Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kembali kepada Al-Qur’an: Jalan Keluar dari Dogma Keagamaan

14
×

Kembali kepada Al-Qur’an: Jalan Keluar dari Dogma Keagamaan

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Ketika Agama Lebih Banyak Diwariskan daripada Dipahami

JAKARTA.PPMIndonesia.com — Agama dapat menjadi jalan yang menerangi kehidupan ketika manusia menjadikan wahyu sebagai petunjuk. Namun, agama juga dapat berubah menjadi sekumpulan dogma ketika ajaran yang diwariskan diterima tanpa diperiksa kembali kepada sumber wahyu.

Al-Qur’an sendiri berulang kali mengajak manusia untuk membaca, berpikir, memperhatikan, menggunakan akal, dan mentadabburi ayat-ayat Allah. Karena itu, kembali kepada Al-Qur’an bukan sekadar kembali kepada mushaf secara fisik, melainkan kembali kepada pesan wahyu sebagai ukuran dalam memahami keyakinan dan kehidupan beragama.

Inilah yang menjadi perhatian Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an: memahami suatu ayat dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya sehingga makna tidak dibangun hanya berdasarkan tradisi, asumsi, atau pendapat manusia.

Al-Qur’an Diturunkan sebagai Petunjuk

Langkah pertama dalam memahami posisi Al-Qur’an adalah melihat bagaimana Al-Qur’an sendiri menjelaskan fungsinya.

Allah berfirman:

QS Al-Baqarah [2]: 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai hudan, petunjuk.

Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar simbol keagamaan, bukan hanya bacaan dalam upacara, dan bukan sekadar teks yang disimpan sebagai identitas umat. Fungsi utamanya adalah memberi petunjuk.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana manusia memperoleh petunjuk jika Al-Qur’an tidak dipahami?

Karena itu, Al-Qur’an menghubungkan wahyu dengan aktivitas berpikir dan memahami.

Al-Qur’an Tidak Menghendaki Manusia Beragama Tanpa Berpikir

Al-Qur’an berkali-kali mempertanyakan manusia yang tidak menggunakan akalnya.

Allah berfirman:

QS Al-Baqarah [2]: 170

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”

Ayat ini menunjukkan persoalan yang sangat mendasar: warisan bukan otomatis kebenaran.

Sesuatu yang telah dilakukan turun-temurun tidak dengan sendirinya menjadi ukuran kebenaran. Ukurannya adalah apakah ia sesuai dengan petunjuk Allah.

Di sinilah dogma keagamaan dapat mulai terbentuk: ketika sesuatu diterima bukan karena dipahami melalui wahyu, tetapi karena “begitulah yang sudah dilakukan sejak dahulu.”

Mengikuti Tradisi Tanpa Ilmu Bukan Jalan Al-Qur’an

Prinsip tersebut ditegaskan kembali dalam ayat lain.

QS Al-Isra [17]: 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Perintahnya jelas: jangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Ayat ini sangat relevan dalam kehidupan keagamaan. Tidak semua yang terdengar atas nama agama otomatis menjadi kebenaran. Tidak semua pendapat tokoh otomatis menjadi wahyu. Tidak semua tradisi keagamaan otomatis identik dengan ajaran Allah.

Manusia diberi pendengaran, penglihatan, dan hati agar digunakan untuk mencari pengetahuan dan kebenaran.

Al-Qur’an Memerintahkan Tadabbur

Jika manusia tidak boleh mengikuti sesuatu tanpa ilmu, lalu bagaimana wahyu harus diperlakukan?

Al-Qur’an memberikan jawabannya: tadabbur.

Allah berfirman:

QS Shad [38]: 29

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

Perhatikan hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya.

Al-Isra [17]: 36 melarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Shad [38]: 29 kemudian menunjukkan salah satu jalan memperoleh pemahaman: mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an.

Dengan demikian, membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada pelafalan. Wahyu menghendaki manusia merenungkan, memahami, dan mengambil pelajaran.

Tadabbur Mengubah Cara Membaca Al-Qur’an

Tadabbur juga dijelaskan melalui pertanyaan yang sangat kuat:

QS An-Nisa [4]: 82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”

Ayat ini tidak mengatakan manusia harus berhenti pada pembacaan literal. Justru manusia diajak menyelidiki Al-Qur’an secara mendalam.

Inilah dasar penting bagi metode Qur’an bil Qur’an.

Satu ayat tidak berdiri sendirian. Ayat-ayat Al-Qur’an membentuk jaringan makna. Sebuah istilah dapat dijelaskan oleh penggunaannya di tempat lain. Sebuah prinsip dapat diperjelas oleh ayat lain. Sebuah persoalan dapat dilihat dari berbagai sisi melalui keseluruhan pesan Al-Qur’an.

Karena itu, memahami Al-Qur’an dengan Al-Qur’an berarti memberikan ruang kepada wahyu untuk menjelaskan dirinya sendiri.

Dogma Muncul Ketika Pendapat Menjadi Lebih Tinggi daripada Wahyu

Al-Qur’an juga mengingatkan manusia mengenai kecenderungan menjadikan sesuatu yang berasal dari manusia sebagai ukuran agama.

Allah berfirman:

QS At-Taubah [9]: 31

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Ayat ini tidak harus dipahami semata-mata sebagai kritik terhadap profesi atau keberadaan orang berilmu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika otoritas manusia mengambil posisi yang seharusnya menjadi milik Allah.

Ketika sebuah pendapat tidak boleh dikritik, ketika suatu doktrin tidak boleh diperiksa, ketika sebuah tafsir dianggap tidak mungkin salah, atau ketika manusia diwajibkan tunduk kepada pendapat tertentu meskipun bertentangan dengan pesan wahyu, maka agama berpotensi berubah menjadi dogma.

Kembali kepada Allah Ketika Terjadi Perselisihan

Lalu bagaimana Al-Qur’an memberikan jalan keluar ketika manusia berbeda pendapat?

Allah berfirman:

QS An-Nisa [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Ayat ini memberikan prinsip penting: ketika terjadi perselisihan, persoalan harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul.

Dalam kerangka Qur’an bil Qur’an, prinsip ini mengarahkan manusia kembali kepada sumber risalah, bukan menjadikan perbedaan pendapat manusia sebagai sumber kebenaran yang tidak boleh diuji.

Dengan demikian, ketika berbagai pemahaman keagamaan berkembang, Al-Qur’an tetap menjadi salah satu ukuran utama untuk menguji apakah suatu pemahaman memiliki dasar dalam wahyu.

Allah Menurunkan Al-Qur’an sebagai Pembeda

Al-Qur’an juga menjelaskan dirinya sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah.

QS Al-Furqan [25]: 1

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

Istilah Al-Furqan menunjuk pada fungsi pembeda.

Maka secara metodologis, manusia tidak seharusnya menjadikan dogma sebagai alat untuk menilai Al-Qur’an. Sebaliknya, Al-Qur’an digunakan untuk menguji pemahaman keagamaan manusia.

Inilah pembalikan cara berpikir yang penting.

Bukan:

Ini benar karena sudah menjadi doktrin.”

Tetapi:

Apakah doktrin ini memiliki dasar dan keselarasan dengan pesan Al-Qur’an?

Kembali kepada Al-Qur’an Bukan Berarti Menolak Akal

Ada anggapan bahwa kembali kepada Al-Qur’an berarti meninggalkan akal dan tradisi intelektual.

Justru Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal.

Allah berfirman:

QS Muhammad [47]: 24

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Pertanyaan ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar ada atau tidak adanya Al-Qur’an, tetapi terbuka atau tertutupnya manusia terhadap pesan Al-Qur’an.

Seseorang dapat memiliki Al-Qur’an tetapi tidak membiarkan Al-Qur’an mengoreksi pemahamannya.

Seseorang dapat membaca banyak ayat tetapi tetap mempertahankan kesimpulan yang diwariskan kepadanya tanpa mau mengujinya.

Karena itu, kembali kepada Al-Qur’an membutuhkan kerendahan hati intelektual: kesiapan untuk mengatakan bahwa pemahaman manusia dapat keliru, sementara wahyu Allah menjadi ukuran yang harus terus dikaji.

Dari Dogma Menuju Kesadaran

Qur’an bil Qur’an tidak berhenti pada kritik terhadap dogma.

Tujuan akhirnya adalah membangun manusia yang sadar kepada Allah.

Allah berfirman:

QS Az-Zumar [39]: 18

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Ayat ini memberikan gambaran menarik tentang manusia yang memperoleh petunjuk.

Ia mendengarkan.

Ia mempertimbangkan.

Ia memilih yang terbaik.

Ia menggunakan akal sehat.

Dengan demikian, iman Qur’ani tidak identik dengan sikap menutup diri dari pertanyaan. Sebaliknya, ia mengandung kesediaan untuk mendengar, memahami, menimbang, dan mencari kebenaran.

Ukuran Akhir Bukan Identitas, tetapi Ketakwaan

Ketika dogma dan identitas kelompok dilepaskan sebagai ukuran utama, Al-Qur’an mengarahkan manusia kepada ukuran yang lebih dalam: takwa.

Allah berfirman:

QS Al-Hujurat [49]: 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Ayat ini menggeser pusat perhatian manusia.

Bukan gelar.

Bukan kelompok.

Bukan simbol.

Bukan identitas sosial.

Bukan banyaknya klaim tentang kebenaran.

Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah takwa.

Dan takwa bukan sekadar pengakuan. Ia harus tercermin dalam kehidupan.

Iman Harus Melahirkan Amal Saleh

Al-Qur’an berulang kali menghubungkan iman dengan amal saleh.

QS Al-‘Asr [103]: 1–3

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Di sini terlihat ujung dari rangkaian Qur’an bil Qur’an.

Kembali kepada Al-Qur’an bukan untuk memenangkan perdebatan.

Bukan pula untuk mengganti satu dogma dengan dogma baru.

Tujuannya adalah agar iman melahirkan amal saleh, kebenaran, kesabaran, dan kehidupan yang lebih baik.

Alur Qur’an Bil Qur’an: Dari Dogma Menuju Petunjuk

Jika seluruh ayat di atas dibaca sebagai satu rangkaian, tampak sebuah alur yang sangat kuat:

Al-Qur’an adalah petunjuk

Manusia tidak boleh mengikuti sesuatu tanpa ilmu

Tradisi tidak otomatis menjadi kebenaran

Al-Qur’an harus ditadabburi

Ayat-ayat saling menjelaskan dan menjadi bahan perenungan

Otoritas manusia tidak boleh menggantikan otoritas Allah

Perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul

Al-Qur’an menjadi Furqan—pembeda dan ukuran

Akal digunakan untuk memahami wahyu

Petunjuk menghasilkan takwa

Takwa tercermin dalam amal saleh

Inilah yang membedakan Qur’an bil Qur’an dari sekadar mengumpulkan ayat.

Ayat pertama membuka persoalan.

Ayat berikutnya menjelaskan.

Ayat lainnya memperluas.

Ayat berikutnya mengoreksi kecenderungan manusia.

Dan pada akhirnya, keseluruhan pesan membawa manusia kembali kepada tujuan utama wahyu: petunjuk Allah.

Bukan Mengganti Dogma dengan Dogma Baru

Karena itu, ajakan kembali kepada Al-Qur’an harus dipahami secara hati-hati.

Kembali kepada Al-Qur’an bukan berarti seseorang kemudian berkata, “Hanya pemahaman saya yang benar.”

Sikap seperti itu justru dapat melahirkan dogma baru.

Qur’an bil Qur’an mengajarkan sesuatu yang lebih rendah hati: biarkan Al-Qur’an terus berbicara, biarkan ayat-ayatnya saling menerangkan, dan sadari bahwa pemahaman manusia tetap merupakan hasil usaha manusia.

Yang absolut adalah wahyu Allah.

Yang perlu terus diperiksa adalah pemahaman kita terhadap wahyu tersebut.

Di sinilah pentingnya tadabbur.

Kembali kepada Wahyu, Bukan Sekadar kepada Tradisi

Dogma keagamaan tidak selalu muncul karena manusia tidak memiliki kitab suci. Ia dapat muncul justru ketika kitab suci telah ada tetapi pemahaman terhadapnya dibekukan oleh tradisi, otoritas, kebiasaan, atau klaim kelompok.

Al-Qur’an menawarkan jalan yang berbeda.

Ia mengajak manusia berpikir.

Ia melarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Ia memerintahkan tadabbur.

Ia mengingatkan agar manusia tidak menjadikan manusia lain sebagai tandingan bagi Allah.

Ia memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Furqan.

Dan ia mengarahkan manusia kepada iman, takwa, dan amal saleh.

Karena itu, kembali kepada Al-Qur’an bukan sekadar kembali membaca teks, melainkan kembali menjadikan wahyu sebagai sumber petunjuk dan ukuran untuk memeriksa pemahaman keagamaan kita sendiri.

Barangkali jalan keluar dari dogma bukanlah mencari doktrin baru.

Jalan keluarnya adalah kembali membuka Al-Qur’an, membaca ayat dengan ayat, mentadabburinya, dan membiarkan wahyu mengoreksi apa yang selama ini kita anggap pasti.

Dari warisan menuju penelitian.
Dari taklid menuju tadabbur.
Dari dogma menuju kesadaran.
Dari klaim menuju takwa.
Dan dari seluruh pencarian itu, kembali kepada Allah.


KOTAK REFLEKSI | KAJIAN SYAHIDA

“Jangan hanya bertanya: Apa yang dikatakan tradisi tentang agama?
Bertanyalah pula: Apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang agama itu sendiri?”

Qur’an Bil Qur’an mengajak pembaca tidak sekadar mengumpulkan ayat, tetapi mengikuti alur makna antarayat sehingga Al-Qur’an menjadi penjelas bagi Al-Qur’an.

Example 120x600