Ketika sebuah riwayat dipahami bertentangan dengan pesan wahyu, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk kembali kepada Allah, ilmu, dan kebenaran.
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada sebuah persoalan yang terus muncul dalam perjalanan pemikiran Islam: apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika berhadapan dengan sebuah riwayat yang secara lahiriah tampak bertentangan dengan akal sehat atau dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an?
Pertanyaan ini bukan persoalan kecil.
Sebab dalam tradisi keagamaan, berbagai riwayat telah menjadi bagian penting dari cara umat memahami sejarah, kehidupan Nabi, hukum, dan praktik keagamaan. Pada saat yang sama, tidak semua riwayat dipahami dengan cara yang sama. Ada perbedaan mengenai sanad, konteks, makna bahasa, dan kesimpulan hukum yang ditarik darinya.
Di sinilah persoalan nalar muncul.
Apakah seorang Muslim harus mematikan akalnya demi sebuah riwayat?
Ataukah setiap orang bebas menolak riwayat hanya karena tidak sesuai dengan pendapat pribadinya?
Kajian Qur’an bil Qur’an mengajak kita mencari jawabannya bukan dengan fanatisme kepada riwayat, tetapi juga bukan dengan mempertuhankan akal.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Ketika terjadi perselisihan, kepada siapa Al-Qur’an memerintahkan kita untuk kembali?
Al-Qur’an Mengajarkan: Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas mengenai bagaimana manusia memperlakukan sebuah informasi.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
QS. Al-Isra’: 36
Ayat ini mengandung prinsip yang sangat penting.
Manusia tidak boleh mengikuti sesuatu hanya karena mendengarnya.
Tidak boleh pula menerima sebuah klaim hanya karena disampaikan oleh orang yang dianggap memiliki otoritas.
Pendengaran harus disertai pemeriksaan.
Penglihatan harus disertai pertimbangan.
Dan hati harus bertanggung jawab atas apa yang diterimanya.
Dalam konteks riwayat keagamaan, prinsip ini mengingatkan kita bahwa label, popularitas, dan klaim tidak dengan sendirinya menggantikan proses memahami dan menilai.
Al-Qur’an Memerintahkan Tabayyun
Prinsip tersebut diperkuat dengan perintah melakukan verifikasi.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu itu.”
QS. Al-Hujurat: 6
Semangat ayat ini adalah tabayyun: memeriksa berita sebelum menjadikannya dasar tindakan.
Dalam kehidupan modern, kita memahami prinsip tersebut dengan sangat mudah.
Sebuah pesan di media sosial tidak otomatis benar hanya karena diteruskan berkali-kali.
Sebuah berita tidak otomatis benar karena dikutip oleh orang terkenal.
Demikian pula dalam persoalan agama, sebuah informasi tidak seharusnya diterima tanpa proses memahami apa sebenarnya yang disampaikan.
Ketika Riwayat Dihadapkan kepada Al-Qur’an
Di sinilah pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an menjadi penting.
Al-Qur’an tidak berdiri sebagai kumpulan ayat yang terpisah-pisah. Ayat yang satu membantu menjelaskan ayat yang lain.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
QS. An-Nisa’: 82
Tadabbur berarti tidak berhenti pada pembacaan permukaan.
Sebuah ayat dibaca dalam kaitannya dengan ayat lainnya.
Sebuah tema dilihat secara keseluruhan.
Sebuah kesimpulan tidak dibangun hanya berdasarkan satu potongan teks.
Maka ketika sebuah riwayat tampak bertentangan dengan prinsip Al-Qur’an, persoalannya perlu dikaji secara serius: apakah riwayat tersebut benar-benar bertentangan, ataukah kita yang belum memahami konteks dan maknanya dengan tepat?
Inilah wilayah kajian, bukan wilayah fanatisme.
Al-Qur’an Meminta Bukti
Dalam banyak persoalan, Al-Qur’an menggunakan argumentasi yang sangat rasional.
Allah berfirman:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah, ‘Kemukakanlah bukti kalian jika kalian orang yang benar.’”
QS. Al-Baqarah: 111
Perhatikan kata burhan.
Al-Qur’an tidak cukup dengan klaim.
Ada tuntutan terhadap bukti.
Karena itu, dalam menghadapi sebuah riwayat, seorang Muslim tidak perlu kehilangan kemampuan berpikir.
Yang diperlukan justru adalah kehati-hatian:
Apa sumbernya? Apa maknanya? Apa konteksnya? Apakah selaras dengan prinsip Al-Qur’an? Apakah ada penjelasan ayat lain mengenai persoalan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan bentuk permusuhan terhadap agama.
Justru ia merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual.
Akal Bukan Hakim Mutlak, tetapi Juga Bukan Musuh Wahyu
Namun ada satu hal yang juga perlu ditegaskan.
Menggunakan akal tidak berarti menjadikan akal sebagai sumber kebenaran mutlak.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan keterbatasan pengetahuan manusia:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
QS. Al-Isra’: 85
Ayat ini memberikan keseimbangan.
Manusia harus berpikir, tetapi manusia juga harus menyadari keterbatasannya.
Karena itu, ketika seseorang merasa suatu riwayat “tidak masuk akal”, ia seharusnya tidak langsung menyimpulkan bahwa riwayat itu pasti salah.
Bisa jadi persoalannya berada pada pemahaman bahasa.
Bisa jadi konteks sejarahnya belum diketahui.
Bisa jadi makna yang dipahami selama ini tidak tepat.
Bisa jadi riwayatnya memang bermasalah.
Atau bisa jadi justru asumsi kita yang perlu diperbaiki.
Sikap ilmiah adalah memeriksa sebelum memutuskan.
Al-Qur’an Mengkritik Orang yang Mengikuti Mayoritas Tanpa Pengetahuan
Kebenaran juga tidak ditentukan oleh jumlah pengikut.
Allah berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat perkiraan.”
QS. Al-An’am: 116
Ayat ini memberikan peringatan yang sangat relevan.
Kebenaran tidak menjadi benar karena mayoritas mengatakannya.
Demikian pula suatu pendapat tidak menjadi salah hanya karena sedikit orang yang mengikutinya.
Ukuran kebenaran harus dicari melalui petunjuk dan pengetahuan, bukan semata-mata jumlah pengikut.
Al-Qur’an Juga Mengkritik Taklid kepada Leluhur
Persoalan taklid bukan hanya masalah mengikuti tokoh agama.
Al-Qur’an bahkan mengkritik manusia yang menjadikan tradisi leluhur sebagai alasan terakhir.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
Lalu Allah bertanya:
أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
QS. Al-Baqarah: 170
Pesannya jelas.
Tradisi tidak boleh menggantikan kebenaran.
Riwayat tidak boleh diterima semata-mata karena sudah lama dikenal.
Dan pendapat manusia tidak boleh ditempatkan pada kedudukan yang tidak pernah diberikan Al-Qur’an kepadanya.
Ke Mana Seorang Muslim Harus Berpaling?
Pertanyaan utama kita kembali muncul:
Jika nalar berhadapan dengan sebuah riwayat, ke mana seorang Muslim harus berpaling?
Al-Qur’an memberikan prinsip:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang apa pun yang kamu perselisihkan, maka keputusannya dikembalikan kepada Allah.”
QS. Asy-Syura: 10
Ayat ini sangat fundamental.
Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali bukan hawa nafsu.
Bukan fanatisme kelompok.
Bukan pula semata-mata pendapat manusia.
Keputusan dikembalikan kepada Allah.
Dan dalam kerangka Kajian Syahida, kembali kepada Allah berarti kembali kepada petunjuk-Nya sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an sebagai Pembeda
Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai Al-Furqan—pembeda.
Allah berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”
QS. Al-Furqan: 1
Jika Al-Qur’an adalah Furqan, maka ia memiliki fungsi membedakan.
Benar dan salah.
Petunjuk dan kesesatan.
Kebenaran dan kebatilan.
Karena itu, dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an ditempatkan sebagai rujukan untuk memahami pesan-pesan keagamaan yang diperselisihkan.
Bukan berarti setiap riwayat harus ditolak.
Bukan pula berarti setiap riwayat harus diterima tanpa kajian.
Yang diperlukan adalah penilaian yang jujur dan bertanggung jawab.
Jangan Mengubah Akal Menjadi Berhala Baru
Ada bahaya lain yang juga harus dihindari.
Setelah kecewa terhadap suatu doktrin, seseorang dapat beralih ke ekstrem yang lain: menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran kebenaran.
“Kalau menurut saya benar, berarti benar.”
“Kalau menurut saya tidak masuk akal, berarti pasti salah.”
Al-Qur’an mengingatkan:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
QS. Al-Jatsiyah: 23
Akal sehat berbeda dengan selera pribadi.
Akal sehat bersedia mengoreksi dirinya.
Akal sehat mencari bukti.
Akal sehat bersedia mengatakan “saya belum tahu”.
Dan yang paling penting, akal sehat bersedia menerima kebenaran sekalipun kebenaran tersebut tidak sesuai dengan keinginannya.
Mendengar, Menimbang, lalu Mengikuti yang Terbaik
Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang memiliki kedewasaan berpikir:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
QS. Az-Zumar: 18
Ini merupakan salah satu gambaran paling indah mengenai sikap intelektual dalam Al-Qur’an.
Mereka mendengar.
Mereka tidak takut terhadap informasi.
Mereka mempertimbangkan.
Mereka tidak langsung menerima atau menolak.
Kemudian mereka mengikuti yang terbaik.
Dan Al-Qur’an menyebut mereka sebagai Ulul Albab.
Dengan demikian, keterbukaan terhadap pertanyaan bukan tanda lemahnya iman.
Yang penting adalah kejujuran dalam mencari kebenaran.
QUR’AN BIL QUR’AN: Apa yang Menjadi Titik Kembali?
Jika seluruh ayat tersebut dibaca bersama, tampak sebuah pola yang sangat jelas.
Al-Qur’an memerintahkan manusia menggunakan akal.
Al-Qur’an melarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu.
Al-Qur’an memerintahkan tabayyun.
Al-Qur’an meminta bukti.
Al-Qur’an mengkritik taklid buta.
Al-Qur’an mengingatkan bahaya hawa nafsu.
Al-Qur’an mendorong manusia mendengar dan memilih yang terbaik.
Dan ketika terjadi perselisihan:
فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Maka keputusannya dikembalikan kepada Allah.”
Inilah rangkaian yang dapat dibaca sebagai metodologi Qur’an bil Qur’an.
Bukan:
riwayat → fanatisme → pembenaran.
Bukan pula:
nalar pribadi → selera → penolakan.
Melainkan:
informasi → tabayyun → tadabbur → penalaran → pembandingan dengan petunjuk Al-Qur’an → pencarian kebenaran → tunduk kepada Allah.
Penutup: Bukan Memilih Antara Akal dan Wahyu
Pada akhirnya, persoalan ini tidak semestinya dipahami sebagai perang antara akal dan riwayat.
Akal adalah alat yang Allah berikan kepada manusia.
Riwayat adalah informasi yang harus dipelajari, diteliti, dan dipahami secara bertanggung jawab.
Sedangkan Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang menjadi petunjuk dan Furqan.
Karena itu, ketika seorang Muslim menemukan sebuah riwayat yang membuatnya gelisah, ia tidak perlu panik.
Jangan buru-buru menolak agama.
Tetapi jangan pula buru-buru mematikan akal.
Periksa. Teliti. Tadabburi. Bandingkan. Cari konteks. Dan kembalikan persoalan kepada petunjuk Allah.
Sebab Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia menjadi pengikut yang hanya berkata:
“Saya menerima karena orang lain mengatakan demikian.”
Al-Qur’an juga tidak mengajarkan manusia menjadi hakim yang berkata:
“Saya menolak karena saya tidak menyukainya.”
Al-Qur’an mengajarkan manusia menjadi Ulul Albab: manusia yang mendengar, berpikir, menimbang, mencari yang terbaik, lalu mengikuti kebenaran.
Maka ketika nalar berhadapan dengan riwayat, pertanyaan terpenting bukan:
“Haruskah saya memilih akal atau riwayat?”
Melainkan:
“Bagaimana saya menemukan kebenaran dengan akal yang jernih, ilmu yang bertanggung jawab, dan petunjuk Al-Qur’an?”
Di situlah seorang Muslim tidak kehilangan akalnya karena agama, dan tidak pula kehilangan agamanya karena akal.
Ia kembali kepada Allah.
Ia kembali kepada Al-Qur’an.
Dan ia mencari kebenaran dengan kesadaran yang penuh. (syahida)





























