Scroll untuk baca artikel
Editorial

Bangsa Religius, Mengapa Tetap Tertinggal?

5
×

Bangsa Religius, Mengapa Tetap Tertinggal?

Share this article

Redaksippmindonesi. Editor: Asyary

EDITORIAL PPM INDONESIA


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Indonesia sering disebut sebagai salah satu bangsa paling religius di dunia. Kehidupan keagamaan tumbuh subur. Masjid, gereja, pura, vihara, dan tempat-tempat ibadah berdiri di hampir setiap wilayah. Tradisi keagamaan hidup dalam denyut kehidupan masyarakat. Setiap tahun jutaan umat Islam melaksanakan ibadah haji dan umrah. Pengajian, majelis taklim, pesantren, dan lembaga pendidikan agama terus berkembang.

Namun, di balik wajah religius itu, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang layak menjadi bahan muhasabah bersama.

Mengapa bangsa yang begitu religius masih menghadapi ketertinggalan dalam banyak aspek kehidupan?

Mengapa kemiskinan masih tinggi, produktivitas relatif rendah, ketimpangan ekonomi melebar, korupsi belum sepenuhnya teratasi, kualitas pendidikan belum merata, sementara kekayaan alam Indonesia termasuk yang terbesar di dunia?

Pertanyaan ini bukanlah kritik terhadap agama. Justru sebaliknya, ini adalah kritik terhadap cara kita memahami dan mengimplementasikan agama dalam kehidupan sosial.

Religiusitas Tidak Otomatis Melahirkan Peradaban

Sejarah Islam menunjukkan bahwa ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW, perintah yang datang bukanlah membangun kekuasaan, melainkan membangun peradaban ilmu.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Perintah “Iqra’” adalah fondasi lahirnya masyarakat yang berpikir, meneliti, bekerja, berinovasi, dan membangun kehidupan.

Karena itu, religiusitas dalam Islam sesungguhnya bukan sekadar ritual, tetapi energi transformasi yang melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya, dan keadilan sosial.

Ketika agama hanya dipahami sebagai ritual tanpa melahirkan budaya ilmu dan produktivitas, maka agama kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang paling penting.

Paradoks Bangsa yang Kaya

Indonesia memiliki hampir seluruh prasyarat untuk menjadi negara maju.

Negeri ini memiliki:

  • tanah yang subur,
  • garis pantai terpanjang kedua di dunia,
  • cadangan mineral yang melimpah,
  • hutan tropis terbesar,
  • bonus demografi,
  • dan mayoritas penduduk yang memiliki semangat religius.

Namun berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kesejahteraan yang merata.

Persoalan utama ternyata bukan kekurangan sumber daya.

Persoalan terbesar justru terletak pada kualitas paradigma, kelembagaan, kepemimpinan, dan budaya produktivitas.

Ketika Agama Berhenti di Mimbar

Al-Qur’an selalu menghubungkan iman dengan amal saleh.

Lebih dari lima puluh kali kedua istilah tersebut disebut secara berpasangan.

Ini menunjukkan bahwa iman tidak pernah dimaksudkan berhenti sebagai keyakinan batin.

Iman harus melahirkan tindakan.

Shalat harus melahirkan disiplin.

Puasa harus melahirkan integritas.

Zakat harus melahirkan pemerataan ekonomi.

Haji harus melahirkan kepemimpinan yang melayani.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan, agama sering kali berhenti di ruang ibadah.

Ceramah semakin banyak.

Diskusi semakin ramai.

Namun budaya riset, inovasi, kewirausahaan, penguasaan teknologi, dan pembangunan ekonomi umat belum berkembang secepat perkembangan aktivitas ritual.

Ketertinggalan Berawal dari Krisis Paradigma

Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang bahwa salah satu akar persoalan umat adalah krisis paradigma.

Banyak masyarakat masih memandang pembangunan hanya sebagai tanggung jawab pemerintah.

Ekonomi dianggap sekadar urusan mencari nafkah.

Kemiskinan dipandang sebagai nasib yang harus diterima.

Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah.

Khalifah berarti subjek pembangunan.

Bukan objek.

Khalifah berarti pencipta perubahan.

Bukan penonton perubahan.

Paradigma inilah yang perlu dibangun kembali.

Kekhalifahan sebagai Etos Peradaban

Allah SWT berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dialah yang menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.”

(QS. Hud [11]: 61)

Ayat ini menjelaskan bahwa tugas manusia bukan sekadar menghuni bumi.

Tetapi memakmurkannya.

Memakmurkan bumi berarti:

  • Mengembangkan ilmu pengetahuan;
  • Membangun ekonomi yang adil;
  • Menciptakan lapangan pekerjaan;
  • Menjaga lingkungan hidup;
  • Memperkuat kelembagaan masyarakat; dan
  • Melahirkan inovasi yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Inilah makna kekhalifahan yang sesungguhnya.

Pendapat Para Tokoh

Ibnu Khaldun

Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan solidaritas sosial (ashabiyah), kualitas kepemimpinan, produktivitas ekonomi, dan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, peradaban akan melemah ketika masyarakat kehilangan semangat bekerja dan lebih menyukai kenyamanan daripada inovasi.

Prof. Kuntowijoyo

Melalui konsep Ilmu Sosial Profetik, Kuntowijoyo menegaskan bahwa agama harus melahirkan tiga misi besar:

  • humanisasi,
  • liberasi,
  • transendensi.

Agama tidak cukup mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membangun struktur sosial yang membebaskan manusia dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Prof. M. Dawam Rahardjo

Dawam Rahardjo berpendapat bahwa kebangkitan umat Islam hanya mungkin terjadi apabila ekonomi rakyat diperkuat melalui pendidikan, koperasi, pengembangan usaha produktif, dan pemberdayaan masyarakat.

Agama, menurutnya, harus menjadi sumber inspirasi pembangunan, bukan sekadar identitas budaya.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas

Al-Attas menegaskan bahwa krisis umat Islam pada dasarnya adalah krisis adab, yaitu hilangnya kemampuan menempatkan ilmu, kekuasaan, kekayaan, dan kehidupan secara proporsional.

Tanpa adab, ilmu kehilangan arah, ekonomi kehilangan etika, dan agama kehilangan daya transformasinya.

PPM dan Jalan Baru Kebangkitan Umat

Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) sejak awal berdiri mengembangkan paradigma bahwa dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran, tetapi harus diwujudkan dalam gerakan pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, PPM membangun pendekatan yang mengintegrasikan:

  • spiritualitas,
  • pendidikan,
  • ekonomi,
  • kelembagaan,
  • lingkungan,
  • dan kepemimpinan masyarakat.

Paradigma ini diwujudkan melalui konsep Qaryah Thayyibah, yaitu masyarakat yang:

  • kuat nilai spiritualnya,
  • produktif ekonominya,
  • adil tata sosialnya,
  • lestari lingkungannya,
  • dan mandiri kelembagaannya.

Qaryah Thayyibah bukan sekadar konsep pembangunan desa, tetapi model peradaban yang menghubungkan iman dengan kesejahteraan.

Dari Bangsa Religius Menuju Bangsa Berkemajuan

Menjadi bangsa religius adalah modal yang sangat besar.

Namun modal itu harus diubah menjadi energi pembangunan.

Religiusitas harus melahirkan:

  • budaya membaca;
  • budaya bekerja;
  • budaya berinovasi;
  • budaya kolaborasi;
  • budaya kewirausahaan;
  • budaya kejujuran;
  • dan budaya pelayanan.

Di sinilah agama menemukan relevansi sosialnya.

Bukan hanya membentuk manusia yang taat beribadah, tetapi juga membentuk masyarakat yang unggul dalam ilmu, ekonomi, dan peradaban.

Saatnya Melahirkan Peradaban Baru

Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya.

Tidak kekurangan ajaran agama.

Tidak kekurangan orang baik.

Yang masih kita perlukan adalah keberanian untuk mengubah paradigma.

Kita perlu bergerak dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial.

Dari simbol menuju substansi.

Dari ceramah menuju pemberdayaan.

Dari ketergantungan menuju kemandirian.

Dari kemiskinan kultural menuju masyarakat pembelajar.

Inilah panggilan besar Pusat Peranserta Masyarakat (PPM): membangun Teologi Pemberdayaan yang menjadikan agama sebagai energi perubahan, kekhalifahan sebagai tanggung jawab peradaban, dan Qaryah Thayyibah sebagai model masyarakat masa depan.

Karena ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa banyak rumah ibadah yang dibangun, melainkan seberapa jauh nilai-nilai agama berhasil melahirkan keadilan, kesejahteraan, ilmu pengetahuan, kemandirian, dan kemuliaan hidup bagi seluruh rakyatnya.

Bangsa religius tidak seharusnya menjadi bangsa yang tertinggal. Bangsa religius seharusnya menjadi bangsa yang memimpin peradaban. (syahida)

Example 120x600