Ketika wahyu tidak lagi hadir melalui seorang Rasul, bagaimana manusia menjaga agar agama tidak berubah menjadi tradisi, fanatisme, dan kesesatan kolektif?
Ketika Petunjuk Tidak Lagi Didengar Langsung
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Mengapa manusia bisa tersesat bersama-sama?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang umat setelah berakhirnya kenabian. Jika Nabi dan Rasul tidak lagi hadir di tengah manusia untuk memberikan koreksi langsung, dari mana manusia memperoleh petunjuk? Bagaimana membedakan kebenaran dengan tradisi? Bagaimana memastikan bahwa agama tidak berubah menjadi sekadar warisan sosial?
Al-Qur’an memberikan sebuah gambaran penting tentang masa ketika manusia tidak lagi memiliki rasul yang hadir secara langsung di tengah mereka.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu ketika terputusnya rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, ‘Tidak ada kepada kami seorang pembawa berita gembira dan seorang pemberi peringatan.’ Sungguh, telah datang kepadamu seorang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
QS Al-Ma’idah [5]: 19
Ayat ini menyebut فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ — fatrah minar-rusul, suatu masa ketika terjadi jeda dari para rasul.
Di sinilah muncul pertanyaan besar:
Jika rasul tidak hadir, apa yang terjadi dengan manusia dan sistem petunjuknya?
Al-Qur’an menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata-mata ketiadaan informasi. Masalah yang lebih dalam adalah bagaimana manusia memperlakukan petunjuk yang telah sampai kepada mereka.
Tersesat Tidak Selalu Berarti Tidak Memiliki Agama
Salah satu kesalahan dalam memahami kesesatan adalah menganggap bahwa orang yang tersesat pasti orang yang tidak memiliki agama.
Al-Qur’an justru memperlihatkan bahwa manusia dapat memiliki kitab, simbol, tradisi, bahkan identitas keagamaan, tetapi tetap mengalami penyimpangan.
Allah berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang besar.”
QS Ali ‘Imran [3]: 105
Perhatikan urutannya.
Mereka tidak tersesat karena tidak pernah menerima petunjuk.
Mereka justru telah menerima keterangan yang jelas.
Persoalannya muncul setelah petunjuk itu hadir.
Ini membuka kemungkinan penting: sebuah masyarakat dapat mewarisi agama, tetapi kehilangan fungsi petunjuk agama tersebut.
Agama tetap ada.
Kitab tetap ada.
Tempat ibadah tetap ada.
Tradisi tetap berlangsung.
Tetapi orientasi kepada petunjuk dapat melemah.
Dari Wahyu Menjadi Warisan
Ketika sebuah generasi menerima agama dari generasi sebelumnya, terdapat satu risiko besar: agama berubah dari sesuatu yang dipahami menjadi sesuatu yang hanya diwariskan.
Al-Qur’an menggambarkan sikap manusia yang berlindung di balik tradisi nenek moyang:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul,’ mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
QS Al-Ma’idah [5]: 104
Inilah salah satu mekanisme penting kesesatan massal:
generasi berikutnya tidak lagi memeriksa apakah warisan yang diterimanya sesuai dengan petunjuk Tuhan.
Yang penting bukan lagi:
“Apa yang Allah turunkan?”
tetapi:
“Apa yang sejak dulu dilakukan oleh kelompok kami?”
Ketika pertanyaan kedua menggantikan pertanyaan pertama, agama mulai berubah menjadi identitas sosial.
Ketika Kelompok Menggantikan Kitab
Kesesatan massal juga dapat terjadi ketika manusia menjadikan kelompok sebagai sumber kebenaran utama.
Al-Qur’an memperingatkan:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
QS Ar-Rum [30]: 31–32
Ayat ini memperlihatkan sebuah paradoks.
Manusia dapat memulai dari agama yang satu, kemudian membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing merasa memiliki kebenaran.
Pada tahap tertentu, identitas kelompok menjadi lebih kuat daripada pencarian terhadap kebenaran.
Yang dipertahankan bukan lagi pesan wahyu, melainkan:
“kelompok kami.”
Dari sinilah fanatisme dapat berkembang.
Ketika kelompok menjadi ukuran kebenaran, kritik terhadap kelompok dianggap sebagai serangan terhadap agama.
Mengapa Kesalahan Bisa Menjadi Kesepakatan Bersama?
Manusia memiliki kecenderungan mengikuti lingkungan sosialnya.
Jika sebuah kesalahan dilakukan oleh satu orang, kesalahan tersebut mungkin mudah dikoreksi.
Tetapi jika kesalahan dilakukan oleh keluarga, komunitas, lembaga, bahkan diwariskan selama beberapa generasi, kesalahan tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.
Al-Qur’an berkali-kali menggambarkan jawaban manusia ketika menghadapi seruan para rasul:
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.”
QS Az-Zukhruf [43]: 22
Perhatikan kata “kami”.
Ini bukan lagi persoalan individu.
Ini adalah identitas kolektif.
Mereka merasa berada di jalan yang benar justru karena banyak orang sebelum mereka melakukan hal yang sama.
Di sinilah kesesatan dapat menjadi kesesatan massal.
Bukan karena semua orang secara individual melakukan penelitian dan kemudian memilih kesalahan yang sama, melainkan karena suatu keyakinan telah menjadi bagian dari struktur sosial.
Ketika Banyak Orang Bukan Lagi Jaminan Kebenaran
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat penting:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
QS Al-An‘am [6]: 116
Ayat ini tidak berarti bahwa mayoritas manusia selalu salah dalam semua persoalan.
Pesannya lebih spesifik: jumlah pengikut bukan ukuran kebenaran wahyu.
Kebenaran tidak menjadi benar karena banyak orang mengikutinya.
Sebaliknya, sesuatu tidak otomatis salah hanya karena sedikit orang yang mengikutinya.
Ukuran yang harus dikembalikan adalah petunjuk Allah.
Rasul Berakhir, Tetapi Petunjuk Tidak Berakhir
Di sinilah penting membedakan antara berakhirnya kenabian dan berakhirnya petunjuk.
Al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”
QS Al-Ahzab [33]: 40
Dalam pemahaman Islam arus utama, ayat ini menjadi dasar finalitas kenabian Muhammad.
Namun, berakhirnya kenabian tidak berarti manusia dibiarkan tanpa petunjuk.
Allah menyatakan:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
QS Al-Isra’ [17]: 9
Maka, setelah tidak ada lagi nabi yang hadir membawa wahyu baru, persoalan manusia bukanlah mencari nabi baru.
Persoalannya adalah:
apakah manusia mau kembali kepada petunjuk yang telah diturunkan?
Al-Qur’an sebagai Pembeda
Al-Qur’an tidak hanya menyebut dirinya sebagai petunjuk.
Ia juga disebut sebagai furqan, pembeda.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
QS Al-Baqarah [2]: 185
Di sinilah fungsi Al-Qur’an menjadi sangat penting bagi umat pasca-kenabian.
Ketika tidak ada lagi nabi yang hadir untuk mengoreksi manusia secara langsung, umat memiliki kewajiban untuk kembali kepada wahyu sebagai ukuran.
Bukan berarti setiap orang otomatis menghasilkan pemahaman yang sama.
Justru karena manusia dapat berbeda, maka diperlukan ukuran yang berada di atas kepentingan kelompok.
Kitab menjadi rujukan.
Tetapi Kitab Pun Bisa Ditinggalkan
Persoalannya kemudian menjadi lebih dalam.
Memiliki Al-Qur’an belum tentu berarti menjadikannya sebagai petunjuk.
Allah bahkan menggambarkan keluhan Rasul:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”
QS Al-Furqan [25]: 30
Ayat ini menghadirkan pertanyaan yang sangat relevan:
Bagaimana mungkin umat memiliki kitab petunjuk tetapi tetap tersesat?
Jawabannya mungkin bukan karena kitabnya tidak lengkap, melainkan karena manusia tidak menjadikannya sebagai pusat orientasi kehidupannya.
Al-Qur’an dibaca, tetapi tidak selalu dijadikan ukuran.
Al-Qur’an dihormati, tetapi belum tentu menjadi dasar untuk menguji tradisi.
Al-Qur’an dikutip, tetapi belum tentu menjadi sumber perubahan sosial.
Di titik inilah agama dapat berubah dari petunjuk hidup menjadi simbol kehidupan.
Kesesatan Massal Dimulai dari Hilangnya Budaya Menguji
Sebuah umat menjadi rentan terhadap kesesatan ketika berhenti bertanya.
Al-Qur’an justru mengajarkan manusia untuk menggunakan akal dan pengetahuan.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
QS Al-Isra’ [17]: 36
Ayat ini mengandung prinsip epistemologis yang sangat kuat:
jangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak semestinya menerima suatu klaim hanya karena:
- telah dilakukan turun-temurun;
- dikatakan tokoh terkenal;
- diikuti mayoritas;
- dianggap sakral oleh kelompok;
- atau telah menjadi kebiasaan masyarakat.
Semua klaim perlu dikembalikan kepada pengetahuan dan petunjuk.
Kebangkitan Dimulai dari Kembali Membaca
Jika umat dapat tersesat secara kolektif, maka kebangkitan juga harus dimulai secara kolektif.
Bukan dengan mencari figur baru yang menggantikan nabi.
Bukan dengan menciptakan wahyu baru.
Bukan pula dengan membangun kelompok baru yang mengklaim dirinya paling benar.
Kebangkitan dimulai dengan kembali membangun hubungan langsung dengan petunjuk Allah.
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku.”
QS Qaf [50]: 45
Dalam kerangka Kajian Syahida, inilah salah satu makna penting Qur’an bil Qur’an: membiarkan Al-Qur’an dibaca melalui keseluruhan pesan Al-Qur’an, bukan melalui satu ayat yang dipisahkan dari ayat lainnya.
Membaca kembali.
Membandingkan ayat.
Menghubungkan pesan.
Menguji tradisi.
Menggunakan akal.
Dan kemudian menerjemahkan petunjuk menjadi amal.
Umat Tanpa Rasul Bukan Umat Tanpa Tanggung Jawab
Berakhirnya kenabian tidak menghapus tanggung jawab manusia.
Justru tanggung jawab itu menjadi semakin besar.
Allah berfirman:
وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ
“Dan tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya.”
QS As-Saffat [37]: 24
Manusia tidak dapat selamanya berlindung di balik:
“Saya hanya mengikuti tradisi.”
atau:
“Semua orang melakukan itu.”
atau:
“Tokoh kami mengatakan demikian.”
Pada akhirnya, setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang diikutinya.
Inilah mengapa Al-Qur’an berkali-kali menyeru manusia untuk menggunakan akal, memperhatikan tanda-tanda, mendengarkan, dan mempertimbangkan.
Kebangkitan umat bukan berarti meniadakan otoritas ilmu dan pengalaman manusia. Sebaliknya, kebangkitan membutuhkan budaya ilmu yang memungkinkan manusia membedakan antara wahyu, penafsiran, tradisi, dan kepentingan.
Tanda Umat Mulai Bangkit
Jika kesesatan massal dimulai dari taklid tanpa pengetahuan, fanatisme kelompok, dan ditinggalkannya petunjuk, maka kebangkitan umat dapat ditandai oleh hal yang sebaliknya.
Umat mulai bangkit ketika:
Pertama, Al-Qur’an kembali menjadi sumber pertanyaan dan jawaban.
Kedua, tradisi dihormati sebagai sejarah, tetapi tidak otomatis ditempatkan di atas wahyu.
Ketiga, perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Keempat, ilmu menjadi bagian dari keberagamaan.
Kelima, iman diterjemahkan menjadi amal saleh.
Keenam, agama kembali berfungsi membangun manusia dan kehidupan.
Ketujuh, umat tidak sekadar mencari siapa yang harus diikuti, tetapi belajar memahami apa yang harus diikuti.
Dengan kata lain:
kebangkitan umat bukan dimulai dari munculnya pemimpin baru, melainkan dari bangkitnya manusia yang sadar terhadap tanggung jawabnya di hadapan Allah.
Setelah Rasul Tidak Lagi Hadir
Pertanyaan “Umat Tanpa Rasul” pada akhirnya bukan hanya pertanyaan sejarah.
Ia adalah pertanyaan tentang kita.
Apa yang terjadi ketika manusia memiliki kitab tetapi lebih percaya kepada kebiasaan?
Apa yang terjadi ketika identitas kelompok lebih kuat daripada pencarian kebenaran?
Apa yang terjadi ketika jumlah pengikut dianggap sebagai bukti kebenaran?
Apa yang terjadi ketika agama diwariskan tetapi tidak lagi dibaca?
Al-Qur’an telah memberikan jawabannya dalam berbagai bentuk: manusia dapat tersesat ketika mengikuti prasangka, fanatisme, tradisi tanpa pengetahuan, dan perpecahan setelah datangnya petunjuk.
Tetapi Al-Qur’an juga menunjukkan jalan keluarnya.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
QS Ali ‘Imran [3]: 103
Setelah kenabian berakhir, manusia tidak ditinggalkan tanpa arah.
Yang berubah adalah bentuk kehadiran pembawa risalah.
Nabi dan Rasul tidak lagi hadir untuk membawa wahyu baru. Tetapi wahyu yang telah diturunkan tetap menjadi petunjuk.
Karena itu, tantangan umat pasca-kenabian bukan mencari Rasul baru.
Tantangannya adalah jangan sampai umat memiliki Al-Qur’an, tetapi hidup tanpa Al-Qur’an.
Dan mungkin di situlah makna terdalam kebangkitan:
bukan ketika umat menemukan figur baru untuk diikuti, tetapi ketika umat kembali menemukan petunjuk yang selama ini telah berada di tangannya.
Catatan Redaksi Kajian Syahida
Tulisan ini menggunakan pendekatan Qur’an bil Qur’an, dengan membaca satu tema melalui hubungan antarayat Al-Qur’an. Istilah “umat tanpa Rasul” dalam tulisan ini digunakan sebagai kerangka analitis untuk menggambarkan kondisi umat setelah berakhirnya kenabian, bukan sebagai istilah literal Al-Qur’an.
QS Al-Ma’idah [5]:19 secara eksplisit berbicara tentang fatrah minar-rusul, sedangkan QS Al-Ahzab [33]:40 menyebut Muhammad sebagai “khatam an-nabiyyin”. Dalam pemahaman Islam arus utama, kenabian berakhir pada Nabi Muhammad. Karena itu, pembahasan tentang “tanpa Rasul” di sini diarahkan pada tanggung jawab umat dalam menjaga hubungan dengan wahyu setelah berakhirnya kenabian, bukan pada klaim adanya nabi atau rasul baru.





























