Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Mengembalikan Kepada Allah dan Rasulnya

3
×

Mengembalikan Kepada Allah dan Rasulnya

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Penulis: syahida

JAKARTA.ppmindonesia.com- Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Bahkan di tengah umat beragama yang memiliki kitab suci yang sama, perselisihan tetap terjadi. Karena itu Allah memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang ke mana umat harus kembali ketika menghadapi perbedaan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS An-Nisa [4]: 59)

Ayat ini sering dijadikan dasar bahwa setiap persoalan harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadis. Namun, apakah memang demikian yang dijelaskan Al-Qur’an sendiri?

Kajian Syahida mengajak kita menelusuri seluruh ayat yang berbicara tentang tugas rasul, otoritas rasul, dan makna ketaatan kepada rasul, sehingga kesimpulan yang diperoleh benar-benar lahir dari Al-Qur’an itu sendiri.

Tugas Rasul Menurut Al-Qur’an

Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah: Apa sebenarnya tugas para rasul?

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang misi kerasulan, tema yang selalu muncul adalah penyampaian wahyu Allah.

Allah berfirman:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ…

“Dan ketika datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka…” (QS Al-Baqarah [2]: 101)

Tugas pertama rasul adalah membenarkan kitab yang telah ada.

Kemudian doa Nabi Ibrahim ketika memohon diutusnya seorang rasul:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ

“Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 129)

Perhatikan bahwa fungsi pertama yang disebut adalah membacakan ayat-ayat Allah.

Ayat lain menegaskan:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri sebelum Dia mengutus seorang rasul di pusat negeri itu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.” (QS Al-Qashash [28]: 59)

Juga firman-Nya:

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ

“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)

Bahkan ketika Nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan risalah, yang harus disampaikan adalah apa yang diturunkan Allah:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS Al-Maidah [5]: 67)

Demikian pula:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ

“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya.” (QS Al-An’am [6]: 19)

Dari seluruh ayat tersebut tampak bahwa misi para rasul berpusat pada satu hal:

Rasul bertugas menyampaikan, membacakan, menjelaskan, mengajarkan, dan mengingatkan manusia dengan ayat-ayat Allah.

Rasul Tidak Berwenang Membuat Ajaran dari Dirinya Sendiri

Al-Qur’an menolak anggapan bahwa seorang rasul memiliki otoritas membuat syariat berdasarkan kehendaknya sendiri.

Allah memberikan peringatan yang sangat keras:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ • لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ • ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian Kami potong urat jantungnya.” (QS Al-Haqqah [69]: 44-46)

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul Muhammad tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan sesuatu yang bukan berasal dari wahyu Allah.

Dengan demikian, seluruh otoritas kerasulan bersumber dari wahyu yang disampaikan, bukan dari pribadi rasul itu sendiri.

Apa Makna Taat kepada Rasul?

Jika tugas rasul adalah menyampaikan wahyu Allah, maka ketaatan kepada rasul sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada wahyu yang dibawanya.

Al-Qur’an menjelaskan:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa menaati rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”(QS An-Nisa [4]: 80)

Mengapa demikian?

Karena rasul tidak berbicara dari hawa nafsunya.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya. Ia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”(QS An-Najm [53]: 4)

Dalam konteks risalah, ketaatan kepada rasul adalah ketaatan kepada pesan Allah yang dibawa rasul.

Mengapa Harus Dikembalikan Kepada Allah dan Rasul?

Allah tidak mengatakan “kembalikan kepada ulama”, “kembalikan kepada nenek moyang”, atau “kembalikan kepada tradisi”.

Allah berfirman:

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.“(QS An-Nisa [4]: 59)

Bagaimana cara mengembalikannya kepada Allah?

Jawabannya tentu dengan merujuk kepada firman Allah.

Bagaimana cara mengembalikannya kepada rasul?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa rasul mengajak manusia mengikuti ayat-ayat Allah.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”(QS Al-A’raf [7]: 3)

Karena itu, mengembalikan perkara kepada Allah dan rasul berarti mengembalikan persoalan kepada wahyu Allah yang dibawa dan dijelaskan oleh rasul.

Apakah Misi Kerasulan Berakhir?

Sebagian kalangan berpendapat bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad, tidak ada lagi rasul.

Benar bahwa kenabian telah ditutup.

Allah berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”(QS Al-Ahzab [33]: 40)

Ayat ini secara tegas menyebut Muhammad sebagai penutup nabi-nabi (khatam an-nabiyyin).

Namun sebagian penafsir memahami bahwa ayat tersebut berbicara tentang penutupan kenabian, sedangkan keberlangsungan fungsi penyampai risalah dipahami melalui ayat-ayat lain seperti:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ

“Dan bagi setiap umat ada rasulnya.”(QS Yunus [10]: 47)

Serta:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan dengan bahasa kaumnya.”(QS Ibrahim [14]: 4)

Dalam kajian ini, ayat-ayat tersebut dipahami sebagai dasar bahwa Allah senantiasa menghadirkan penyampai risalah-Nya kepada manusia. Namun perlu dicatat bahwa mayoritas ulama Islam memahami istilah rasul dalam ayat-ayat tersebut sebagai para rasul yang diutus Allah pada masa-masa sebelumnya, dan bukan sebagai rasul baru setelah Nabi Muhammad. Karena itu, pembahasan ini berada dalam ranah ijtihad dan memerlukan kajian yang lebih mendalam.

Ciri Utama Pembawa Risalah Allah

Salah satu ciri yang berulang kali disebut Al-Qur’an adalah bahwa para rasul tidak meminta imbalan atas dakwah mereka.

Allah berfirman:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ

“Katakanlah: Aku tidak meminta upah kepada kamu atas hal itu.”(QS Al-Furqan [25]: 57)

Pesan Allah tidak boleh dijadikan komoditas untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Misi kerasulan adalah misi pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada manusia.

Penutup: Kembali kepada Al-Qur’an

Salah satu keluhan Rasul yang diabadikan Al-Qur’an adalah:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”(QS Al-Furqan [25]: 30)

Ayat ini menjadi peringatan bagi setiap generasi Muslim.

Perdebatan yang tidak berujung, fanatisme golongan, dan pertentangan pemikiran hanya dapat diselesaikan apabila umat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama.

Ketika Allah memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa tugas rasul adalah menyampaikan ayat-ayat Allah, mengajarkan Kitab-Nya, dan mengajak manusia mengikuti petunjuk-Nya.

Karena itu, jalan menuju persatuan dan kebenaran adalah menjadikan wahyu Allah sebagai hakim tertinggi dalam setiap urusan kehidupan. (syahida)

Example 120x600