OPINI PPMIndonesia.
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada sebuah perubahan besar yang sedang berlangsung dalam dunia ekonomi.
Ukuran keberhasilan ekonomi tidak lagi semata-mata tentang berapa banyak barang yang diproduksi, berapa besar investasi yang masuk, atau berapa tinggi pertumbuhan ekonomi. Dunia mulai bergerak menuju sebuah paradigma baru: ekonomi yang mampu tumbuh tanpa menghancurkan lingkungan dan tanpa meninggalkan masyarakat.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai ekonomi hijau.
Ekonomi hijau bukan sekadar mengganti plastik dengan bahan ramah lingkungan. Bukan sekadar menanam pohon. Bukan pula sekadar memasang panel surya.
Ekonomi hijau adalah perubahan cara kita memproduksi, mengonsumsi, berinvestasi, mengelola sumber daya, dan membangun kesejahteraan.
Di tengah perubahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penting:
Di mana posisi koperasi?
Apakah koperasi hanya akan menjadi penonton ketika ekonomi hijau berkembang?
Ataukah koperasi justru dapat menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi hijau berbasis masyarakat?
Bagi Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), jawabannya jelas:
Koperasi harus menangkap peluang ekonomi hijau sejak sekarang.
Ekonomi Hijau Bukan Milik Perusahaan Besar
Ada anggapan bahwa ekonomi hijau hanya dapat dilakukan oleh perusahaan besar karena membutuhkan teknologi, modal dan investasi yang besar.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ekonomi hijau justru memiliki ruang yang sangat luas bagi masyarakat.
Petani dapat mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Peternak dapat mengembangkan energi dari limbah.
Nelayan dapat menjaga ekosistem pesisir.
Masyarakat desa dapat mengembangkan wisata berbasis alam.
UMKM dapat memproduksi barang dengan bahan baku ramah lingkungan.
Kelompok masyarakat dapat mengembangkan pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
Masyarakat dapat memulihkan hutan, lahan kritis dan mangrove.
Semua aktivitas tersebut memiliki nilai ekonomi.
Persoalannya adalah bagaimana potensi yang tersebar tersebut dihimpun menjadi kekuatan ekonomi yang memiliki skala, akses pasar, teknologi dan posisi tawar.
Di sinilah koperasi dibutuhkan.
Koperasi sebagai Rumah Ekonomi Hijau
Koperasi memiliki karakter yang sangat dekat dengan prinsip ekonomi hijau.
Koperasi dibangun atas dasar kebersamaan.
Ekonomi hijau membutuhkan tanggung jawab bersama.
Koperasi berorientasi pada kepentingan anggota.
Ekonomi hijau membutuhkan distribusi manfaat yang adil.
Koperasi tumbuh dari masyarakat.
Ekonomi hijau membutuhkan partisipasi masyarakat.
Karena itu, koperasi sesungguhnya mempunyai fondasi sosial yang kuat untuk menjadi rumah ekonomi hijau masyarakat.
Namun koperasi juga harus berani berubah.
Koperasi tidak boleh hanya berpikir tentang simpan pinjam.
Tidak cukup hanya menjadi tempat menghimpun modal anggota.
Koperasi harus mulai melihat lingkungan sebagai bagian dari aset ekonomi dan masa depan anggotanya.
Dari Koperasi Konvensional Menuju Koperasi Hijau
Koperasi hijau bukan berarti koperasi yang sekadar menggunakan istilah “green”.
Koperasi hijau adalah koperasi yang memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh kegiatan ekonominya.
Mulai dari produksi.
Pengadaan bahan baku.
Pengolahan.
Distribusi.
Pembiayaan.
Pemasaran.
Sampai pengelolaan limbah.
Koperasi pertanian dapat mengembangkan pertanian rendah emisi.
Koperasi peternakan dapat mengolah limbah menjadi biogas.
Koperasi nelayan dapat mengembangkan ekonomi pesisir berkelanjutan.
Koperasi desa dapat mengelola sampah menjadi sumber ekonomi.
Koperasi konsumen dapat memperluas pasar produk ramah lingkungan.
Koperasi produksi dapat mengembangkan produk dengan penggunaan energi dan bahan baku yang lebih efisien.
Dengan demikian, ekonomi hijau bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan koperasi.
Ekonomi hijau justru dapat dimulai dari aktivitas anggota koperasi sehari-hari.
Peluang Perdagangan Karbon
Salah satu peluang baru yang perlu mulai dipahami koperasi adalah perdagangan karbon.
Perdagangan karbon membuka kemungkinan munculnya nilai ekonomi dari aktivitas pengurangan atau penyerapan emisi.
Di Indonesia, peluang tersebut berkembang seiring dengan penguatan kebijakan Nilai Ekonomi Karbon.
Namun jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek dari pasar karbon.
Jika petani menjaga lahannya, masyarakat desa menjaga hutan, kelompok pesisir memulihkan mangrove, atau komunitas mengembangkan kegiatan yang mengurangi emisi, maka mereka harus memiliki ruang untuk memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut sesuai dengan hak, kontribusi, ketentuan hukum dan kesepakatan para pihak.
Koperasi dapat menjadi salah satu kelembagaan yang membantu mengorganisasi masyarakat.
Koperasi dapat menghimpun anggota.
Mengelola kegiatan.
Membantu pencatatan.
Mendukung pengukuran dan monitoring.
Membangun kemitraan.
Dan mengelola manfaat ekonomi secara kolektif dan transparan.
Dengan demikian, masyarakat tidak berhadapan sendiri dengan mekanisme pasar karbon yang kompleks.
Koperasi menjadi jembatan antara aset ekologis masyarakat dan peluang ekonomi hijau.
Jangan Hanya Menjual Karbon
Namun ada satu hal yang harus menjadi perhatian.
Jangan sampai ekonomi hijau direduksi menjadi sekadar menjual karbon.
Lingkungan memiliki nilai yang jauh lebih besar.
Hutan bukan hanya penyerap karbon.
Hutan adalah sumber air, pangan, keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat.
Mangrove bukan hanya aset karbon.
Mangrove adalah pelindung pesisir dan tempat berkembangnya kehidupan laut.
Lahan pertanian bukan hanya sumber penyerapan emisi.
Lahan pertanian adalah sumber pangan.
Karena itu, perdagangan karbon harus menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat perlindungan ekosistem, bukan alasan untuk mengabaikan fungsi ekologis dan sosial lainnya.
Karbon memiliki nilai ekonomi, tetapi lingkungan memiliki nilai kehidupan.
Dari Nilai Ekologis Menjadi Nilai Ekonomi Masyarakat
Tantangan koperasi ke depan adalah bagaimana mengubah potensi ekologis menjadi nilai ekonomi tanpa merusak sumber dayanya.
Bayangkan sebuah koperasi desa yang memiliki anggota petani.
Petani menerapkan pertanian berkelanjutan.
Limbah pertanian diolah.
Penggunaan bahan kimia dikurangi.
Pohon ditanam di sekitar lahan.
Produktivitas meningkat.
Jejak emisi berkurang.
Produk kemudian diberi nilai tambah dan dipasarkan sebagai produk ramah lingkungan.
Dalam skala tertentu, aktivitas tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi hijau.
Koperasi memperoleh nilai dari kegiatan ekonomi anggotanya.
Anggota memperoleh manfaat dari peningkatan produktivitas dan akses pasar.
Lingkungan mendapatkan perlindungan.
Konsumen memperoleh produk yang lebih berkelanjutan.
Terbentuk sebuah lingkaran ekonomi yang sehat.
Pembiayaan Hijau Harus Mendekat kepada Koperasi
Peluang ekonomi hijau tidak akan berkembang tanpa pembiayaan.
Koperasi membutuhkan modal untuk melakukan transformasi.
Mesin hemat energi membutuhkan investasi.
Pengelolaan sampah membutuhkan fasilitas.
Energi terbarukan membutuhkan modal awal.
Teknologi monitoring membutuhkan biaya.
Pengembangan produk hijau membutuhkan riset dan pemasaran.
Karena itu, akses koperasi terhadap green financing perlu diperkuat.
Bank, lembaga pembiayaan, pemerintah, dunia usaha dan investor perlu melihat koperasi bukan sekadar sebagai penerima kredit kecil.
Koperasi dapat menjadi agregator ekonomi masyarakat.
Satu koperasi dapat menghimpun ratusan bahkan ribuan anggota.
Artinya, pembiayaan melalui koperasi dapat sekaligus membiayai transformasi ekonomi masyarakat dalam skala yang lebih luas.
Generasi Muda dan Koperasi Hijau
Ada satu kekuatan yang tidak boleh dilupakan: generasi muda.
Ekonomi hijau sangat membutuhkan generasi yang memahami teknologi, data, pemasaran digital, inovasi dan kewirausahaan.
Koperasi harus menjadi ruang baru bagi anak muda.
Anak muda desa dapat menjadi pengelola platform digital koperasi.
Mereka dapat mengembangkan marketplace produk hijau.
Membangun sistem monitoring lingkungan.
Mengembangkan aplikasi pencatatan karbon.
Membuat konten pemasaran.
Mengembangkan desain produk.
Menghubungkan produk koperasi dengan pasar nasional bahkan global.
Jika koperasi mampu memberikan ruang kepada generasi muda, maka koperasi tidak lagi identik dengan kelembagaan ekonomi masa lalu.
Koperasi dapat menjadi laboratorium ekonomi masa depan.
Peranserta Masyarakat adalah Modal Utama
Pada akhirnya, ekonomi hijau tidak akan berhasil hanya karena adanya regulasi.
Tidak cukup dengan investasi.
Tidak cukup dengan teknologi.
Tidak cukup pula dengan perdagangan karbon.
Ada satu faktor yang menentukan keberlanjutan semuanya:
masyarakat.
Masyarakatlah yang berada di lapangan.
Masyarakatlah yang mengelola lahan.
Masyarakatlah yang menjaga sungai.
Masyarakatlah yang memelihara hutan.
Masyarakatlah yang menjalankan usaha.
Masyarakatlah yang merasakan dampak perubahan lingkungan.
Karena itu, ekonomi hijau harus dibangun dengan memperkuat peranserta masyarakat.
Dan koperasi dapat menjadi salah satu kendaraan kelembagaannya.
Inilah titik temu antara PPM, koperasi dan ekonomi hijau.
Peranserta masyarakat memberikan energi sosial.
Koperasi memberikan kelembagaan ekonomi.
Teknologi memberikan daya ungkit.
Dunia usaha memberikan akses pasar dan investasi.
Pemerintah memberikan kebijakan dan perlindungan.
Semuanya harus bergerak dalam satu ekosistem.
Jangan Menunggu Sampai Peluang Berlalu
Perubahan ekonomi global tidak menunggu kesiapan kita.
Pasar produk hijau terus berkembang.
Standar lingkungan semakin penting.
Konsumen semakin memperhatikan keberlanjutan.
Investasi mulai mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola.
Perdagangan karbon berkembang.
Energi bersih menjadi bagian dari agenda ekonomi.
Ekonomi sirkular semakin mendapat perhatian.
Pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi hijau akan datang.
Ekonomi hijau sedang datang.
Pertanyaannya adalah:
Apakah koperasi Indonesia akan menjadi pelaku atau hanya menjadi penonton?
Bagi PPM, jawabannya harus tegas.
Koperasi harus mulai memetakan aset ekologis anggotanya.
Mengidentifikasi peluang usaha hijau.
Meningkatkan kapasitas pengurus dan anggota.
Membangun kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi.
Mengembangkan teknologi digital.
Membuka akses pembiayaan hijau.
Dan yang paling penting, memastikan bahwa manfaat ekonomi hijau kembali kepada anggota dan masyarakat.
PENAS X: Membuka Percakapan Baru
Gagasan ini menjadi penting untuk dibawa ke ruang dialog yang lebih luas.
PENAS X PPM dapat menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan berbagai kekuatan: masyarakat, koperasi, pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan dan generasi muda.
Kita perlu membicarakan koperasi bukan hanya sebagai lembaga ekonomi rakyat, tetapi sebagai aktor dalam transformasi ekonomi hijau.
Kita perlu membicarakan bagaimana koperasi dapat masuk ke rantai nilai karbon.
Bagaimana UMKM dapat menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
Bagaimana petani dapat memperoleh manfaat dari praktik pertanian berkelanjutan.
Bagaimana desa dapat mengembangkan ekonomi berbasis aset ekologis.
Dan bagaimana peranserta masyarakat dapat menjadi modal utama dalam perubahan tersebut.
PENAS X harus menjadi ruang untuk melahirkan gagasan yang tidak berhenti di ruang seminar.
Gagasan harus berubah menjadi model.
Model harus berubah menjadi gerakan.
Gerakan harus menghasilkan manfaat.
Saatnya Koperasi Naik Kelas
Koperasi Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan ekonomi rakyat.
Tetapi sejarah saja tidak cukup.
Koperasi harus membaca masa depan.
Masa depan adalah ekonomi yang lebih hijau, lebih digital, lebih kolaboratif dan semakin memperhatikan keberlanjutan.
Karena itu, koperasi harus berani naik kelas:
dari koperasi simpan pinjam menjadi koperasi produktif;
dari koperasi produktif menjadi koperasi berbasis inovasi;
dari koperasi berbasis inovasi menjadi koperasi hijau;
dan dari koperasi hijau menjadi kekuatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Inilah momentum yang tidak boleh dilewatkan.
Indonesia memiliki masyarakat yang besar.
Memiliki sumber daya alam yang kaya.
Memiliki ribuan koperasi.
Memiliki generasi muda yang kreatif.
Dan memiliki potensi ekologis yang luar biasa.
Jika semua kekuatan tersebut dapat dihimpun dalam semangat gotong royong, maka ekonomi hijau tidak harus menjadi milik korporasi besar.
Ekonomi hijau dapat tumbuh dari desa.
Tumbuh dari koperasi.
Tumbuh dari UMKM.
Tumbuh dari petani.
Tumbuh dari masyarakat.
Dan pada akhirnya, ekonomi hijau yang kita bangun bukan hanya ekonomi yang rendah emisi.
Tetapi ekonomi yang menguatkan masyarakat, menjaga lingkungan, memperbesar kemandirian, dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih adil.
Saatnya koperasi menangkap peluang ekonomi hijau.
Bukan besok.
Tetapi sekarang.





























