Scroll untuk baca artikel
Editorial

Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural

2
×

Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural

Share this article

Redaksippmindonesia. Edirorial: asyary

EDITORIAL

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Indonesia sering dipuji sebagai salah satu bangsa paling religius di dunia. Masjid berdiri megah di setiap sudut kampung. Pengajian berlangsung hampir setiap hari. Ibadah haji dan umrah terus meningkat dari tahun ke tahun. Di ruang publik, simbol-simbol agama hadir begitu kuat dalam kehidupan masyarakat.

Namun di balik wajah religius itu, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: mengapa masyarakat yang sangat religius masih bergulat dengan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, korupsi, rendahnya produktivitas, dan ketergantungan sosial?

Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan agama dengan pembangunan ekonomi, melainkan mengajak kita melakukan muhasabah terhadap cara kita memahami agama itu sendiri.

Barangkali yang sedang kita hadapi bukanlah krisis agama, melainkan krisis paradigma dalam beragama.

Agama yang Berhenti pada Ritual

Selama ini, keberagamaan sering diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan. Kesalehan diidentikkan dengan rajin shalat, berpuasa, membaca Al-Qur’an, atau menghadiri majelis ilmu. Semua itu merupakan fondasi yang sangat penting.

Namun Al-Qur’an tidak pernah memisahkan iman dari amal saleh.

Lebih dari lima puluh kali Al-Qur’an menyandingkan kata “iman” dengan “amal saleh”. Ini menunjukkan bahwa iman yang sejati harus melahirkan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Agama yang hanya berhenti pada ritual akan melahirkan kesalehan individual, tetapi belum tentu melahirkan transformasi sosial.

Akibatnya, muncul paradoks yang kita saksikan hari ini: masyarakat semakin religius secara simbolik, tetapi belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan ekonomi, kesejahteraan bersama, dan tata kehidupan yang bermartabat.

Kemiskinan Kultural: Warisan Paradigma yang Perlu Dikoreksi

Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang bahwa salah satu akar persoalan bangsa bukan semata-mata kemiskinan material, melainkan “kemiskinan kultural”.

Kemiskinan kultural adalah keadaan ketika seseorang atau masyarakat memiliki potensi besar, tetapi tidak mampu mengembangkannya karena terkungkung oleh pola pikir yang membatasi.

Kemiskinan jenis ini sering ditandai oleh:

  • Budaya pasrah yang keliru,
  • Rendahnya keberanian mengambil risiko,
  • Ketergantungan terhadap bantuan,
  • Lemahnya etos produktivitas,
  • Pandangan bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang harus diterima tanpa ikhtiar untuk mengubahnya.

Padahal Islam justru mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah yang bertugas memakmurkan bumi, bukan sekadar menjadi penonton sejarah.

Kekeliruan Memahami Harta dan Perniagaan

Dalam sebagian tradisi dakwah, pembahasan tentang dunia usaha, kekayaan, perdagangan, dan investasi terkadang disampaikan secara tidak proporsional. Kekayaan sering dipersepsikan identik dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia, sementara kemiskinan dipandang sebagai simbol kesederhanaan atau bahkan kedekatan dengan nilai-nilai spiritual.

Pandangan seperti ini tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh ulama atau tradisi keilmuan Islam, tetapi perlu dikritisi apabila melahirkan sikap menjauhi ikhtiar ekonomi yang produktif.

Padahal Al-Qur’an berkali-kali mendorong manusia untuk:

  • Bekerja keras,
  • Berdagang secara jujur,
  • Mengelola bumi,
  • Memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab,
  • Dan membangun kesejahteraan bersama.

Bahkan banyak nabi adalah pelaku ekonomi. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pedagang yang amanah sebelum diangkat menjadi rasul. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang beretika adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada harta, tetapi pada cara memperoleh dan menggunakannya.

Paradigma Baru: Spiritualitas yang Produktif

PPM menawarkan paradigma bahwa religiusitas sejati tidak menjauhkan manusia dari kehidupan dunia, tetapi justru melahirkan tanggung jawab untuk memperbaikinya.

Shalat harus melahirkan disiplin.
Puasa harus melahirkan pengendalian diri.
Zakat harus melahirkan keadilan ekonomi.
Haji harus melahirkan kepemimpinan moral.

Dan tauhid harus melahirkan keberanian membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, serta ketidakadilan.

Spiritualitas yang benar adalah spiritualitas yang produktif.

Dari Mentalitas Pasrah Menuju Mentalitas Khalifah

Allah SWT berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.”(QS. Hud [11]: 61)

Ayat ini mengandung pesan bahwa manusia diperintahkan menjadi pemakmur bumi.

Maka bekerja, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, mengelola pertanian, membangun koperasi, mengembangkan wakaf produktif, hingga menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari amanah kekhalifahan.

Dalam perspektif PPM, dakwah masa depan harus melahirkan mentalitas khalifah, bukan mentalitas pasrah.

Qaryah Thayyibah: Jalan Keluar dari Kemiskinan Kultural

Konsep Qaryah Thayyibah yang dikembangkan PPM merupakan model pembangunan masyarakat berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.

Qaryah Thayyibah bukan hanya desa yang religius, tetapi desa yang:

  • Produktif ekonominya,
  • Adil tata kelolanya,
  • Kuat solidaritas sosialnya,
  • lestari lingkungannya,
  • Dan partisipatif kepemimpinannya.

Di dalamnya, agama menjadi energi pemberdayaan, bukan sekadar identitas.

Masjid menjadi pusat pendidikan masyarakat.
Koperasi menjadi sarana kemandirian ekonomi.
Gotong royong menjadi budaya pembangunan.
Dan kaderisasi menjadi investasi peradaban.

Membangun Teologi Pemberdayaan

PPM meyakini bahwa umat Islam tidak kekurangan ajaran tentang keadilan sosial dan kesejahteraan. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah membangun cara pandang yang mampu menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan transformasi sosial.

Teologi pemberdayaan tidak mengurangi pentingnya ibadah ritual, tetapi memperluas makna ibadah hingga mencakup seluruh aktivitas yang membawa kemaslahatan bagi manusia.

Bekerja adalah ibadah.
Memberdayakan masyarakat adalah ibadah.
Mengembangkan ekonomi rakyat adalah ibadah.
Menjaga lingkungan adalah ibadah.
Membangun desa adalah ibadah.

Dengan demikian, agama tidak lagi dipahami sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai kekuatan yang mengubah realitas.

Saatnya Melakukan Hijrah Paradigma

Krisis terbesar bangsa ini mungkin bukan kekurangan sumber daya alam atau lemahnya potensi manusia.

Krisis terbesar adalah ketika paradigma keberagamaan belum sepenuhnya melahirkan budaya produktif, inovatif, dan berkeadilan.

Sudah saatnya kita melakukan hijrah paradigma: dari agama yang hanya dipahami sebagai kewajiban ritual menuju agama sebagai kekuatan peradaban.

Dari mentalitas menerima nasib menuju mentalitas membangun masa depan.

Dari kemiskinan kultural menuju masyarakat yang mandiri, produktif, dan bermartabat.

Inilah semangat yang terus diperjuangkan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM)** melalui Teologi Pemberdayaan menghadirkan Islam sebagai energi transformasi menuju Qaryah Thayyibah, masyarakat yang adil, sejahtera, harmonis, dan diridhai Allah SWT.

Karena pada akhirnya, agama yang hidup bukanlah agama yang hanya dibicarakan, tetapi agama yang mampu menggerakkan manusia untuk memakmurkan bumi, memuliakan sesama, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.(ppmindonesia)

Example 120x600