Ayat yang Sering Dikutip, Tetapi Jarang Dikaji Secara Menyeluruh
Dalam berbagai diskusi keislaman, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat, satu ayat hampir selalu dikutip sebagai rujukan utama:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS An-Nisa [4]: 59)
Ayat ini menjadi fondasi penting dalam penyelesaian perselisihan. Namun muncul pertanyaan mendasar: Apa yang dimaksud Al-Qur’an dengan “kembali kepada Allah dan Rasul”?
Apakah yang dimaksud adalah kembali kepada pribadi Rasul? Ataukah kembali kepada sesuatu yang dibawa dan disampaikan oleh Rasul?
Untuk menjawabnya, kita perlu membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.
Kembali kepada Allah Berarti Kembali kepada Wahyu-Nya
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.
Allah berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”m (QS Al-Isra [17]: 9)
Dan firman-Nya:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan bagi segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”,(QS An-Nahl [16]: 89)
Karena Allah tidak berbicara langsung kepada manusia secara umum, maka kembali kepada Allah berarti kembali kepada petunjuk yang Dia turunkan.
Dengan kata lain, kembali kepada Allah berarti kembali kepada wahyu-Nya.
Lalu Apa Makna Kembali kepada Rasul?
Untuk memahami makna kembali kepada Rasul, Al-Qur’an mengajarkan kita terlebih dahulu memahami fungsi seorang rasul.
Allah berfirman:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 129)
Ayat ini menunjukkan bahwa tugas utama rasul adalah:
- Membacakan ayat-ayat Allah.
- Mengajarkan Al-Kitab.
- Membimbing manusia menuju penyucian diri.
Hal yang sama ditegaskan kembali:
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ
“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)
Dengan demikian, pusat misi kerasulan adalah penyampaian wahyu Allah.
Rasul Tidak Membawa Otoritas dari Dirinya Sendiri
Al-Qur’an berulang kali menjelaskan bahwa Rasul tidak berbicara atas dasar kehendaknya sendiri dalam urusan risalah.
Allah berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (QS An-Najm [53]: 3–4)
Bahkan Rasul sendiri diperintahkan untuk mengikuti wahyu yang diterimanya.
قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.”
(QS Al-A’raf [7]: 203)
Dan:
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An’am [6]: 50)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Rasul tidak bertindak sebagai sumber petunjuk yang berdiri sendiri. Beliau mengikuti wahyu Allah dan menyampaikannya kepada manusia.
Mengapa Taat kepada Rasul Sama dengan Taat kepada Allah?
Allah menjelaskan hubungan tersebut secara sangat tegas.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS An-Nisa [4]: 80)
Mengapa demikian?
Karena Rasul membawa pesan Allah, bukan pesan pribadinya.
Maka ketika seseorang menerima petunjuk yang disampaikan Rasul, sesungguhnya ia sedang menerima petunjuk Allah.
Ketaatan kepada Rasul bukanlah ketaatan yang terpisah dari Allah, melainkan jalan menuju ketaatan kepada Allah.
Apa yang Harus Dikembalikan Ketika Terjadi Perselisihan?
Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan kembali kepada Allah dan Rasul, tetapi juga menjelaskan instrumen yang digunakan Rasul dalam memberikan peringatan.
Allah berfirman:
وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.” (QS Al-An’am [6]: 19)
Perhatikan bahwa Rasul diperintahkan memberi peringatan dengan Al-Qur’an.
Karena itu, ketika terjadi perselisihan, jalan yang ditunjukkan Al-Qur’an adalah mengembalikan persoalan kepada petunjuk Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjelaskan Perkara yang Diperselisihkan
Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Naml [27]: 76)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu fungsi utama Al-Qur’an adalah menjadi penjelas dan hakim bagi perkara-perkara yang diperdebatkan manusia.
Karena itu, semakin jauh manusia dari Al-Qur’an, semakin besar kemungkinan perselisihan berkembang tanpa penyelesaian yang jelas.
Keluhan Rasul yang Menggetarkan
Ketika Al-Qur’an menggambarkan keadaan pada Hari Kiamat, terdapat satu keluhan Rasul yang sangat menyentuh.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)
Ayat ini memberi pesan mendalam bahwa hubungan umat dengan Rasul tidak dapat dipisahkan dari hubungan mereka dengan Al-Qur’an.
Rasul tidak mengeluhkan kurangnya penghormatan kepada dirinya, tetapi ditinggalkannya Al-Qur’an yang menjadi inti risalahnya.
Penutup: Jalan Kembali yang Ditunjukkan Al-Qur’an
Melalui kajian ayat-ayat Al-Qur’an secara tematik, tampak bahwa perintah untuk “kembali kepada Allah dan Rasul” bukanlah perintah yang berdiri tanpa penjelasan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah memberikan petunjuk melalui wahyu-Nya, sementara Rasul diutus untuk membacakan, mengajarkan, dan menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia.
Karena itu, ketika perselisihan muncul, jalan yang ditunjukkan Al-Qur’an adalah kembali kepada petunjuk Allah yang dibawa oleh Rasul-Nya.
Semakin dekat umat kepada Al-Qur’an, semakin dekat mereka kepada tujuan kerasulan. Sebaliknya, ketika Al-Qur’an ditinggalkan, perselisihan akan semakin sulit menemukan titik temu.
Maka pertanyaan penting bagi setiap muslim bukan hanya, “Siapa yang benar?”, melainkan juga, “Sudahkah kita benar-benar kembali kepada Allah dan Rasul sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an?” Wallāhu a‘lam bish-shawāb.(syahida)





























