Membaca kembali perselisihan keagamaan melalui Qur’an bil Qur’an dalam Perspektif Kajian Syahida
Ketika Perbedaan Menjadi Pertikaian
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Perbedaan dalam memahami agama merupakan kenyataan sejarah umat manusia. Perbedaan penafsiran, metode berpikir, tradisi intelektual, dan pengalaman sejarah telah melahirkan berbagai mazhab dan aliran.
Perbedaan itu sendiri bukan selalu persoalan.
Persoalan muncul ketika perbedaan berubah menjadi pertikaian, ketika identitas kelompok menjadi lebih penting daripada pesan wahyu, dan ketika seseorang merasa bahwa kebenaran hanya mungkin berada di dalam kelompoknya sendiri.
Pada titik inilah Al-Qur’an mengajak manusia kembali kepada sumber yang lebih fundamental.
Bukan kembali kepada fanatisme kelompok.
Bukan pula mempertentangkan satu tradisi dengan tradisi lainnya.
Melainkan kembali kepada wahyu Allah sebagai petunjuk bagi manusia.
Al-Qur’an menyatakan:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS Al-An‘am [6]: 153)
Ayat ini menarik karena berbicara tentang ṣirāṭī mustaqīman—jalan-Ku yang lurus—dan memperingatkan manusia agar tidak mengikuti jalan-jalan yang menyebabkan perpecahan.
Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, ayat ini perlu dibaca bersama ayat-ayat lain yang berbicara mengenai persatuan, pertikaian, fanatisme kelompok, dan ukuran kebenaran.
Jalan Lurus Bukan Nama Kelompok
Salah satu persoalan mendasar dalam konflik keagamaan adalah kecenderungan mengidentikkan kebenaran dengan nama kelompok.
“Kelompok kami benar.”
“Kelompok mereka sesat.”
“Tradisi kami paling murni.”
“Pemahaman kami paling sah.”
Padahal Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS Al-An‘am [6]: 159)
Ayat tersebut tidak sedang memberikan legitimasi kepada satu kelompok untuk menghakimi kelompok lain.
Justru ayat itu menjadi cermin bagi semua kelompok.
Pertanyaannya bukan:
“Kelompok mana yang paling benar?”
Tetapi:
“Apakah identitas kelompok telah membuat agama terpecah menjadi sekat-sekat?”
Ini merupakan pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Al-Qur’an Memperingatkan: Jangan Berselisih
Al-Qur’an bahkan menghubungkan pertikaian dengan hilangnya kekuatan sosial umat.
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS Al-Anfal [8]: 46)
Perhatikan hubungan yang dibangun ayat ini:
pertikaian → kelemahan → hilangnya kekuatan.
Dengan demikian, konflik internal umat bukan sekadar persoalan teologis. Ia dapat mempunyai konsekuensi sosial.
Ketika energi umat habis untuk saling menyalahkan, energi tersebut tidak lagi digunakan untuk menghadirkan keadilan, membangun kesejahteraan, melawan kemiskinan, memperkuat pendidikan, dan menjaga martabat manusia.
Persatuan Tidak Berarti Menyeragamkan
Namun, persatuan juga tidak berarti menghapus seluruh perbedaan.
Al-Qur’an justru mengakui adanya keberagaman manusia.
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”
(QS Hud [11]: 118)
Ayat berikutnya memberikan pengecualian:
إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ
“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Dia menciptakan mereka.”
(QS Hud [11]: 119)
Karena itu, perbedaan tidak otomatis berarti kegagalan agama.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Ukuran Persaudaraan: Bukan Kesamaan Mazhab
Al-Qur’an menawarkan dasar persaudaraan yang lebih fundamental:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS Al-Hujurat [49]: 10)
Ayat ini menarik karena tugas pertama yang diperintahkan setelah menyebut persaudaraan adalah:
فَأَصْلِحُوا — maka damaikanlah.
Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada klaim identitas.
Keberagamaan harus melahirkan kemampuan mendamaikan manusia.
Kembali kepada “Tali Allah”
Al-Qur’an memberikan formula yang sangat terkenal:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 103)
Yang menarik adalah struktur ayatnya.
Berpegang kepada Allah → bersama-sama → jangan berpecah.
Maka pusat persatuan bukanlah:
- nama mazhab,
- tokoh,
- organisasi,
- kelompok,
- tradisi,
- atau identitas sosial.
Pusat persatuan adalah Allah.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan umat agar tidak menjadikan identitas kelompok sebagai sumber kebanggaan yang memecah:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(QS Ar-Rum [30]: 31–32)
Frasa كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ menggambarkan problem psikologis yang sangat manusiawi:
setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang dimilikinya.
Ketika kebanggaan kelompok menjadi lebih besar daripada pencarian kebenaran, agama berpotensi berubah menjadi identitas.
Ketika Tradisi Menggantikan Kesadaran
Al-Qur’an juga mengkritik kecenderungan mengikuti sesuatu hanya karena diwariskan.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS Al-Baqarah [2]: 170)
Ayat ini bukan alasan untuk menolak sejarah atau tradisi secara keseluruhan.
Tetapi ia memberikan prinsip penting:
warisan tidak otomatis menjadi ukuran kebenaran.
Sesuatu perlu terus diuji dengan petunjuk Allah dan kemampuan akal untuk memahami.
Jika Berselisih, Kembalikan kepada Allah dan Rasul
Al-Qur’an juga memberikan mekanisme ketika terjadi perselisihan:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
(QS An-Nisa [4]: 59)
Dalam kerangka Qur’an bil Qur’an, ayat ini perlu dibaca bersama prinsip bahwa Rasul membawa wahyu Allah.
Dengan demikian, ketika terjadi perselisihan, orientasi dasarnya adalah kembali kepada sumber petunjuk, bukan memperbesar fanatisme terhadap figur atau kelompok.
Jangan Mengklaim Keselamatan Kelompok
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia terhadap kecenderungan mengklaim diri sebagai kelompok yang paling suci:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.”
(QS An-Nisa [4]: 49)
Pesannya sederhana tetapi mendalam:
manusia tidak perlu sibuk menyucikan kelompoknya sendiri.
Yang lebih penting adalah menghadirkan bukti kebaikan dalam kehidupan.
Jalan Lurus: Bukan Sekadar Label, tetapi Jalan Kehidupan
Jika berbagai ayat tersebut dibaca secara silang, tampak bahwa jalan lurus dalam Al-Qur’an tidak sekadar persoalan label identitas.
Jalan lurus berkaitan dengan:
iman → kesadaran → kebenaran → keadilan → persaudaraan → amal saleh.
Al-Qur’an bahkan memberikan ukuran yang sangat konkret:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
(QS An-Nahl [16]: 90)
Di sini agama diterjemahkan menjadi keadilan dan kebaikan sosial.
Perspektif Syahida: Dari “Mazhab” Menuju “Maqashid Kehidupan”
Dalam perspektif Kajian Syahida, persoalan konflik mazhab dapat didekati dengan menggeser pertanyaan.
Bukan semata-mata:
“Mazhab siapa yang benar?”
Tetapi:
“Apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang cara manusia menghadapi perbedaan?”
Dari ayat-ayat yang saling menjelaskan, setidaknya muncul beberapa prinsip.
1. Kebenaran bukan milik eksklusif kelompok
Manusia mencari kebenaran, tetapi tidak memiliki hak untuk mengklaim dirinya sebagai pemilik mutlak kebenaran.
2. Perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan
Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan, tetapi berkali-kali memperingatkan tentang pertikaian dan perpecahan.
3. Identitas tidak boleh mengalahkan nilai
Nama kelompok bukan ukuran terakhir.
Ukuran yang terus berulang dalam Al-Qur’an adalah iman, takwa, keadilan, amal saleh, dan kemanusiaan.
4. Wahyu harus menjadi titik temu
Ketika manusia berselisih, Al-Qur’an mengarahkan manusia kembali kepada Allah dan Rasul.
5. Agama harus menghasilkan perdamaian
Jika keberagamaan justru menghasilkan kebencian, permusuhan, penghinaan, dan perpecahan, maka manusia perlu melakukan evaluasi terhadap cara keberagamaannya.
Dari “Siapa yang Benar?” Menjadi “Apa yang Benar?”
Barangkali inilah perubahan paradigma yang diperlukan.
Pertikaian sering dimulai dari pertanyaan:
“Siapa yang benar?”
Pertanyaan itu kemudian berubah menjadi:
“Kelompok mana yang benar?”
Lalu berkembang menjadi:
“Siapa yang salah?”
Dan akhirnya menjadi:
“Siapa yang harus disingkirkan?”
Al-Qur’an menawarkan jalan yang berbeda.
Kita dapat mengubah pertanyaannya menjadi:
“Apa yang benar menurut wahyu?”
Kemudian:
“Apa yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?”
Dan akhirnya:
“Apa buah kebenaran itu bagi kehidupan manusia?”
Perubahan pertanyaan tersebut dapat mengubah seluruh cara umat memandang perbedaan.
Jalan Lurus dan Kesatuan Umat
Kesatuan umat bukan berarti semua manusia harus berpikir dengan cara yang sama.
Kesatuan berarti perbedaan tidak menghancurkan persaudaraan.
Al-Qur’an mengatakan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”
(QS Al-Anfal [8]: 46)
Maka umat membutuhkan budaya baru:
- berbeda tanpa bermusuhan,
- berdiskusi tanpa menghina,
- mengkritik tanpa menyesatkan secara serampangan,
- dan meyakini sesuatu tanpa merasa berhak menguasai seluruh kebenaran.
Kembali kepada Jalan Allah
Konflik mazhab tidak akan selesai hanya dengan memenangkan satu kelompok atas kelompok lain.
Konflik juga tidak selesai dengan menghapus perbedaan.
Yang diperlukan adalah mengembalikan orientasi keberagamaan kepada pusat yang lebih tinggi: Allah dan petunjuk-Nya.
Al-Qur’an telah memberikan arah:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS Al-An‘am [6]: 153)
Jalan lurus itu bukan sekadar nama.
Ia adalah arah kehidupan.
Ia mengarahkan manusia kepada Allah, membebaskan manusia dari fanatisme yang membutakan, menghubungkan iman dengan amal, dan menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk saling mengenal—bukan alasan untuk saling memusuhi.
Mungkin karena itu, tantangan terbesar umat hari ini bukan sekadar menentukan mazhab mana yang harus dimenangkan.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan Al-Qur’an kembali sebagai sumber kesadaran yang mempersatukan kehidupan.
Sebab ketika manusia sibuk mempertahankan kelompoknya, ia dapat kehilangan tujuan.
Tetapi ketika manusia kembali mencari jalan Allah, pertanyaan tentang identitas kelompok perlahan bergeser menjadi pertanyaan yang lebih penting:
Apakah kehidupan kita benar-benar telah berada di jalan yang lurus? (syahida)
Catatan Redaksi – Kajian Syahida
Tulisan ini menggunakan pendekatan Qur’an bil Qur’an, yaitu membaca suatu tema dengan mempertemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan makna. Pembahasan tidak dimaksudkan untuk menghakimi mazhab atau kelompok tertentu, melainkan mengajak pembaca melakukan refleksi terhadap fenomena fanatisme, perpecahan, dan konflik keagamaan dengan kembali memperhatikan prinsip-prinsip Al-Qur’an.





























