JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada dua kecenderungan yang sering muncul dalam kehidupan keagamaan.
Di satu sisi terdapat taklid: menerima suatu pendapat karena diwariskan, dikatakan tokoh, atau telah menjadi kebiasaan, tanpa memeriksa kembali dasar kebenarannya.
Di sisi lain terdapat liberalisme keagamaan yang ekstrem: menjadikan pertimbangan pribadi sebagai ukuran tertinggi sehingga sesuatu diterima jika sesuai dengan keinginan dan ditolak jika dianggap tidak sesuai dengan selera.
Keduanya tampak berlawanan.
Namun jika Al-Qur’an dijadikan rujukan utama, keduanya sama-sama menyimpan persoalan.
Al-Qur’an tidak mengajarkan kepatuhan buta, tetapi juga tidak mengajarkan kebebasan tanpa batas.
Al-Qur’an menawarkan jalan yang lebih mendasar: mendengar, berpikir, memeriksa, memahami, memilih kebenaran, lalu tunduk kepada Allah.
Inilah jalan tengah yang dapat ditemukan melalui pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.
Taklid: Ketika Tradisi Menggantikan Kebenaran
Al-Qur’an memberikan kritik sangat tajam terhadap sikap mengikuti nenek moyang hanya karena mereka adalah nenek moyang.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
QS. Al-Baqarah: 170
Perhatikan struktur kritik Al-Qur’an.
Yang dipersoalkan bukan semata-mata mengikuti orang lain, melainkan mengikuti tanpa mempertimbangkan apakah yang diikuti itu benar dan mendapat petunjuk.
Tradisi tidak otomatis salah.
Tetapi tradisi juga tidak otomatis benar.
Ukuran kebenaran bukanlah usia sebuah tradisi, jumlah pengikutnya, atau siapa yang pertama kali mengajarkannya.
Ukuran kebenaran harus dikembalikan kepada petunjuk Allah.
Al-Qur’an Tidak Menghendaki Manusia Menyerahkan Akalnya
Jika taklid adalah menerima sesuatu tanpa pemeriksaan, Al-Qur’an justru berkali-kali memerintahkan manusia menggunakan akalnya.
Allah berfirman:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Maka apakah kamu tidak menggunakan akal?”
Ungkapan seperti ini muncul berulang kali dalam Al-Qur’an.
Bahkan Allah menjelaskan:
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu menggunakan akal.”
QS. Al-Baqarah: 242
Ayat tersebut menarik karena memperlihatkan hubungan antara wahyu dan akal.
Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya agar manusia menggunakan akal.
Dengan demikian, memahami wahyu bukan proses mematikan akal.
Sebaliknya, wahyu mengajak akal bekerja.
Namun, Apakah Setiap Orang Bebas Menentukan Kebenaran Sesuka Hati?
Di titik ini kita berhadapan dengan persoalan lain.
Jika taklid buta keliru, apakah solusinya adalah setiap orang bebas menentukan sendiri mana agama yang benar berdasarkan selera pribadinya?
Al-Qur’an tidak mengatakan demikian.
Allah mengingatkan:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ
“Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, niscaya binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya.” QS. Al-Mu’minun: 71
Ayat ini memberikan prinsip penting:
Kebenaran tidak boleh mengikuti hawa nafsu manusia.
Jadi, kebebasan berpikir dalam Islam bukan berarti menjadikan keinginan pribadi sebagai sumber kebenaran.
Manusia boleh bertanya.
Manusia boleh meneliti.
Manusia boleh menguji.
Tetapi setelah kebenaran ditemukan, ia tidak boleh ditolak hanya karena tidak sesuai dengan kepentingan pribadi.
Al-Qur’an Mengajarkan Kebebasan Mendengar dan Memilih yang Terbaik
Di sinilah kita menemukan jalan tengah yang sangat menarik.
Allah berfirman:
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
QS. Az-Zumar: 17–18
Ayat ini mengandung sebuah metodologi berpikir.
Mendengar → mempertimbangkan → memilih yang terbaik.
Orang-orang yang melakukan proses tersebut justru disebut Ulul Albab.
Ini sangat berbeda dengan taklid buta.
Tetapi juga berbeda dengan relativisme yang mengatakan bahwa semua kebenaran hanyalah persoalan selera.
Kebebasan Berpikir Harus Disertai Tanggung Jawab
Al-Qur’an memberikan kebebasan manusia untuk berpikir, tetapi kebebasan itu tidak pernah dilepaskan dari pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
QS. Al-Isra’: 36
Ayat ini merupakan prinsip yang sangat kuat.
Jangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu.
Artinya, seorang Muslim tidak seharusnya berkata:
“Saya ikut saja karena semua orang mengikutinya.”
Tetapi ia juga tidak seharusnya berkata:
“Saya menolak karena menurut saya tidak masuk akal.”
Keduanya belum cukup.
Pertanyaan yang lebih Qur’ani adalah:
Apa ilmunya? Apa dalilnya? Apa konteksnya? Apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang persoalan tersebut?
Tabayyun: Jalan Keluar dari Fanatisme
Al-Qur’an juga mengajarkan prinsip tabayyun atau pemeriksaan terhadap informasi.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu itu.”
QS. Al-Hujurat: 6
Semangat tabayyun seharusnya menjadi budaya dalam kehidupan umat.
Termasuk ketika menerima klaim keagamaan.
Sebuah informasi tidak menjadi benar hanya karena dikutip oleh seseorang.
Sebuah pendapat tidak menjadi benar hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan.
Sebuah doktrin tidak menjadi benar hanya karena telah berlangsung selama ratusan tahun.
Demikian pula sebuah pendapat tidak menjadi salah hanya karena pendapat itu berbeda dengan kebiasaan kita.
Semuanya perlu ditimbang.
Al-Qur’an Meminta Bukti, Bukan Sekadar Klaim
Al-Qur’an bahkan menggunakan bahasa yang sangat tegas:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah, ‘Kemukakanlah bukti kalian jika kalian orang yang benar.’”
QS. Al-Baqarah: 111
Prinsip burhan menunjukkan pentingnya dasar argumentasi.
Karena itu, dalam kajian keagamaan kita perlu membedakan antara:
- wahyu Allah,
- pemahaman manusia terhadap wahyu,
- tradisi keagamaan,
- pendapat tokoh,
- dan klaim yang sekadar dinisbatkan kepada agama.
Kelima hal tersebut tidak selalu identik.
Menyamakan semuanya justru dapat membuat manusia kesulitan membedakan antara agama dan pemahaman manusia terhadap agama.
Kembali kepada Al-Qur’an sebagai Al-Furqan
Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai Al-Furqan, pembeda antara yang benar dan yang batil.
Allah berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”
QS. Al-Furqan: 1
Karena itu, ketika terjadi perselisihan mengenai suatu perkara, Al-Qur’an mengarahkan manusia kembali kepada Allah.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang apa pun yang kamu perselisihkan, maka keputusannya dikembalikan kepada Allah.”
QS. Asy-Syura: 10
Dalam kerangka Qur’an bil Qur’an, ayat-ayat tidak dibaca secara terpisah, tetapi ditempatkan dalam keseluruhan pesan Al-Qur’an.
Dengan demikian, ketika menemukan persoalan yang kontroversial, kita tidak cukup mengambil satu ayat lalu menggunakannya untuk membenarkan pendapat sendiri.
Ayat harus dibaca bersama ayat lainnya.
Taklid dan Liberalisme Sama-Sama Bisa Terjebak Hawa Nafsu
Di sinilah persoalan menjadi lebih menarik.
Taklid ekstrem dapat membuat seseorang berkata:
“Benar karena tokoh saya mengatakan demikian.”
Sementara liberalisme ekstrem dapat membuat seseorang berkata:
“Benar karena menurut saya demikian.”
Keduanya memiliki pusat penilaian yang berbeda, tetapi sama-sama berpotensi menjauh dari prinsip Qur’ani.
Yang pertama menjadikan otoritas manusia sebagai ukuran mutlak.
Yang kedua menjadikan diri sendiri sebagai ukuran mutlak.
Padahal Al-Qur’an mengajarkan:
فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا
“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.”
QS. An-Nisa’: 135
Kebenaran tidak boleh tunduk kepada kepentingan kelompok.
Kebenaran juga tidak boleh tunduk kepada keinginan individu.
Jalan Tengah: Berpikir, Menimbang, lalu Tunduk kepada Kebenaran
Jalan tengah Al-Qur’an bukanlah kompromi antara dua ekstrem.
Ia memiliki prinsipnya sendiri.
Pertama, manusia diperintahkan menggunakan akal.
Kedua, manusia dilarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu.
Ketiga, manusia diperintahkan melakukan tabayyun.
Keempat, manusia diajak mendengar berbagai perkataan dan mengikuti yang terbaik.
Kelima, manusia dilarang menjadikan hawa nafsu sebagai ukuran kebenaran.
Keenam, setelah kebenaran diketahui, manusia diperintahkan tunduk kepada Allah.
Allah berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. An-Nur: 51
Perhatikan urutannya.
Ada proses mendengar, memahami keputusan, kemudian menaati.
Ketundukan dalam Al-Qur’an bukan ketundukan kepada manusia secara membabi buta, melainkan ketundukan kepada Allah dan kebenaran yang Dia tetapkan.
Bukan Anti-Taklid, Bukan Pemuja Kebebasan
Membaca Al-Qur’an secara utuh membawa kita kepada kesimpulan yang lebih proporsional.
Islam tidak mengharuskan setiap orang menjadi ahli dalam segala bidang. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tentu belajar kepada orang yang lebih mengetahui.
Namun belajar kepada ahli berbeda dengan menganggap manusia tidak mungkin salah.
Demikian pula berpikir kritis tidak berarti seseorang bebas menafsirkan agama sesuka hatinya.
Berpikir kritis berarti bersedia memeriksa dasar suatu pendapat, memahami konteks, membandingkan ayat, melihat keseluruhan pesan Al-Qur’an, dan bersedia mengoreksi diri ketika menemukan kebenaran.
Penutup: Jalan Tengah yang Sebenarnya
Al-Qur’an tidak menghendaki manusia menjadi pengikut buta.
Tetapi Al-Qur’an juga tidak menghendaki manusia menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.
Taklid buta berkata:
“Saya percaya karena mereka berkata demikian.”
Liberalisme ekstrem berkata:
“Saya percaya karena saya berkata demikian.”
Sementara jalan Al-Qur’an berkata:
“Saya mencari kebenaran dengan akal yang jernih, memeriksa dengan ilmu, menimbang dengan adil, mendengarkan berbagai pandangan, dan ketika kebenaran Allah telah jelas, saya tunduk kepadanya.”
Inilah jalan Ulul Albab.
Allah berfirman:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
QS. Az-Zumar: 18
Maka, jalan tengah Al-Qur’an bukan berada di antara taklid dan liberalisme sebagai dua ideologi yang harus diseimbangkan. Jalan tengah itu adalah kembali kepada prinsip Al-Qur’an sendiri: menggunakan akal tanpa mempertuhankan akal, menghormati ilmu tanpa mengkultuskan manusia, menghargai tradisi tanpa diperbudak tradisi, dan membuka ruang berpikir tanpa menjadikan hawa nafsu sebagai hakim kebenaran.
Itulah kebebasan yang bertanggung jawab dan ketundukan yang sadar.
KOTAK RENUNGAN | KAJIAN SYAHIDA
Taklid bertanya: “Siapa yang mengatakan?”
Liberalisme ekstrem bertanya: “Apa yang saya sukai?”
Al-Qur’an mengajarkan: “Apa yang benar menurut petunjuk Allah?”
Dari taklid menuju ilmu.
Dari fanatisme menuju tabayyun.
Dari hawa nafsu menuju kebenaran.
Dari sekadar mengikuti menuju memahami.
Kajian Syahida — Al-Qur’an Bil Al-Qur’an
PPMIndonesia.com





























