“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di tengah perlambatan ekonomi, meningkatnya biaya hidup, dan semakin sempitnya kesempatan kerja, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Yang dibutuhkan adalah gerakan yang mampu membangkitkan kesadaran, membangun kapasitas, dan melahirkan kemandirian. Inilah esensi pemberdayaan.
Selama ini, banyak program ekonomi lahir dengan pendekatan yang bersifat proyek. Ketika anggaran habis, program pun berhenti. Ketika pendamping pergi, masyarakat kembali pada kondisi semula. Padahal, pemberdayaan sejati bukanlah menciptakan ketergantungan, melainkan menumbuhkan kemampuan masyarakat agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Di sinilah Gerakan Ekonomi Berjamaah (GEB) menemukan relevansinya.
Gerakan ini bukan sekadar mengajak masyarakat berwirausaha. Lebih dari itu, GEB berupaya membangun budaya saling menguatkan, saling membina, dan saling menolong dalam membangun usaha produktif. Filosofinya sederhana: keberhasilan seseorang harus menjadi jalan bagi keberhasilan orang lain.
Namun ekonomi tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu, Gerakan Ekonomi Berjamaah dibangun bersama dua pilar lainnya, yaitu Gerakan Sadar Bangsa (GSB) dan NaturAid Centre.
Gerakan Sadar Bangsa membangun kesadaran bahwa masyarakat harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan. NaturAid Centre mengingatkan bahwa manusia yang sehat adalah modal utama pembangunan. Sementara Gerakan Ekonomi Berjamaah menghadirkan instrumen agar kesadaran dan kesehatan tersebut menghasilkan kesejahteraan yang nyata.
Ketiga gerakan ini membentuk satu ekosistem pemberdayaan: membangun manusia, membangun keluarga, lalu membangun masyarakat.
Mengembalikan Fungsi Sosial Masjid
Salah satu gagasan penting dalam Gerakan Ekonomi Berjamaah adalah mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban.
Masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga tempat lahirnya pendidikan masyarakat, pelatihan keterampilan, pembinaan usaha mikro, koperasi jamaah, hingga penguatan solidaritas sosial.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pengembangan ekonomi umat.
Sudah saatnya semangat itu dihidupkan kembali dalam konteks Indonesia hari ini.
Memulai dari yang Kecil
Salah satu kelemahan masyarakat adalah menunggu modal besar sebelum memulai usaha. Akibatnya, banyak potensi yang tidak pernah berkembang.
Gerakan Ekonomi Berjamaah justru mengajarkan hal sebaliknya. Mulailah dari kemampuan yang dimiliki hari ini. Bangun usaha sederhana, tingkatkan keterampilan, dan tumbuhkan jejaring usaha secara bertahap.
Apabila ada anggota yang belum berhasil, ia tidak ditinggalkan. Pengalaman menjadi pelajaran bersama. Peralatan yang belum termanfaatkan dapat dialihkan kepada anggota lain sehingga aset tetap produktif dan risiko dapat ditekan.
Budaya seperti ini melahirkan rasa saling percaya, yang merupakan modal sosial paling berharga dalam membangun ekonomi masyarakat.
Dari Konsumen Menjadi Produsen
Salah satu tantangan terbesar bangsa ini adalah budaya konsumtif. Masyarakat lebih banyak membeli daripada menghasilkan.
Akibatnya, nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati pihak lain.
Gerakan Ekonomi Berjamaah mengajak masyarakat mengubah paradigma tersebut. Setiap keluarga didorong menjadi produsen, sekecil apa pun usahanya. Setiap komunitas didorong memiliki produk unggulan. Setiap masjid didorong menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Apabila ribuan komunitas melakukan hal yang sama, maka akan lahir jaringan ekonomi rakyat yang kuat, mandiri, dan saling menopang.
Dakwah Bil Hal sebagai Jalan Perubahan
PPM sejak awal meyakini bahwa dakwah bukan hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga melalui karya nyata. Dakwah bil hal adalah menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
Ketika masyarakat memperoleh pekerjaan, mampu mengembangkan usaha, hidup lebih sehat, dan saling menguatkan, di situlah nilai-nilai Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta.
Karena itu, Gerakan Ekonomi Berjamaah bukan sekadar program ekonomi. Ia adalah gerakan sosial, gerakan pendidikan, dan gerakan dakwah yang menempatkan manusia sebagai pelaku utama perubahan.
Penutup
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan masyarakat yang penuh semangat. Yang sering kali kurang bukanlah potensi, melainkan sistem yang mampu menghubungkan potensi-potensi tersebut menjadi kekuatan bersama.
Gerakan Sadar Bangsa, NaturAid Centre, dan Gerakan Ekonomi Berjamaah merupakan ikhtiar membangun ekosistem pemberdayaan yang berangkat dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah dan berjamaah.
Maka, jika kita menginginkan Indonesia yang lebih mandiri, lebih adil, dan lebih bermartabat, saatnya menjadikan masjid, keluarga, dan komunitas sebagai pusat kebangkitan ekonomi umat. Dari sanalah peradaban dibangun, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata. (Faishal Ishaq)





























