Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

BUKAN JUBAH, BUKAN GELAR: SIAPAKAH “ORANG BERILMU” YANG DIMULIAKAN AL-QUR’AN?

10
×

BUKAN JUBAH, BUKAN GELAR: SIAPAKAH “ORANG BERILMU” YANG DIMULIAKAN AL-QUR’AN?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an tentang Makna ‘Ilm, ‘Ulamā’, dan Ulū al-‘Ilm

PPMINDONESIA.COM | KAJIAN SYAHIDA


Pembuka

Ketika Al-Qur’an menyebut orang-orang yang berilmu, sering kali pikiran kita langsung tertuju kepada seseorang yang memiliki gelar keagamaan: ulama, syekh, ustaz, atau tokoh agama.

Tidak jarang pula ayat-ayat tentang ilmu dijadikan dasar untuk membangun penghormatan terhadap kelompok tertentu yang dianggap memiliki otoritas khusus atas agama.

Namun, benarkah demikian?

Apakah Al-Qur’an mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan jubah, gelar, sanad pendidikan, jabatan keagamaan, atau pengakuan suatu kelompok?

Ataukah Al-Qur’an mempunyai ukuran yang lebih mendasar tentang siapa yang disebut manusia berilmu?

Pertanyaan ini penting karena Al-Qur’an sendiri menggunakan berbagai istilah yang berasal dari akar kata ع ل م (‘ain-lam-mim), antara lain ‘ilm (pengetahuan), ‘ālim (orang yang mengetahui), ‘ulamā’ (orang-orang berilmu), ulū al-‘ilm (orang-orang yang memiliki ilmu), serta alladzīna ūtu al-‘ilm (orang-orang yang diberi ilmu).

Melalui pendekatan Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, istilah tersebut tidak langsung dipasangkan dengan kategori sosial tertentu. Maknanya ditelusuri melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang saling menjelaskan.

Dan dari pembacaan tersebut muncul sebuah kesimpulan penting:

Al-Qur’an tidak memuliakan ilmu karena gelarnya, tetapi karena kebenaran yang dikenali dan buah yang dilahirkannya dalam kehidupan.

ILMU DALAM AL-QUR’AN: PENGETAHUAN YANG MEMBAWA KEPADA KEBENARAN

Kata ‘ilm secara bahasa berkaitan dengan pengetahuan dan mengetahui. Namun, Al-Qur’an menunjukkan bahwa pengetahuan yang memiliki nilai tinggi bukan sekadar informasi yang tersimpan dalam pikiran.

Allah berfirman:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, sehingga mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.”

QS. Al-Hajj [22]:54

Perhatikan rangkaian ayat tersebut:

يَعْلَمَ — mengetahui

kemudian:

الْحَقُّ — kebenaran

kemudian:

فَيُؤْمِنُوا — mereka beriman

kemudian:

فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ — hati mereka tunduk.

Ini memberikan gambaran penting mengenai konsep ilmu dalam Al-Qur’an.

Ilmu yang benar membawa manusia mengenali kebenaran, beriman kepada kebenaran, dan menundukkan hati kepada Allah.

Maka, jika seseorang memiliki banyak pengetahuan tetapi pengetahuannya tidak membuatnya semakin dekat kepada kebenaran, adil, rendah hati, dan tunduk kepada Allah, Al-Qur’an mengajak kita untuk mempertanyakan nilai pengetahuan tersebut.

ORANG BERILMU MELIHAT WAHYU SEBAGAI KEBENARAN

Pola yang sama ditemukan dalam QS. Saba’ [34]:6:

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”

QS. Saba’ [34]:6

Sekali lagi terdapat pola:

ilmu → mengenali wahyu → mengetahui kebenaran → memperoleh petunjuk.

Ini penting.

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa orang berilmu adalah orang yang sekadar mengetahui banyak hal tentang agama.

Al-Qur’an justru menunjukkan fungsi ilmu: membuat seseorang mampu mengenali kebenaran.

Dengan demikian, ilmu bukan sekadar identitas. Ilmu adalah kemampuan melihat kebenaran dengan benar.

“ULŪ AL-‘ILM”: ORANG YANG BERSAKSI ATAS TAUHID DAN KEADILAN

Salah satu ayat yang paling penting dalam kajian ini adalah QS. Ali ‘Imran [3]:18:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

QS. Ali ‘Imran [3]:18

Di sini terdapat istilah:

أُولُو الْعِلْمِ

Ulū al-‘ilm

Artinya secara umum adalah orang-orang yang memiliki ilmu.

Tetapi ayat tersebut tidak berhenti pada istilah itu.

Allah langsung menghubungkannya dengan:

قَائِمًا بِالْقِسْطِ

qā’iman bil-qisṭ

“menegakkan keadilan.”

Ini sangat penting.

Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diketahui, tetapi juga apa yang dilakukan berdasarkan pengetahuan tersebut.

Orang yang memiliki ilmu dalam ayat ini berada dalam konteks kesaksian terhadap:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ

“Tidak ada tuhan selain Dia.”

Dan kesaksian tersebut terkait dengan:

الْقِسْطِ

“keadilan.”

Maka ilmu yang dimuliakan Al-Qur’an adalah ilmu yang berhubungan dengan tauhid dan keadilan.

APAKAH “ORANG BERILMU” IDENTIK DENGAN ULAMA?

Pertanyaan ini perlu dijawab secara hati-hati.

Al-Qur’an memang menggunakan istilah الْعُلَمَاءُ (al-‘ulamā’).

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

QS. Fāṭir [35]:28

Ayat ini sering diterjemahkan dengan kata “ulama”.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah:

Apa karakter al-‘ulamā’ menurut ayat itu?

Jawabannya diberikan langsung oleh Al-Qur’an:

يَخْشَى اللَّهَ

“takut kepada Allah.”

Jadi, karakter yang ditonjolkan Al-Qur’an bukan pakaian, gelar, jabatan, atau status sosial.

Karakter utamanya adalah khashyah—rasa takut dan kesadaran mendalam terhadap kebesaran Allah.

MENGAPA AYAT TENTANG ULAMA DIDAHULUI DENGAN TANDA-TANDA ALAM?

QS. Fāṭir [35]:27–28 sangat menarik jika dibaca secara utuh.

Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami menghasilkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung terdapat garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.”

QS. Fāṭir [35]:27

Kemudian:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak terdapat berbagai macam warna. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”

QS. Fāṭir [35]:28

Konteksnya menunjukkan bahwa “ilmu” berhubungan dengan kemampuan membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

Dengan kata lain, orang berilmu bukan hanya orang yang mempunyai informasi, tetapi orang yang mampu memahami tanda-tanda Allah dan menyadari kebesaran-Nya.

ILMU TANPA KETUNDUKAN BUKAN UKURAN KEMULIAAN

Al-Qur’an membedakan antara mengetahui dan tunduk kepada kebenaran.

Dalam QS. Al-Hajj [22]:54, orang-orang yang diberi ilmu:

فَيُؤْمِنُوا بِهِ

“lalu mereka beriman kepadanya”

dan:

فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

“hati mereka tunduk kepadanya.”

Dengan demikian, pengetahuan yang benar tidak berhenti pada pikiran.

Ia masuk ke dalam hati dan membentuk perilaku.

Inilah yang membedakan antara informasi dan ilmu yang bernilai Qur’ani.

ORANG YANG TIDAK BERILMU: MENGIKUTI HAWA NAFSU

Untuk memahami suatu istilah, Al-Qur’an juga dapat dibaca melalui lawannya.

Allah berfirman:

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti keinginannya tanpa pengetahuan. Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Mereka tidak mempunyai penolong.”

QS. Ar-Rum [30]:29

Di sini terdapat kontras:

بِغَيْرِ عِلْمٍ

“tanpa pengetahuan”

dengan:

أَهْوَاءَهُمْ

“hawa nafsu mereka.”

Maka salah satu ciri “tanpa ilmu” adalah mengikuti hawa nafsu tanpa dasar kebenaran.

Sebaliknya, ilmu yang benar seharusnya membebaskan manusia dari dominasi hawa nafsu dan mengarahkannya kepada kebenaran.

ORANG BERILMU TIDAK MENGADA-ADAKAN TENTANG ALLAH

Allah juga memperingatkan manusia agar tidak berbicara tentang Allah tanpa ilmu:

وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan agar kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

QS. Al-A‘raf [7]:33

Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting dalam kehidupan beragama:

Jangan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu.

Maka gelar keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk menganggap semua perkataan seseorang otomatis merupakan kebenaran.

Yang harus diuji adalah:

Apakah perkataan itu benar?

Apakah memiliki dasar?

Apakah sesuai dengan wahyu?

Apakah menghasilkan keadilan dan ketakwaan?

Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan sikap kritis sekaligus bertanggung jawab.

ILMU DAN HIKMAH: CONTOH YUSUF

Allah berfirman mengenai Nabi Yusuf:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Dan ketika dia telah dewasa, Kami memberinya kebijaksanaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

QS. Yusuf [12]:22

Ilmu diberikan bersama:

حُكْمًا

“kebijaksanaan/kemampuan menetapkan keputusan”

dan dikaitkan dengan:

الْمُحْسِنِينَ

“orang-orang yang berbuat baik.”

Ini kembali menunjukkan bahwa ilmu dalam Al-Qur’an tidak berdiri sendiri.

Ilmu → hikmah → ihsan.

ORANG BERILMU DAN KEADILAN

Kembali kepada QS. Ali ‘Imran [3]:18.

Ayat tersebut menghubungkan:

Tauhid

dengan

Ilmu

dan

Keadilan.

أُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

“orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan.”

Ini memberikan sebuah ukuran yang sangat mendasar.

Jika ilmu seseorang justru digunakan untuk membenarkan kezaliman, menyebarkan kebencian, membangun kesombongan, atau mempertahankan kepentingan kelompok tanpa keadilan, maka kita perlu bertanya:

Apakah itu yang dimaksud Al-Qur’an sebagai ilmu yang dimuliakan?

Al-Qur’an justru menghubungkan ilmu dengan al-qisṭ—keadilan.

LALU APA MAKSUD QS. AL-MUJĀDILAH [58]:11?

Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

QS. Al-Mujādilah [58]:11

Ayat ini sering dipahami sebagai dasar bahwa Allah meninggikan derajat para ulama.

Namun, teks ayat tidak menyebut:

“Allah meninggikan derajat para pemilik gelar keagamaan.”

Yang disebut adalah:

الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

“orang-orang yang diberi ilmu.”

Karena itu, ayat tersebut tidak tepat dijadikan dasar untuk membangun kesimpulan bahwa gelar tertentu otomatis membuat seseorang lebih mulia di hadapan Allah.

Kemuliaan itu berkaitan dengan iman dan ilmu.

Dan Al-Qur’an sendiri menjelaskan karakter ilmu melalui ayat-ayat lainnya.

APAKAH KATA “DAN” MEMISAHKAN IMAN DARI ILMU?

Dalam QS. 58:11 terdapat:

الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

“orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu.”

Huruf و (wa) memang berarti “dan”.

Tetapi keberadaan wa tidak otomatis berarti bahwa kedua kelompok tersebut secara mutlak terpisah.

Hubungan antara iman dan ilmu harus dilihat melalui keseluruhan Al-Qur’an.

Dan salah satu ayat yang sangat jelas adalah QS. Al-Hajj [22]:54:

فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

“lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya.”

Jadi, Al-Qur’an sendiri menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara mengetahui kebenaran dan beriman kepada kebenaran.

ILMU BUKAN MONOPOLI SEBUAH KELAS SOSIAL

Dari berbagai ayat tersebut, kita perlu berhati-hati dalam membedakan dua hal:

Pertama: ilmu sebagai kualitas manusia.

Ilmu adalah pengetahuan dan pemahaman terhadap kebenaran yang membawa kepada iman, ketundukan, keadilan, dan amal.

Kedua: ulama sebagai institusi atau kelompok sosial.

Dalam sejarah umat Islam, istilah ulama berkembang menjadi identitas sosial bagi orang-orang yang mendalami ilmu agama.

Institusi tersebut tentu memiliki fungsi penting dalam masyarakat.

Namun, pengertian sosial yang berkembang dalam sejarah tidak boleh secara otomatis diproyeksikan kembali ke setiap ayat Al-Qur’an yang menggunakan akar kata ‘ilm.

Di sinilah pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an menjadi penting.

Kita membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.

APAKAH BERARTI ULAMA TIDAK PENTING?

Tentu tidak demikian.

Kesimpulan kajian ini bukan untuk merendahkan ulama, guru, ustaz, syekh, atau siapa pun yang mendalami ilmu agama.

Masyarakat membutuhkan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam.

Yang perlu diluruskan adalah ukuran kemuliaan di hadapan Allah.

Gelar tidak otomatis menjadi bukti kebenaran.

Sebaliknya, tidak memiliki gelar juga tidak otomatis berarti seseorang tidak memiliki ilmu.

Ukuran Qur’ani lebih dalam:

iman, kebenaran, ketundukan, keadilan, ketakwaan, dan amal saleh.

Dengan demikian, kajian ini bukan anti-ulama.

Kajian ini justru mengajak kita kembali kepada ukuran Al-Qur’an terhadap ilmu dan orang berilmu.

TANDA-TANDA ORANG BERILMU MENURUT AL-QUR’AN

Jika ayat-ayat tersebut dirangkum, maka orang yang memiliki ilmu dalam perspektif Al-Qur’an memiliki sejumlah karakter.

1. Mengenali kebenaran

أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ

“bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhanmu.”
QS. 22:54

2. Beriman kepada kebenaran

فَيُؤْمِنُوا بِهِ

“lalu mereka beriman kepadanya.”
QS. 22:54

3. Hatinya tunduk

فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

“dan hati mereka tunduk kepadanya.”
QS. 22:54

4. Menegakkan keadilan

قَائِمًا بِالْقِسْطِ

“yang menegakkan keadilan.”
QS. 3:18

5. Memiliki rasa takut kepada Allah

يَخْشَى اللَّهَ

“takut kepada Allah.”
QS. 35:28

6. Tidak mengikuti hawa nafsu tanpa ilmu

بِغَيْرِ عِلْمٍ

“tanpa pengetahuan.”
QS. 30:29

7. Menghasilkan amal yang baik

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
QS. 12:22

Maka ilmu yang dimuliakan Al-Qur’an bukan sekadar ilmu yang diketahui, tetapi ilmu yang hidup dalam diri manusia.

KAJIAN SYAHIDA: ILMU YANG MENGUBAH MANUSIA

Jika seluruh ayat tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, terlihat sebuah pola:

ILMU

MENGENALI KEBENARAN

BERIMAN

HATI TUNDUK

TAKUT KEPADA ALLAH

MENEGAKKAN KEADILAN

BERAMAL SALEH

Inilah yang dapat disebut sebagai pola Qur’ani tentang ilmu.

Dengan pola tersebut, kita dapat memahami bahwa Al-Qur’an tidak memandang ilmu sebagai ornamen sosial.

Ilmu bukan sekadar sesuatu yang membuat seseorang tampak lebih tinggi di hadapan manusia.

Ilmu adalah amanah yang seharusnya membuat manusia semakin benar di hadapan Allah.

KESIMPULAN

Bukan Jubah. Bukan Gelar. Tetapi Kebenaran dan Ketundukan.

Al-Qur’an memang menggunakan istilah al-‘ulamā’, ulū al-‘ilm, dan alladzīna ūtu al-‘ilm.

Tetapi ketika ayat-ayat tersebut dibaca secara keseluruhan, Al-Qur’an tidak memberikan ukuran kemuliaan berdasarkan pakaian, gelar, jabatan, institusi, atau pengakuan sosial.

Yang ditekankan adalah:

mengetahui kebenaran, beriman kepadanya, menundukkan hati kepada Allah, menegakkan keadilan, memiliki rasa takut kepada-Nya, dan membuktikan ilmu melalui amal.

Karena itu, pertanyaan paling penting bukan:

“Siapa yang bergelar ulama?”

Melainkan:

“Siapa yang ilmunya membuat ia mengenal kebenaran, tunduk kepada Allah, dan menegakkan keadilan?”

Sebab menurut ukuran Al-Qur’an, ilmu yang sejati bukanlah yang membuat manusia merasa paling tinggi di antara manusia, tetapi yang membuatnya semakin rendah hati di hadapan kebenaran.

Dan mungkin inilah pesan paling mendalam dari ayat:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fāṭir [35]:28

KOTAK RENUNGAN — KAJIAN SYAHIDA

“Ilmu yang dimuliakan Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya yang diketahui, melainkan kebenaran yang dikenali, iman yang dilahirkan, keadilan yang ditegakkan, dan ketundukan kepada Allah yang diwujudkan.”

Example 120x600