Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Agama yang Diperebutkan, Tapi Jarang Dipahami

3
×

Agama yang Diperebutkan, Tapi Jarang Dipahami

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Kajian Syahida | PPMIndonesia.com


Agama sering diperebutkan sebagai identitas, tetapi justru jarang direnungkan sebagai jalan hidup yang harus diwujudkan dalam kenyataan.

Ketika Agama Menjadi Identitas

Agama adalah salah satu kata yang paling kuat pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Atas nama agama, manusia dapat membangun kasih sayang, solidaritas, pendidikan, dan peradaban. Namun atas nama agama pula, manusia terkadang terjebak dalam pertentangan, saling mengklaim kebenaran, bahkan melakukan kekerasan.

Pertanyaannya kemudian menjadi penting:

Apa sebenarnya yang sedang diperebutkan ketika manusia mengatakan sedang membela agama?

Apakah agama adalah nama kelompok?

Apakah agama adalah sekumpulan ritual?

Apakah agama adalah seperangkat simbol dan identitas?

Ataukah agama sebenarnya merupakan jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan seluruh kehidupan?

Untuk menjawabnya, kita tidak harus terlebih dahulu berangkat dari berbagai definisi manusia tentang agama. Kita dapat kembali kepada sumber utamanya: Al-Qur’an.

Inilah yang menjadi pendekatan Qur’an bil Qur’an dalam Kajian Syahida: membiarkan ayat-ayat Al-Qur’an saling menjelaskan sehingga pengertian suatu konsep tidak dibangun hanya berdasarkan satu ayat yang berdiri sendiri.

“Inna ad-Dīna ‘Indallāhil Islām”

Salah satu ayat yang paling sering dijadikan dasar untuk memahami agama adalah:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِـَٔايَٰتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa mengingkari ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Kalimat إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ — Inna ad-dīna ‘indallāhil Islām sering dipahami terutama sebagai penegasan identitas agama.

Namun jika ayat ini dibaca bersama ayat-ayat lainnya, kita menemukan sesuatu yang lebih mendalam.

Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang siapa yang disebut beragama, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan di bawah ketundukan kepada Allah.

Di sinilah kata dīn menjadi sangat penting.

Dīn: Lebih Luas daripada Sekadar Ritual

Dalam bahasa Al-Qur’an, dīn mempunyai cakupan makna yang luas. Ia dapat berkaitan dengan agama, ketundukan, aturan, hukum, maupun pertanggungjawaban.

Salah satu contoh yang sangat menarik terdapat dalam kisah Nabi Yusuf.

Ketika Yusuf hendak mempertahankan saudaranya agar tetap bersamanya, Al-Qur’an mengatakan:

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali jika Allah menghendakinya. Kami meninggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Yusuf [12]: 76)

Perhatikan ungkapan دِينِ الْمَلِكِ (dīnil-malik).

Dalam konteks ayat tersebut, dīn berkaitan dengan hukum atau aturan yang berlaku di lingkungan kekuasaan raja.

Ini memberi kita petunjuk penting: dalam penggunaan Qur’ani, dīn tidak selalu berbicara tentang ritual keagamaan.

Ada dimensi aturan dan tata kehidupan di dalamnya.

Karena itu, memahami dīn hanya sebagai aktivitas ritual akan membuat sebagian pesan Al-Qur’an menjadi terlalu sempit.

Agama Bukan Sekadar Apa yang Kita Lakukan di Tempat Ibadah

Al-Qur’an bahkan menggunakan kata dīn ketika berbicara tentang perilaku sosial.

Perhatikan Surah Al-Ma’un:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un [107]: 1–3)

Kemudian Al-Qur’an melanjutkan:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan.”
(QS. Al-Ma’un [107]: 4–7)

Ini adalah salah satu kritik Al-Qur’an yang paling tajam terhadap keberagamaan yang kehilangan substansi.

Ada orang yang melakukan ritual, tetapi pada saat yang sama mengabaikan anak yatim, tidak peduli kepada orang miskin, dan menolak memberikan bantuan kepada sesama.

Pesannya jelas:

Ritual yang tidak melahirkan kepedulian sosial kehilangan ruhnya.

Shalat Harus Mengubah Kehidupan

Al-Qur’an tidak menolak ritual. Justru ritual ditempatkan sebagai sarana pembentukan manusia.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan mengingat Allah itu lebih besar. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut [29]: 45)

Ayat ini memberikan ukuran yang sangat menarik.

Shalat bukan sekadar gerakan fisik yang dilakukan secara rutin. Shalat memiliki dampak moral: mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Dengan demikian, ritual dan kehidupan tidak boleh dipisahkan.

Ritual adalah pembentukan manusia; kehidupan adalah ruang pembuktiannya.

Islam: Nama atau Jalan Hidup?

Al-Qur’an kemudian membawa kita kepada konsep Islam:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُۥٓ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya telah berserah diri apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 83)

Ayat ini memperluas perspektif kita.

Islam bukan hanya persoalan nama yang melekat pada manusia. Al-Qur’an menggunakan konsep aslama untuk menggambarkan ketundukan kepada Allah.

Seluruh alam berjalan mengikuti ketetapan Allah.

Matahari memiliki orbitnya. Bulan memiliki peredarannya. Alam memiliki hukum-hukumnya.

Allah berfirman:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
(QS. Ar-Rahman [55]: 5)

Manusia diberi kemampuan memilih. Karena itu manusia mempunyai tanggung jawab moral yang lebih besar: apakah kebebasannya digunakan untuk mengikuti petunjuk Allah atau justru untuk menciptakan kerusakan?

Dīn yang Sama, Para Nabi yang Berbeda Zaman

Salah satu temuan penting dalam pembacaan Qur’an bil Qur’an adalah bahwa agama yang dibawa para nabi memiliki kesinambungan.

Allah berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.”
(QS. Asy-Syura [42]: 13)

Kata yang sangat penting dalam ayat ini adalah:

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ — an aqīmūd-dīn
“Tegakkanlah agama.”

Agama bukan hanya sesuatu yang dipercayai.

Agama juga sesuatu yang ditegakkan.

Kata “tegakkan” mengandung dimensi praksis. Nilai agama harus hadir dalam kehidupan nyata.

Karena itu, keberagamaan tidak berhenti pada keyakinan pribadi. Ia harus melahirkan tindakan yang mencerminkan nilai wahyu.

Mengapa Agama Sering Diperebutkan?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat manusiawi.

وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

“Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Perhatikan: persoalan tidak selalu terletak pada ketiadaan pengetahuan.

Al-Qur’an justru menyebut baghy—dorongan melampaui batas, kedengkian, atau kepentingan yang membuat manusia berselisih setelah pengetahuan datang.

Di sinilah agama dapat berubah menjadi identitas kelompok.

Ketika agama menjadi milik kelompok, manusia mulai berkata:

“Agamaku.”

Kemudian berubah menjadi:

“Kelompokku.”

Lalu:

“Kebenaranku.”

Pada tahap berikutnya, orang lain tidak lagi dilihat sebagai sesama manusia yang harus diperlakukan adil, tetapi sebagai pihak yang harus dikalahkan.

Padahal Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”
(QS. Al-Anfal [8]: 46)

Agama Tidak Diturunkan untuk Menjadi Alat Kesombongan

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak dimuliakan karena label kelompoknya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini mengingatkan bahwa identitas sosial—bangsa, suku, dan kelompok—bukan alasan untuk menyombongkan diri.

Maka identitas keagamaan pun seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan manusia lain.

Agama yang Dipahami Akan Melahirkan Keadilan

Jika agama adalah jalan hidup yang bersumber dari Allah, maka salah satu indikator keberhasilannya adalah lahirnya keadilan.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”
(QS. An-Nahl [16]: 90)

Maka agama yang dipahami secara Qur’ani seharusnya melahirkan:

iman yang melahirkan amanah,
ibadah yang melahirkan akhlak,
ilmu yang melahirkan kebijaksanaan,
kekuasaan yang melahirkan keadilan,
dan kekayaan yang melahirkan kepedulian.

Jika agama justru menghasilkan kesombongan, kebencian, ketidakadilan, dan permusuhan, kita patut bertanya: apakah yang sedang kita bela benar-benar agama, ataukah ego kelompok yang menggunakan agama?

Kesempurnaan Dīn Bukan Alasan untuk Berhenti Berpikir

Al-Qur’an menyatakan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)

Kesempurnaan dīn tidak berarti manusia telah sempurna memahami seluruh kandungan wahyu.

Justru sebaliknya.

Yang sempurna adalah petunjuk Allah; manusia tetap harus terus belajar memahaminya.

Karena itu, jangan sampai klaim bahwa “agama sudah sempurna” berubah menjadi alasan untuk menganggap pemahaman manusia tentang agama juga pasti sempurna.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Yusuf [12]: 76)

Ayat ini adalah pelajaran penting tentang kerendahan hati intelektual.

Dari Perebutan Identitas Menuju Penghayatan Nilai

Mungkin persoalan umat beragama hari ini bukan karena agama terlalu sedikit, melainkan karena agama terlalu sering berhenti pada identitas.

Kita sibuk mempertahankan nama, simbol, dan batas kelompok, tetapi kurang sibuk mempertanyakan apakah kehidupan kita sudah mencerminkan pesan Al-Qur’an.

Kita memperdebatkan siapa yang paling benar, tetapi lupa bertanya apakah kita sudah berlaku adil.

Kita memperbanyak ritual, tetapi kadang lupa kepada orang miskin.

Kita berbicara tentang kesucian agama, tetapi tidak selalu menjaga kesucian amanah.

Kita berbicara tentang Islam sebagai rahmat, tetapi kadang belum menghadirkan rahmat dalam kehidupan sosial.

Padahal Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Inilah salah satu ukuran penting keberagamaan: apakah kehadiran kita membawa rahmat atau justru menambah kerusakan?

Penutup: Jangan Hanya Membela Agama, Pahami Pesannya

Agama tidak membutuhkan manusia untuk menjadi pemilik kebenaran.

Manusialah yang membutuhkan agama untuk menemukan arah kehidupannya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan hanya:

“Apa agama saya?”

Tetapi:

“Apa yang agama tuntut dari kehidupan saya?”

Bukan hanya:

“Siapa yang paling benar?”

Tetapi:

“Apakah kebenaran yang saya yakini telah melahirkan keadilan?”

Bukan hanya:

“Apakah ritual saya sudah benar?”

Tetapi:

“Apakah ritual itu telah mengubah perilaku saya?”

Dan bukan hanya:

“Bagaimana mempertahankan identitas agama?”

Tetapi:

“Bagaimana menghadirkan nilai agama dalam kehidupan manusia?”

Dari perspektif Qur’an bil Qur’an, dīn tidak layak dipersempit menjadi sekadar label sosial atau ritual individual. Al-Qur’an memperlihatkannya sebagai agama, ketundukan kepada Allah, aturan kehidupan, dan jalan pertanggungjawaban manusia.

Islam bukan sekadar sesuatu yang diperebutkan.

Islam adalah sesuatu yang dipahami, dihayati, ditegakkan, dan diwujudkan dalam kehidupan.

Sebab pada akhirnya, agama bukan milik kelompok.

Agama adalah petunjuk dari Allah untuk manusia.

Dan tugas manusia bukan mengklaim memilikinya, melainkan menjadikan petunjuk itu hidup dalam dirinya dan bermanfaat bagi kehidupan.

Kajian Syahida | Qur’an bil Qur’an

Membaca Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, agar agama tidak berhenti sebagai identitas, tetapi hadir sebagai petunjuk kehidupan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

PPMIndonesia.com

Example 120x600