JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ada banyak cara untuk mengukur kemajuan ekonomi: pertumbuhan, investasi, produksi, perdagangan, hingga perkembangan teknologi. Namun di balik berbagai indikator tersebut terdapat pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah pertumbuhan ekonomi ikut memperbaiki kehidupan masyarakat?
Pertanyaan ini penting karena ekonomi pada akhirnya bukan sekadar angka. Ekonomi menyangkut kehidupan petani, nelayan, pedagang kecil, pelaku UMKM, pekerja, masyarakat desa, dan generasi muda yang sedang membangun masa depan.
Pertumbuhan ekonomi menjadi bermakna apabila menciptakan kesempatan, meningkatkan produktivitas, memperluas lapangan kerja, dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang.
Ketika Pertumbuhan Tidak Merata
Persoalan ekonomi rakyat sering kali bukan semata-mata kekurangan potensi.
Petani memiliki tanah, tetapi belum tentu memiliki akses pasar. UMKM memiliki produk, tetapi belum tentu mampu menembus rantai distribusi. Masyarakat desa memiliki sumber daya, tetapi nilai tambahnya sering berkembang di luar wilayah.
Artinya, tantangan utama terletak pada kemampuan menghubungkan potensi, kelembagaan, modal, teknologi, dan pasar.
Karena itu, pemberdayaan ekonomi tidak cukup dilakukan melalui bantuan atau pelatihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang memungkinkan usaha masyarakat tumbuh secara berkelanjutan.
Koperasi sebagai Penguat Posisi Tawar
Dalam konteks tersebut, koperasi memiliki relevansi yang kuat.
Koperasi dapat menghimpun kekuatan ekonomi yang tersebar: produksi petani, usaha UMKM, kebutuhan konsumen, hingga potensi ekonomi desa.
Koperasi masa depan tidak cukup hanya bergerak pada simpan pinjam. Ia perlu berkembang menjadi lembaga yang mampu mengelola produksi, pengadaan bahan baku, pemasaran, distribusi, teknologi, dan kemitraan.
Kekuatan koperasi terletak pada kemampuannya mengubah usaha individual menjadi kekuatan kolektif.
Petani tidak harus berhadapan sendiri dengan pasar.
UMKM tidak harus membangun rantai distribusi sendiri.
Masyarakat desa tidak harus mencari akses pembiayaan secara sendiri-sendiri.
Di sinilah koperasi dapat memperkuat posisi tawar.
Ekonomi Hijau Membuka Ruang Baru
Perubahan menuju ekonomi hijau membawa peluang sekaligus tantangan.
Pertanian berkelanjutan, ekonomi sirkular, energi terbarukan, pengelolaan sampah, rehabilitasi mangrove, ekowisata, dan berbagai aktivitas lingkungan lainnya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi.
Namun peluang tersebut harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian.
Masyarakat yang terlibat dalam perlindungan lingkungan perlu memiliki pengetahuan mengenai mekanisme ekonomi yang berkembang, termasuk aspek hak, kewajiban, risiko, tata kelola dan pembagian manfaat.
Hal ini semakin penting dalam pembahasan mengenai Nilai Ekonomi Karbon dan perdagangan karbon.
Tidak semua aktivitas penghijauan otomatis menghasilkan kredit karbon. Ada persyaratan, metodologi, pengukuran, pelaporan, verifikasi, pencatatan dan ketentuan perdagangan yang harus dipenuhi.
Karena itu, masyarakat perlu memahami mekanismenya sebelum masuk ke dalam aktivitas tersebut.
Prinsipnya sederhana:
Karbon boleh menjadi komoditas, tetapi lingkungan dan kepentingan masyarakat harus tetap terlindungi.
UMKM Tidak Cukup Bertahan
Ekonomi rakyat juga membutuhkan UMKM yang mampu berkembang.
Persoalannya bukan hanya bagaimana menambah jumlah pelaku usaha, tetapi bagaimana membuat usaha tersebut semakin produktif dan memiliki akses terhadap pasar.
Rantai penguatan UMKM perlu bergerak dari:
bahan baku → produksi → kualitas → kemasan → branding → digitalisasi → pembiayaan → pemasaran → distribusi.
Di sinilah kolaborasi antara koperasi, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, teknologi, dan komunitas menjadi penting.
UMKM tidak cukup diberi pelatihan.
Mereka membutuhkan pendampingan sampai mampu menghasilkan nilai tambah.
Generasi Muda dan Ekonomi Baru
Transformasi ekonomi juga membutuhkan generasi muda.
Mereka memiliki kemampuan yang relatif kuat dalam teknologi digital, komunikasi, kreativitas dan jejaring.
Potensi tersebut dapat diarahkan untuk memperbarui cara koperasi dan UMKM bekerja.
Digitalisasi koperasi, pemasaran daring, pengelolaan data, pengembangan produk, ekonomi kreatif, hingga inovasi lingkungan dapat menjadi ruang baru bagi kader dan generasi muda.
Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada regenerasi organisasi.
Kaderisasi juga mempersiapkan manusia yang mampu membaca persoalan dan menciptakan solusi.
Dari Program kepada Proses
Di sinilah pendekatan pemberdayaan perlu diperbarui.
Program biasanya memiliki awal dan akhir.
Pemberdayaan seharusnya membangun proses yang terus berkembang.
Masyarakat ikut mengenali persoalan, menentukan kebutuhan, mencoba solusi, mengevaluasi hasil, dan mengembangkan apa yang berhasil.
Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan atau kegiatan yang terlaksana.
Ukuran yang lebih penting adalah perubahan di lapangan:
apakah produktivitas meningkat, usaha berkembang, pendapatan bertambah, kelembagaan semakin kuat, dan masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan prosesnya sendiri?
PENAS X dan Arah Ekonomi Rakyat
Gagasan tersebut menemukan ruang dalam Pertemuan Nasional (PENAS) X Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).
PENAS X bukan hanya forum konsolidasi dan kaderisasi. Ia dapat menjadi ruang untuk membaca perubahan ekonomi sekaligus merumuskan agenda gerakan untuk periode 2026–2031.
Koperasi, UMKM, kewirausahaan, ekonomi hijau, ekonomi sirkular, digitalisasi, desa produktif, dan perdagangan karbon berbasis komunitas perlu ditempatkan dalam satu kerangka besar:
membangun ekonomi yang memiliki basis masyarakat dan berorientasi pada keberlanjutan.
Dari sinilah gagasan 10 Agenda Ekonomi Rakyat PPM 2026–2031 memperoleh relevansinya.
Agenda tersebut tidak dimaksudkan sebagai daftar proyek, tetapi sebagai arah praksis yang dapat diterjemahkan melalui berbagai model sesuai kebutuhan daerah.
Ekonomi yang Tidak Meninggalkan Rakyat
Pembangunan ekonomi tidak harus mempertentangkan pertumbuhan dengan pemerataan.
Keduanya dapat berjalan bersama apabila masyarakat memiliki akses terhadap kesempatan ekonomi dan kelembagaan yang memadai.
Investasi dapat menciptakan lapangan kerja.
Teknologi dapat meningkatkan produktivitas.
Pasar dapat memperluas usaha.
Koperasi dapat memperkuat posisi tawar.
Ekonomi hijau dapat membuka sumber nilai baru.
Namun semuanya membutuhkan tata kelola yang memastikan manfaat pembangunan tidak berhenti pada kelompok yang memiliki modal dan akses paling besar.
Karena itu, pertanyaan mengenai masa depan ekonomi bukan hanya:
seberapa cepat kita tumbuh?
Tetapi juga:
seberapa luas kesempatan yang kita ciptakan?
Dan:
seberapa banyak masyarakat yang mampu berkembang bersama perubahan tersebut?
Dari PENAS X untuk Perubahan
PENAS X dapat menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai kekuatan tersebut.
Koperasi membawa kelembagaan.
UMKM membawa produktivitas.
Masyarakat membawa pengalaman dan potensi lokal.
Generasi muda membawa inovasi.
Perguruan tinggi membawa pengetahuan.
Dunia usaha membawa teknologi dan pasar.
Pemerintah membawa kebijakan dan fasilitasi.
PPM dapat mengambil peran sebagai penghubung dan penggerak proses pemberdayaan.
Yang diperlukan bukan sekadar memperbanyak kegiatan, melainkan memperbanyak model yang dapat bekerja dan direplikasi.
Mulai dari koperasi hijau, UMKM hijau, desa ekonomi sirkular, kewirausahaan muda, hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Mulai kecil.
Diuji.
Diperbaiki.
Kemudian diperluas.
Itulah cara gagasan menjadi praksis.
Dan praksis menjadi gerakan.
Penutup
Ekonomi masa depan akan semakin dipengaruhi teknologi, perubahan iklim, pasar global dan transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Indonesia tidak dapat menghindari perubahan tersebut.
Yang perlu dipastikan adalah masyarakat memiliki kapasitas untuk menghadapinya.
Bukan hanya sebagai konsumen perubahan, tetapi sebagai pelaku yang mampu menciptakan nilai.
Koperasi dapat menjadi salah satu kendaraan.
UMKM menjadi salah satu kekuatan produktif.
Generasi muda menjadi energi pembaruan.
Ekonomi hijau menjadi salah satu arah baru.
Dan peranserta masyarakat menjadi fondasi prosesnya.
Sebab pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang menciptakan ekonomi yang tumbuh.
Ia juga tentang menciptakan ekonomi yang memberikan kesempatan untuk tumbuh.
Ekonomi boleh berubah.
Teknologi boleh berkembang.
Pasar boleh semakin terbuka.
Tetapi satu hal tidak boleh hilang:
rakyat harus tetap menjadi bagian dari masa depan ekonomi Indonesia.
PPM INDONESIA
Gerakan, Persaudaraan, dan Pemberdayaan Masyarakat
Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Peradaban





























