Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

PPM dan Visi Indonesia Emas 2045

3
×

PPM dan Visi Indonesia Emas 2045

Share this article

Redaksi PPMIndonesia.com, Editor; asyary

OPINI PPMIndonesia


Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Indonesia telah menetapkan sebuah cita-cita besar: Indonesia Emas 2045. Pada satu abad kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa ini diharapkan menjadi negara maju, berdaulat, adil, makmur, serta mampu berdiri sejajar dengan negara-negara terkemuka dunia.

Berbagai dokumen perencanaan nasional menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, transformasi ekonomi, penguasaan teknologi, serta tata kelola pemerintahan yang baik.

Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang akan menjadi pelaku utama menuju Indonesia Emas 2045?

Apakah pembangunan cukup diserahkan kepada negara? Apakah kemajuan hanya ditentukan oleh investasi, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi?

Bagi Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), jawabannya tidak sesederhana itu. Indonesia Emas hanya dapat diwujudkan apabila rakyat menjadi pelaku utama pembangunan. Karena itu, peranserta masyarakat bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan fondasi bagi lahirnya peradaban Indonesia yang maju.

Indonesia Emas Bukan Sekadar Pertumbuhan Ekonomi

Keberhasilan sebuah bangsa tidak cukup diukur dari besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) atau tingginya investasi. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan secara luas, memperkuat keadilan sosial, menjaga lingkungan hidup, dan membangun manusia yang berintegritas.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kemakmuran harus selalu berjalan bersama keadilan.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”(QS. An-Nahl [16]: 90)

Karena itu, visi Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan moral, sosial, ekonomi, dan budaya yang saling menguatkan.

PPM: Membangun dari Akar Rumput

Sejak berdirinya pada tahun 1985, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) mengembangkan keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari masyarakat. Negara yang kuat lahir dari desa yang kuat. Bangsa yang maju lahir dari warga yang berdaya.

PPM menempatkan masyarakat bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk merencanakan, melaksanakan, dan menikmati hasil pembangunan.

Karena itu, pendekatan pemberdayaan menjadi ciri utama gerakan PPM.

Pemberdayaan berarti membangun kapasitas manusia, memperkuat kelembagaan masyarakat, membuka akses ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, serta menumbuhkan kepemimpinan yang melayani.

Teologi Pemberdayaan sebagai Fondasi

Bagi PPM, pembangunan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan cara pandang terhadap manusia.

Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi.

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Kekhalifahan berarti manusia diberi amanah untuk memakmurkan bumi, mengelola sumber daya secara bertanggung jawab, menciptakan keadilan, dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Dari sinilah lahir konsep Teologi Pemberdayaan, yaitu pemahaman bahwa iman tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus melahirkan transformasi sosial.

Shalat membangun disiplin.

Puasa menumbuhkan empati.

Zakat menghadirkan pemerataan.

Ilmu melahirkan inovasi.

Kerja menjadi bagian dari ibadah.

Pemberdayaan menjadi wujud nyata kekhalifahan.

Qaryah Thayyibah: Miniatur Indonesia Emas

PPM menawarkan konsep Qaryah Thayyibah sebagai model pembangunan masyarakat.

Qaryah Thayyibah bukan sekadar desa yang maju secara ekonomi, tetapi komunitas yang mampu mengintegrasikan nilai spiritual, keadilan sosial, produktivitas ekonomi, kelestarian lingkungan, dan budaya gotong royong.

Dalam Qaryah Thayyibah:

  • Masjid menjadi pusat pembinaan umat dan pemberdayaan masyarakat;
  • Koperasi menjadi penggerak ekonomi rakyat;
  • pendidikan melahirkan generasi yang berilmu dan berkarakter;
  • Pertanian dan usaha produktif menjadi sumber kemandirian ekonomi;
  • Lingkungan dijaga sebagai amanah Allah;
  • Musyawarah menjadi dasar pengambilan keputusan.

Jika ribuan desa di Indonesia berkembang menjadi Qaryah Thayyibah, maka Indonesia Emas tidak lagi menjadi slogan, tetapi kenyataan.

Tantangan Indonesia Menuju 2045

Indonesia memiliki bonus demografi yang besar. Namun bonus ini dapat berubah menjadi beban apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia.

Beberapa tantangan yang masih dihadapi antara lain:

  • Ketimpangan ekonomi;
  • Kemiskinan kultural;
  • Rendahnya produktivitas;
  • Kerusakan lingkungan;
  • LEmahnya literasi;
  • Ketergantungan terhadap komoditas mentah; dan
  • Melemahnya budaya gotong royong.

Karena itu, pembangunan harus berorientasi pada penguatan manusia, bukan hanya pada pembangunan infrastruktur.

Pendapat Para Tokoh

Prof. Kuntowijoyo

Melalui gagasan Ilmu Sosial Profetik, Kuntowijoyo menegaskan bahwa agama harus menjadi kekuatan yang memanusiakan manusia (humanisasi), membebaskan dari kemiskinan dan ketidakadilan (liberasi), serta menghubungkan seluruh aktivitas pembangunan dengan nilai-nilai ketuhanan (transendensi). Gagasan ini sejalan dengan visi PPM yang memandang pemberdayaan sebagai bagian dari misi keagamaan.

Prof. M. Dawam Rahardjo

Dawam Rahardjo menekankan bahwa pembangunan nasional harus bertumpu pada ekonomi rakyat, koperasi, pendidikan, dan penguatan kelembagaan masyarakat. Menurutnya, kemajuan bangsa hanya akan berkelanjutan apabila masyarakat memiliki akses yang adil terhadap sumber daya dan kesempatan.

Prof. Emil Salim

Ekonom dan negarawan ini berulang kali mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan keberlanjutan ekologis agar kesejahteraan dapat dinikmati lintas generasi.

Peranserta Masyarakat sebagai Kekuatan Bangsa

Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kemajuan tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari kekuatan masyarakat sipil.

PPM meyakini bahwa organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam:

  • Membangun kepemimpinan lokal;
  • Memperkuat ekonomi berbasis komunitas;
  • Meningkatkan kualitas pendidikan;
  • Mengembangkan kewirausahaan sosial;
  • Membangun budaya gotong royong; dan
  • Memperkuat demokrasi partisipatif.

Di sinilah makna “peranserta masyarakat” menjadi sangat penting. Masyarakat bukan penerima manfaat pembangunan, tetapi pencipta masa depan bangsa.

Indonesia Emas Dimulai dari Perubahan Paradigma

Indonesia Emas tidak akan tercapai hanya dengan membangun jalan tol, kawasan industri, atau gedung-gedung pencakar langit.

Yang lebih penting adalah membangun manusia Indonesia yang:

  • Beriman dan berintegritas;
  • Produktif dan inovatif;
  • Mandiri namun mampu bekerja sama;
  • Mencintai ilmu pengetahuan;
  • Peduli terhadap lingkungan;
  • serta memiliki keberanian untuk menciptakan perubahan.

Perubahan tersebut dimulai dari keluarga, sekolah, masjid, desa, dan komunitas.

Di sinilah PPM memposisikan diri sebagai gerakan pemberdayaan yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.

Indonesia Emas adalah Gerakan Bersama

Indonesia Emas 2045 bukan semata target pemerintah. Ia adalah proyek peradaban seluruh bangsa.

PPM percaya bahwa cita-cita tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan bertumpu pada tiga kekuatan utama: nilai spiritual yang membentuk karakter, pemberdayaan masyarakat yang membangun kemandirian, dan keadilan sosial yang memastikan setiap warga memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

Ketika nilai-nilai kekhalifahan diwujudkan melalui gerakan pemberdayaan, ketika gotong royong kembali menjadi budaya, ketika desa menjadi pusat inovasi, dan ketika agama menjadi energi transformasi sosial, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi bangsa yang berkeadaban.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar tentang menjadi bangsa yang kaya. Indonesia Emas adalah tentang menjadi bangsa yang adil, bermartabat, berdaya, dan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Di situlah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menempatkan panggilan sejarahnya: membangun manusia, memberdayakan masyarakat, dan meneguhkan jalan menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. (ppmindonesia)

Example 120x600