Al-Qur’an tidak mengukur ilmu dari jubah, gelar, jabatan, atau status sosial, tetapi dari kemampuan mengenali kebenaran, beriman, takut kepada Allah, dan tunduk kepada-Nya.
PPMINDONESIA.COM — KAJIAN SYAHIDA
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Dalam kehidupan keagamaan, kata ilmu sering kali segera dikaitkan dengan gelar akademik, lembaga pendidikan, jabatan keagamaan, atau seseorang yang secara sosial disebut sebagai “orang alim”.
Padahal, ketika Al-Qur’an berbicara tentang ‘ilm (عِلْم), kita menemukan cakupan makna yang jauh lebih luas.
Al-Qur’an menggunakan berbagai bentuk kata dari akar ‘-l-m untuk berbicara tentang mengetahui, pengetahuan, orang yang diberi pengetahuan, orang yang kokoh ilmunya, hingga al-‘ulamā’.
Pertanyaannya:
Apakah Al-Qur’an sendiri mendefinisikan orang berilmu berdasarkan gelar dan status sosial?
Kajian Qur’an bil Qur’an mencoba menjawabnya bukan dengan terlebih dahulu memasukkan definisi dari luar Al-Qur’an, melainkan dengan mempertemukan ayat-ayat yang berbicara tentang ilmu.
Ilmu Tidak Berdiri Sendiri
Salah satu ayat penting terdapat dalam QS Ali ‘Imran [3]:18:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang memiliki ilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS Ali ‘Imran [3]:18)
Ayat ini menarik karena ‘ilm tidak muncul dalam ruang kosong.
“Orang-orang yang memiliki ilmu” ditempatkan bersama kesaksian tentang keesaan Allah dan frasa:
قَائِمًا بِالْقِسْطِ — menegakkan keadilan.
Maka pertanyaan Qur’ani berikutnya bukan sekadar:
“Siapa yang memiliki gelar ilmu?”
Melainkan:
“Apa yang dilakukan oleh ilmu ketika seseorang benar-benar mengetahuinya?”
Ayat tersebut menghubungkan ilmu dengan pengakuan terhadap tauhid dan penegakan keadilan.
Qur’an Bil Qur’an: Apa yang Dilakukan Ilmu?
Untuk memahami QS 3:18, kita dapat membandingkannya dengan ayat-ayat lain.
QS Al-Hajj [22]:54 memberikan salah satu gambaran penting:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
(QS Al-Hajj [22]:54)
Perhatikan rangkaiannya:
أُوتُوا الْعِلْمَ → يَعْلَمَ → الْحَقُّ → فَيُؤْمِنُوا → فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
Ilmu → mengetahui kebenaran → beriman → hati tunduk.
Inilah pola yang sangat penting.
Dalam perspektif Al-Qur’an, ilmu bukan sekadar akumulasi informasi.
Ilmu memiliki konsekuensi terhadap cara seseorang mengenali kebenaran dan bagaimana hatinya merespons kebenaran tersebut.
Ilmu yang Mengantarkan kepada Kebenaran
Pola yang sama dapat ditemukan dalam QS Saba’ [34]:6:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Dan orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Yang Maha Terpuji.”
(QS Saba’ [34]:6)
Sekali lagi, ilmu dikaitkan dengan kemampuan melihat kebenaran.
Bukan sekadar:
- memiliki gelar,
- memiliki jabatan,
- dikenal masyarakat,
- memiliki banyak pengikut,
- atau menguasai istilah keagamaan.
Ukuran yang ditampilkan ayat adalah kemampuan mengenali al-haqq dan mengikuti petunjuk yang benar.
Ilmu yang Tidak Melahirkan Iman?
Di sini Al-Qur’an memberikan persoalan yang lebih mendalam.
Pengetahuan secara lahiriah ternyata tidak selalu identik dengan iman.
QS An-Naml [27]:14 menggambarkan orang-orang yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Dan mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakininya karena kezaliman dan kesombongan. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS An-Naml [27]:14)
Ayat ini menunjukkan adanya perbedaan antara mengetahui dan menerima kebenaran.
Karena itu, ilmu dalam perspektif Qur’ani tidak cukup berhenti pada kemampuan mengetahui sesuatu secara intelektual.
Ada persoalan hati, sikap, dan respons terhadap kebenaran.
‘Ilm dan Khashyah
Ayat yang paling sering digunakan dalam pembicaraan tentang “orang berilmu” adalah QS Fathir [35]:28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ‘ulamā’. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
(QS Fathir [35]:28)
Di sini Al-Qur’an menggunakan kata:
الْعُلَمَاءُ — al-‘ulamā’.
Secara bahasa, kata tersebut berkaitan dengan akar ‘ilm, yakni pengetahuan.
Namun penting untuk tidak langsung menyamakan istilah Qur’ani tersebut dengan kategori sosial “ulama” dalam pengertian institusional yang berkembang kemudian.
Al-Qur’an sendiri memberikan karakteristik yang menyertai istilah tersebut:
يَخْشَى اللَّهَ
“takut kepada Allah.”
Dengan demikian, ayat ini mengarahkan perhatian kita kepada buah dari ilmu, bukan semata-mata identitas pemiliknya.
Ilmu yang disebut dalam ayat tersebut berkaitan dengan khashyah, yakni kesadaran mendalam yang melahirkan sikap tunduk dan takut kepada Allah.
Mengapa QS 35:28 Berbicara tentang Gunung, Manusia, dan Makhluk?
Menariknya, QS 35:27–28 berada dalam konteks pembicaraan tentang tanda-tanda ciptaan Allah.
Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami mengeluarkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung terdapat garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.”
(QS Fathir [35]:27)
Kemudian:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Demikian pula manusia, hewan-hewan melata dan hewan ternak bermacam-macam warnanya. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ‘ulamā’.”
(QS Fathir [35]:28)
Konteks ini penting.
Ayat mengarahkan manusia untuk melihat, memperhatikan, dan mengenali tanda-tanda ciptaan Allah.
Dengan demikian, ilmu tidak digambarkan sebagai sekadar status sosial. Ia berkaitan dengan kemampuan membaca tanda-tanda Allah sehingga melahirkan kesadaran terhadap kebesaran-Nya.
Ilmu dan Iman Berjalan Bersama
QS Al-Mujadilah [58]:11 sering dijadikan dasar pembicaraan mengenai keutamaan orang berilmu:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al-Mujadilah [58]:11)
Ayat ini tidak boleh dilepaskan dari kata-kata sebelumnya:
الَّذِينَ آمَنُوا
“orang-orang yang beriman.”
Kemudian:
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“dan orang-orang yang diberi ilmu.”
Apakah ini harus selalu dipahami sebagai dua kelas sosial yang berbeda?
Tidak harus demikian.
Dalam pembacaan Qur’an bil Qur’an, ayat ini perlu dibaca bersama ayat-ayat lain yang menjelaskan hubungan antara ilmu dan iman.
QS Al-Hajj [22]:54, misalnya, menunjukkan bahwa orang yang diberi ilmu:
mengetahui kebenaran → beriman → hatinya tunduk.
Karena itu, pembacaan Qur’ani tidak cukup berhenti pada pemisahan kategori secara administratif. Yang perlu diperhatikan adalah fungsi dan buah ilmu tersebut.
Ilmu Bukan Sekadar Banyak Informasi
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa seseorang dapat berbicara atau mengikuti sesuatu tanpa ilmu.
QS Al-Isra’ [17]:36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS Al-Isra’ [17]:36)
Ayat ini memperlihatkan bahwa ilmu juga berkaitan dengan tanggung jawab epistemik: jangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk sekadar menerima informasi karena siapa yang menyampaikannya.
Manusia diperintahkan untuk mengetahui.
Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Pengetahuan
Prinsip ini semakin kuat ketika Al-Qur’an mengkritik sikap mengikuti sesuatu hanya karena warisan.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka sekalipun nenek moyang mereka tidak memahami sesuatu dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS Al-Baqarah [2]:170)
Problemnya bukan sekadar tradisi.
Problemnya adalah mengikuti tanpa mengetahui.
Di sinilah ilmu menjadi penting.
Ilmu yang Melahirkan Khashyah
Jika ayat-ayat tersebut disusun sebagai satu rangkaian Qur’an bil Qur’an, tampak sebuah pola:
عِلْم — ‘ILM
↓
مَعْرِفَةُ الْحَقّ — mengenali kebenaran
↓
إِيمَان — iman
↓
إِخْبَاتُ الْقَلْب — ketundukan hati
↓
خَشْيَةُ اللَّه — kesadaran takut kepada Allah
↓
قِسْط — keadilan
Rangkaian ini jauh lebih penting daripada sekadar pertanyaan:
“Apa gelar orang tersebut?”
Apakah Gelar Akademik Tidak Penting?
Tentu tidak demikian.
Pendidikan, keahlian, penelitian, pengalaman, dan kompetensi tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia.
Seseorang yang mempelajari Al-Qur’an secara mendalam tentu memiliki kompetensi tertentu. Demikian pula seseorang yang mempelajari ilmu kedokteran, hukum, teknik, lingkungan, ekonomi, atau bidang lainnya.
Yang perlu dibedakan adalah:
kompetensi akademik tidak otomatis identik dengan ukuran Qur’ani tentang kedalaman ilmu dan ketundukan kepada kebenaran.
Gelar dapat menunjukkan bahwa seseorang menyelesaikan suatu pendidikan atau memiliki kompetensi tertentu.
Tetapi gelar tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seseorang:
- selalu benar,
- selalu memahami wahyu,
- selalu adil,
- selalu tunduk kepada kebenaran,
- atau memiliki khashyah kepada Allah.
Karena itu, gelar adalah identitas administratif; ilmu dalam Al-Qur’an memiliki dimensi moral dan spiritual.
Jangan Mengubah Gelar Menjadi Sumber Kebenaran
Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.
Ketika gelar berubah menjadi ukuran mutlak kebenaran, manusia dapat berhenti menimbang argumen dan bukti.
Seseorang tidak lagi bertanya:
“Apa yang dikatakan Al-Qur’an?”
Tetapi:
“Siapa yang mengatakan?”
Padahal Al-Qur’an justru mengajarkan manusia agar mendengar perkataan dan mengikuti yang terbaik darinya.
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS Az-Zumar [39]:17–18)
Perhatikan kata:
أُولُو الْأَلْبَابِ — ulū al-albāb
orang-orang yang menggunakan inti akalnya.
Mereka mendengar, kemudian menimbang, lalu mengikuti yang terbaik.
Ini adalah sikap epistemik yang sangat penting dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an Mengajarkan Kerendahan Hati terhadap Ilmu
Ada satu ayat yang sangat kuat untuk menutup kesombongan intelektual:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS Al-Isra’ [17]:85)
Ayat ini mengingatkan manusia bahwa sebesar apa pun pengetahuan yang dimiliki, pengetahuan manusia tetap terbatas.
Maka orang berilmu dalam perspektif Qur’ani bukanlah orang yang merasa tidak mungkin salah.
Sebaliknya, semakin memahami keluasan ciptaan dan wahyu Allah, semakin sadar akan keterbatasan dirinya.
ILMU SEBAGAI JALAN, BUKAN STATUS
Dari berbagai ayat tersebut, kita dapat melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan ilmu dalam beragam konteks.
Ada:
أُوتُوا الْعِلْمَ
orang-orang yang diberi ilmu.
Ada:
أُولُو الْعِلْمِ
orang-orang yang memiliki ilmu.
Ada:
الْعُلَمَاءُ
para ‘ulamā’.
Ada:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
orang-orang yang kokoh dalam ilmu.
Istilah-istilah tersebut perlu dibaca berdasarkan konteks masing-masing ayat, bukan langsung diproyeksikan menjadi satu kategori sosial tertentu.
Al-Qur’an sendiri memberi karakter yang dapat dikenali:
mengenali kebenaran, beriman, hati tunduk, memiliki khashyah kepada Allah, dan menegakkan keadilan.
Maka, Siapakah Orang Berilmu?
Kajian Qur’an bil Qur’an tidak mengharuskan kita menghapus makna pendidikan, keahlian, atau tradisi keilmuan.
Namun Al-Qur’an mengajak kita memperluas kembali makna ‘ilm.
Orang yang berilmu bukan semata-mata orang yang memiliki banyak informasi.
Bukan pula semata-mata orang yang memiliki gelar.
Bukan semata-mata orang yang disebut alim oleh masyarakat.
Dalam pola yang terlihat dari ayat-ayat Al-Qur’an, ilmu mempunyai buah:
Ilmu membuat manusia mampu mengenali kebenaran.
Kebenaran yang dikenali melahirkan iman.
Iman melahirkan ketundukan hati.
Ketundukan kepada Allah melahirkan khashyah.
Dan kesadaran kepada Allah berkaitan dengan keadilan dalam kehidupan.
KOTAK RENUNGAN
Gelar Menunjukkan Pendidikan. Al-Qur’an Menunjukkan Buah Ilmu.
Gelar dapat menunjukkan perjalanan pendidikan seseorang.
Jabatan dapat menunjukkan posisi seseorang.
Popularitas dapat menunjukkan banyaknya pengikut seseorang.
Tetapi Al-Qur’an mengajak manusia melihat sesuatu yang lebih dalam:
Apa yang diketahui?
Apakah kebenaran dikenali?
Apakah kebenaran itu diimani?
Apakah hati tunduk kepada Allah?
Apakah ilmu tersebut melahirkan keadilan?
Karena itu, jangan sampai ilmu dipersempit menjadi gelar, dan jangan pula gelar berubah menjadi pengganti kebenaran.
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk mengkultuskan manusia.
Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengenali kebenaran dan tunduk kepada Allah.
PENUTUP
Pertanyaan “siapa orang berilmu?” ternyata tidak sesederhana persoalan gelar.
Al-Qur’an menggunakan istilah ‘ilm dalam konteks yang berkaitan dengan pengetahuan, pengenalan terhadap kebenaran, iman, ketundukan hati, khashyah, dan keadilan.
Karena itu, ketika membaca istilah al-‘ulamā’, ulū al-‘ilm, atau alladzīna ūtū al-‘ilm, kita perlu berhati-hati agar tidak langsung memasukkan kategori sosial yang muncul kemudian ke dalam teks Al-Qur’an.
Bukan berarti keahlian dan para ahli tidak penting.
Justru sebaliknya, ilmu dan keahlian sangat penting.
Tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa ukuran keilmuan tidak berhenti pada apa yang tertulis di belakang nama seseorang.
Pada akhirnya, ilmu harus membawa manusia kepada kebenaran.
Dan ketika kebenaran telah dikenali, manusia dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar:
Apakah ia mau beriman dan tunduk kepada kebenaran itu?
Itulah pertanyaan yang terus dikembalikan Al-Qur’an kepada manusia.
KAJIAN SYAHIDA
Al-Qur’an Bil Al-Qur’an
PPMINDONESIA.COM
Kajian • Pemikiran • Pencerahan





























