Scroll untuk baca artikel
BeritaEditorial

Indonesia Tidak Kekurangan Potensi, tetapi Kekurangan Partisipasi

6
×

Indonesia Tidak Kekurangan Potensi, tetapi Kekurangan Partisipasi

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com. Editor: asyary

Mengubah Masyarakat dari Penonton Menjadi Pelaku Pembangunan

EDITORIAL PPMIndonesia

Indonesia sesungguhnya tidak pernah kekurangan potensi.

Tanahnya luas, lautnya membentang, hutannya menyimpan kekayaan hayati, pertaniannya menghasilkan pangan, desanya memiliki sumber daya, masyarakatnya memiliki pengetahuan dan pengalaman, sementara generasi mudanya tumbuh dengan kemampuan teknologi yang luar biasa.

Kita juga memiliki kekayaan budaya, tradisi gotong royong, keragaman komunitas, ribuan kelembagaan masyarakat, koperasi, UMKM, kelompok tani, kelompok nelayan, organisasi sosial, perguruan tinggi, serta berbagai kekuatan lokal yang sesungguhnya dapat menjadi energi besar pembangunan.

Namun ada pertanyaan yang perlu kita renungkan:

Mengapa dengan potensi sebesar itu, berbagai persoalan bangsa masih terus berulang?

Barangkali masalah terbesar kita bukan kekurangan potensi.

Kita kekurangan partisipasi.

Potensi yang Tidak Menjadi Kekuatan

Potensi tidak otomatis berubah menjadi kekuatan.

Tanah yang subur tidak otomatis membuat petani sejahtera.

Laut yang kaya tidak otomatis membuat nelayan makmur.

Desa yang memiliki sumber daya alam tidak otomatis menjadi desa mandiri.

Anak muda yang menguasai teknologi tidak otomatis menjadi penggerak perubahan.

Sebuah komunitas yang memiliki banyak orang pintar juga tidak otomatis mampu menyelesaikan persoalannya.

Potensi baru menjadi kekuatan ketika manusia mau mengambil bagian.

Di sinilah arti penting partisipasi masyarakat.

Partisipasi bukan sekadar hadir dalam sebuah pertemuan.

Bukan sekadar memberikan tanda tangan.

Bukan sekadar menghadiri kegiatan pemerintah.

Partisipasi berarti masyarakat ikut memikirkan, menentukan, melaksanakan, mengawasi, dan bertanggung jawab terhadap proses pembangunan.

Dengan kata lain:

Masyarakat tidak cukup menjadi penerima pembangunan. Masyarakat harus menjadi pelaku pembangunan

Terlalu Lama Rakyat Menjadi Penonton

Dalam banyak praktik pembangunan, masyarakat masih sering ditempatkan sebagai penerima manfaat.

Program dirancang.

Anggaran disiapkan.

Petunjuk teknis dibuat.

Kemudian masyarakat menjadi sasaran pelaksanaan.

Model seperti ini memang dapat menghasilkan kegiatan.

Tetapi belum tentu menghasilkan keberdayaan.

Sebab keberdayaan tidak lahir karena seseorang menerima sesuatu.

Keberdayaan lahir ketika seseorang memiliki kemampuan untuk menentukan sesuatu.

Masyarakat yang terus-menerus menerima akan mudah menjadi tergantung.

Sebaliknya, masyarakat yang diberi ruang untuk mengambil keputusan akan belajar bertanggung jawab.

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang:

dari memberi kepada memberdayakan;

dari memerintah kepada memfasilitasi;

dari menjadikan rakyat objek kepada menjadikan rakyat subjek.

Pembangunan Tidak Boleh Hanya Berasal dari Atas

Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan.

Negara harus hadir melalui kebijakan, regulasi, anggaran, infrastruktur, perlindungan hukum, pendidikan, dan pelayanan publik.

Tetapi negara tidak mungkin mengetahui seluruh persoalan masyarakat dari balik meja.

Ada persoalan yang hanya dapat dipahami ketika seseorang duduk bersama petani di sawah.

Ada persoalan yang baru terlihat ketika mendengar nelayan di pesisir.

Ada persoalan desa yang tidak tercatat dalam statistik.

Ada persoalan UMKM yang tidak terlihat dalam laporan ekonomi makro.

Ada persoalan anak muda yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan program formal.

Karena itu, pembangunan nasional harus memiliki kemampuan untuk mendengar suara dari bawah.

Pembangunan harus bergerak dari atas dan bawah secara bersamaan.

Kebijakan datang dari negara.

Pengetahuan dan pengalaman datang dari masyarakat.

Keduanya bertemu dalam proses dialog.

Kemudian lahirlah pembangunan yang lebih sesuai dengan kebutuhan nyata.

PPM dan Filosofi Peranserta

Di sinilah gagasan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menemukan relevansinya.

Peranserta bukan sekadar nama.

Ia adalah sebuah pandangan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk menjadi kekuatan perubahan.

PPM memandang pemberdayaan bukan sebagai proses “mengajari masyarakat” semata.

Pemberdayaan adalah proses membangun kesadaran, membuka ruang partisipasi, memperkuat kapasitas, membangun kelembagaan, dan menghubungkan masyarakat dengan berbagai sumber daya.

Kader tidak datang dengan membawa semua jawaban.

Kader datang untuk bertanya.

Kader mendengar.

Kader belajar.

Kader membantu masyarakat menemukan potensi yang selama ini mungkin belum terlihat.

Kader membantu menghubungkan potensi itu dengan kesempatan.

Kemudian masyarakat bergerak.

Inilah peranserta yang sesungguhnya.

Masyarakat Memiliki Pengetahuan

Ada satu hal yang sering dilupakan dalam pembangunan: masyarakat memiliki pengetahuan.

Petani mengetahui kapan tanah mulai kehilangan kesuburannya.

Nelayan mengetahui perubahan musim dan kondisi laut.

Masyarakat desa mengetahui sumber air yang mulai mengering.

Pedagang kecil mengetahui perubahan perilaku konsumennya.

Perempuan mengetahui persoalan keluarga dan komunitas yang kadang tidak terlihat dalam data resmi.

Anak muda memahami dunia digital dengan cara yang mungkin berbeda dari generasi sebelumnya.

Semua pengalaman itu adalah pengetahuan.

Karena itu, masyarakat tidak boleh diperlakukan seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Tugas pembangunan bukan menggantikan pengetahuan masyarakat.

Tugas pembangunan adalah mempertemukan pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan, teknologi, modal, kebijakan, dan jaringan yang lebih luas.

Dari Gotong Royong Menuju Kekuatan Ekonomi

Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa: gotong royong.

Namun gotong royong jangan hanya kita kenang sebagai budaya masa lalu.

Gotong royong harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi dan sosial masa kini.

Petani dapat membangun kelembagaan ekonomi bersama.

Pelaku UMKM dapat membangun jaringan pemasaran.

Masyarakat desa dapat mengembangkan potensi wisata.

Pemuda dapat membangun usaha berbasis teknologi.

Kelompok masyarakat dapat mengembangkan ekonomi sirkular.

Koperasi dapat menjadi instrumen ekonomi anggota.

Semua itu membutuhkan satu hal:

partisipasi.

Tanpa partisipasi, gotong royong hanya menjadi slogan.

Dengan partisipasi, gotong royong berubah menjadi kekuatan.

Koperasi Tidak Akan Hidup Tanpa Anggota yang Berpartisipasi

Kita dapat mendirikan koperasi dengan akta.

Kita dapat membangun kantor.

Kita dapat memilih pengurus.

Kita dapat membuat struktur organisasi.

Tetapi koperasi tidak akan hidup tanpa partisipasi anggota.

Koperasi pada hakikatnya bukan sekadar badan usaha.

Koperasi adalah organisasi ekonomi yang kekuatannya berada pada anggota.

Anggota harus mengetahui.

Anggota harus terlibat.

Anggota harus mengawasi.

Anggota harus menggunakan koperasinya.

Dan anggota harus merasakan manfaatnya.

Karena itu, membangun koperasi berarti membangun partisipasi ekonomi masyarakat.

Koperasi yang kuat bukan koperasi yang paling megah kantornya.

Koperasi yang kuat adalah koperasi yang hidup karena anggotanya.

Desa Tidak Kekurangan Potensi

Hal yang sama berlaku bagi desa.

Banyak desa sesungguhnya memiliki potensi yang luar biasa.

Ada hasil pertanian.

Ada perkebunan.

Ada sumber air.

Ada hutan.

Ada kerajinan.

Ada kuliner.

Ada budaya.

Ada wisata.

Ada pemuda.

Ada perempuan.

Ada pasar lokal.

Namun potensi tersebut sering berjalan sendiri-sendiri.

Masalahnya bukan tidak ada potensi.

Masalahnya adalah bagaimana potensi tersebut diorganisasi menjadi kekuatan bersama.

Di sinilah partisipasi menjadi penting.

Masyarakat harus duduk bersama dan bertanya:

Apa yang kita miliki?

Apa masalah kita?

Apa yang dapat kita kerjakan bersama?

Siapa yang memiliki kemampuan?

Siapa yang membutuhkan dukungan?

Bagaimana manfaatnya dibagikan secara adil?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pintu masuk pemberdayaan.

Anak Muda Jangan Hanya Menjadi Konsumen Perubahan

Partisipasi juga harus membuka ruang bagi generasi muda.

Anak muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai pengguna teknologi.

Mereka harus diberi kesempatan menjadi pencipta.

Menciptakan usaha.

Menciptakan inovasi.

Menciptakan gerakan sosial.

Membangun komunitas.

Mengembangkan desa.

Membuat teknologi yang menjawab persoalan masyarakat.

Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian.

Yang mereka perlukan adalah ruang.

Dan ruang tersebut harus diberikan oleh keluarga, masyarakat, organisasi, dunia usaha, dan pemerintah.

Jangan hanya berbicara tentang bonus demografi. Berikan ruang kepada generasi muda untuk mengambil bagian dalam pembangunan.

Partisipasi adalah Bentuk Demokrasi yang Paling Nyata

Demokrasi tidak seharusnya berhenti di bilik suara.

Demokrasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika warga dapat menyampaikan pendapat.

Ketika masyarakat ikut menentukan prioritas pembangunan.

Ketika kelompok kecil tidak diabaikan.

Ketika perempuan mendapatkan ruang.

Ketika anak muda didengar.

Ketika masyarakat dapat mengawasi penggunaan sumber daya publik.

Itulah demokrasi yang hidup.

Karena itu, partisipasi masyarakat sesungguhnya bukan hanya metode pembangunan.

Partisipasi adalah praktik demokrasi.

Semakin besar ruang partisipasi, semakin besar pula rasa memiliki masyarakat terhadap kehidupan bersama.

Dakwah Bil Hal: Partisipasi sebagai Pengabdian

Dalam perspektif PPM, peranserta masyarakat juga memiliki dimensi moral.

Nilai tidak cukup disampaikan dengan kata-kata.

Ia harus diwujudkan dalam tindakan.

Inilah semangat Dakwah Bil Hal.

Jika kita berbicara tentang kepedulian, maka kita harus hadir.

Jika berbicara tentang keadilan, maka kita harus memperjuangkannya.

Jika berbicara tentang kemandirian, maka kita harus memberdayakan.

Jika berbicara tentang gotong royong, maka kita harus bekerja bersama.

Dan jika berbicara tentang masyarakat yang berdaya, maka kita harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengambil keputusan atas kehidupannya sendiri.

Indonesia Membutuhkan Jutaan Pelaku Perubahan

Kita tidak mungkin menyerahkan seluruh masa depan Indonesia kepada pemerintah.

Kita juga tidak mungkin menyerahkan pembangunan kepada segelintir kelompok ekonomi.

Bangsa yang besar membutuhkan jutaan manusia yang bersedia mengambil bagian.

Petani yang menjaga pangan.

Guru yang mencerdaskan.

Pengusaha yang menciptakan lapangan kerja.

Pemuda yang berinovasi.

Perempuan yang menguatkan keluarga dan komunitas.

Tokoh masyarakat yang menjaga persaudaraan.

Aktivis yang memperjuangkan kepentingan publik.

Kader yang bekerja di tengah rakyat.

Semua memiliki ruang untuk mengambil bagian.

Itulah kekuatan Indonesia yang sesungguhnya.

Saatnya Mengubah Budaya “Menunggu”

Terlalu lama kita terbiasa menunggu.

Menunggu pemerintah.

Menunggu bantuan.

Menunggu program.

Menunggu investor.

Menunggu orang lain bergerak.

Padahal masyarakat memiliki kemampuan untuk memulai.

Sebuah kelompok tani dapat memulai dari lima orang.

Sebuah koperasi dapat dimulai dari kebutuhan beberapa anggota.

Sebuah gerakan lingkungan dapat dimulai dari beberapa keluarga.

Sebuah usaha sosial dapat dimulai dari satu gagasan.

Sebuah perubahan desa dapat dimulai dari satu pertemuan.

Yang penting bukan seberapa besar permulaannya.

Yang penting adalah ada yang mau mengambil peran.

Editorial PPMIndonesia.com

Karena itu, kami percaya bahwa salah satu pekerjaan besar Indonesia hari ini bukan hanya mengembangkan potensi.

Kita harus membangun budaya partisipasi.

Pemerintah perlu membuka ruang partisipasi yang nyata.

Masyarakat perlu meningkatkan keberanian mengambil peran.

Organisasi masyarakat perlu menjadi jembatan.

Dunia usaha perlu membangun kemitraan yang adil.

Perguruan tinggi perlu turun dari menara pengetahuan menuju ruang kehidupan masyarakat.

Dan gerakan sosial harus kembali menyentuh akar persoalan rakyat.

PPM memiliki pekerjaan sejarah di ruang ini.

Bukan untuk menggantikan pemerintah.

Bukan untuk mengambil alih masyarakat.

Tetapi untuk membantu masyarakat menemukan kekuatannya sendiri.

Karena masyarakat yang berdaya bukan masyarakat yang selalu menunggu.

Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang mampu mengambil keputusan, mengorganisasi kekuatan, dan bertindak untuk memperbaiki kehidupannya.

Penutup: Potensi Besar Menunggu Partisipasi

Indonesia tidak kekurangan tanah.

Tidak kekurangan laut.

Tidak kekurangan sumber daya alam.

Tidak kekurangan manusia cerdas.

Tidak kekurangan anak muda.

Tidak kekurangan desa yang memiliki potensi.

Tidak kekurangan komunitas yang memiliki semangat.

Yang sering kita kekurangan adalah partisipasi yang terorganisasi dan berkelanjutan.

Potensi yang tidak diorganisasi akan menjadi kekayaan yang menganggur.

Pengetahuan yang tidak diberi ruang akan menjadi pengalaman yang terpendam.

Anak muda yang tidak dilibatkan akan menjadi penonton.

Masyarakat yang tidak diberdayakan akan terus menunggu.

Maka pekerjaan kita bukan sekadar mencari potensi baru.

Pekerjaan kita adalah membangunkan potensi yang sudah ada.

Caranya adalah dengan membuka ruang.

Memberikan kepercayaan.

Membangun kelembagaan.

Menguatkan kapasitas.

Mendorong gotong royong.

Dan memastikan masyarakat menjadi bagian utama dari setiap perubahan.

Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang kita miliki.

Masa depan Indonesia ditentukan oleh seberapa banyak rakyatnya yang bersedia mengambil bagian.

Dari situlah peranserta menjadi pemberdayaan.

Dari pemberdayaan lahir kemandirian.

Dari kemandirian tumbuh masyarakat yang bermartabat.

Dan dari masyarakat yang berdaya itulah peradaban Indonesia dibangun.

Indonesia tidak kekurangan potensi.

Indonesia membutuhkan partisipasi.

Mari mengambil bagian.


PPMIndonesia.com

Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.

Example 120x600