepada risalah yang beliau bawa dari Allah?

Untuk menjawabnya, Kajian Syahida menggunakan metode Al-Qur’an bil Al-Qur’an, yaitu memahami suatu tema dengan menghimpun dan menghubungkan seluruh ayat yang relevan sehingga Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.

Rasul Diutus untuk Menyampaikan Wahyu

Ketika Al-Qur’an menjelaskan misi para rasul, fokus utamanya selalu pada penyampaian ayat-ayat Allah.

Allah berfirman:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]: 129)

Ayat ini menunjukkan bahwa tugas utama rasul adalah:

  • Membacakan ayat-ayat Allah.
  • Mengajarkan Al-Kitab.
  • Membimbing manusia menuju penyucian diri.

Hal yang sama ditegaskan dalam ayat lain:

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)

Dengan demikian, Al-Qur’an memperlihatkan bahwa inti kerasulan adalah penyampaian wahyu Allah kepada manusia.

Mengapa Rasul Wajib Ditaati?

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (QS An-Nisa [4]: 59)

Perintah ini muncul berulang kali dalam Al-Qur’an. Namun Al-Qur’an juga menjelaskan alasan mengapa Rasul harus ditaati.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS An-Nisa [4]: 80)

Ayat ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara ketaatan kepada Rasul dan ketaatan kepada Allah.

Mengapa demikian?

Karena Rasul tidak menyampaikan sesuatu dari dirinya sendiri ketika menjalankan tugas kerasulannya.

Rasul Tidak Berbicara Menurut Hawa Nafsu

Allah menjelaskan:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (QS An-Najm [53]: 3-4)

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan fungsi kerasulannya, Nabi Muhammad menyampaikan wahyu Allah.

Karena itulah ketaatan kepada Rasul menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah.

Ketaatan tersebut bukan karena Rasul memiliki otoritas independen dari Allah, melainkan karena beliau membawa dan menyampaikan wahyu Allah.

Rasul Hanya Mengikuti Wahyu

Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa Rasul sendiri diperintahkan untuk mengikuti wahyu.

Allah berfirman:

قُلْ إِنِّي لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak pula mengatakan bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An’am [6]: 50)

Demikian pula:

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.”

(QS Al-A’raf [7]: 203)

Jika Rasul sendiri diperintahkan mengikuti wahyu, maka hakikat mengikuti Rasul tidak dapat dipisahkan dari mengikuti wahyu yang beliau ikuti.


Apa yang Harus Ditaati dari Rasul?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang jelas.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”

(QS Al-Maidah [5]: 67)

Dan:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.” (QS Al-An’am [6]: 19)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa yang dibawa Rasul kepada manusia adalah Al-Qur’an sebagai wahyu Allah.

Karena itu, ketaatan kepada Rasul selalu berkaitan dengan penerimaan terhadap risalah yang beliau sampaikan.

Rasul Tidak Memiliki Otoritas untuk Mengada-adakan Ajaran

Al-Qur’an bahkan memberikan ancaman yang sangat keras apabila seorang rasul mengatasnamakan Allah untuk sesuatu yang tidak berasal dari-Nya.

Allah berfirman:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ۝ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ۝ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian Kami potong urat jantungnya.” (QS Al-Haqqah [69]: 44-46)

Ayat ini menegaskan bahwa Rasul berada sepenuhnya di bawah otoritas wahyu Allah.

Beliau adalah penyampai risalah, bukan pembuat wahyu.

Mengapa Banyak Orang Mengaku Taat kepada Rasul tetapi Menjauh dari Al-Qur’an?

Salah satu ayat yang paling menggugah dalam Al-Qur’an adalah keluhan Rasul pada Hari Kiamat.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)

Ayat ini mengandung pesan yang mendalam.

Seseorang tidak dapat mengklaim mencintai dan menaati Rasul sambil mengabaikan kitab yang menjadi inti misi kerasulan beliau.

Karena Rasul diutus untuk menyampaikan Al-Qur’an, maka penghormatan terbesar kepada Rasul adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Ketaatan yang Melahirkan Cahaya

Allah menjelaskan tujuan diutusnya Rasul:

لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan menuju cahaya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)

Dengan demikian, ketaatan kepada Rasul bukanlah sekadar slogan, simbol, atau pengakuan lisan.

Ketaatan kepada Rasul adalah kesediaan untuk menerima, memahami, dan mengikuti petunjuk Allah yang dibawa beliau demi keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Mengikuti Rasul dengan Mengikuti Risalahnya

Kajian Al-Qur’an bil Al-Qur’an menunjukkan bahwa seluruh tugas kerasulan berporos pada penyampaian wahyu Allah. Rasul membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab-Nya, memperingatkan manusia dengan Al-Qur’an, dan mengajak mereka mengikuti petunjuk-Nya.

Karena itu, hakikat ketaatan kepada Rasul dalam cahaya Al-Qur’an adalah ketaatan kepada risalah yang beliau bawa dari Allah.

Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semakin dekat pula ia kepada misi Rasul. Dan semakin jauh seseorang dari Al-Qur’an, semakin jauh pula ia dari tujuan diutusnya Rasul.

Maka jika kita ingin membuktikan cinta dan ketaatan kepada Rasulullah, marilah kita mulai dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam berpikir, beribadah, bermuamalah, dan menjalani kehidupan. (syahida)

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Tag SEO: Ketaatan kepada Rasul, Taat kepada Allah dan Rasul, Kajian Syahida, Al-Qur’an bil Al-Qur’an, Misi Rasul dalam Al-Qur’an, Hakikat Rasul, QS An-Nisa 59, PPM Indonesia.

Example 120x600