JAKARTA.PPMIndonesia.com – Ketika berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, yang terbayang sering kali adalah pelatihan ekonomi, koperasi, pertanian, pendidikan, atau pendampingan sosial. Padahal, dalam perjalanan sejarah bangsa, kebudayaan dan seni juga memiliki peran yang sama pentingnya dalam membangun manusia dan memperkuat kehidupan masyarakat.
Kesadaran itulah yang sejak awal dipegang oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM). Bagi PPM, pemberdayaan tidak hanya menyentuh aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga menyentuh jiwa, kreativitas, dan kesadaran budaya masyarakat. Dari pemikiran itulah kemudian lahir Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta), sebuah ruang berkesenian yang menjadikan seni sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat.
Seni sebagai Bahasa Perubahan
Pada pertengahan dekade 1980-an, ketika PPM mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat, sejumlah aktivis menyadari bahwa perubahan sosial membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Masyarakat tidak hanya memerlukan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta membangun kepercayaan diri.
Seni menjadi jawabannya.
Di tangan para perintis Sangkerta, seni tidak dipahami sebagai hiburan semata, melainkan sebagai media pendidikan, komunikasi sosial, dan pengorganisasian masyarakat. Melalui seni, pesan-pesan kemanusiaan, kebangsaan, dan kepedulian sosial dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima.
Karena itulah, ketika Sangkerta berdiri sebagai badan otonom seni budaya di bawah PPM sekitar tahun 1985, kehadirannya bukan sekadar melengkapi aktivitas organisasi, tetapi menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat itu sendiri.
Berawal dari Ruang Publik
Perjalanan Sangkerta dimulai dari ruang yang sangat sederhana: trotoar Malioboro.
Di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, para seniman muda menghadirkan pertunjukan yang memadukan pembacaan puisi, musik, teater, dan berbagai bentuk ekspresi seni lainnya.
Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah pembacaan puisi oleh Ahmad Mukhlis. Untuk membangun suasana dramatik, atas inisiatifnya lampu penerangan di sekitar lokasi pertunjukan dipadamkan sejenak. Dalam temaram malam Malioboro, puisi mengalun dengan penuh penghayatan, menghadirkan pengalaman artistik yang begitu kuat bagi masyarakat yang menyaksikannya.
Peristiwa sederhana itu menjadi simbol bahwa seni tidak harus lahir dari gedung pertunjukan yang megah. Ruang publik pun dapat menjadi panggung pembelajaran, ruang dialog, dan tempat tumbuhnya kesadaran bersama.
Dari trotoar Malioboro itulah benih-benih Sangkerta mulai tumbuh.
Dibangun oleh Semangat Kolektif
Sangkerta lahir bukan dari gagasan satu orang, melainkan dari kerja bersama para seniman, budayawan, dan aktivis yang memiliki cita-cita menghadirkan seni yang lebih dekat dengan masyarakat.
Di antara para perintisnya adalah Almarhum Ali Mustofa Trajutisna, Nunik Tasnim Haryani, Ahmad Mukhlis, Ki Mujar, Badrus Zaman, dan Totong Lis.
Masing-masing memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan bidangnya.
Badrus Zaman, misalnya, merancang logo Sangkerta yang hingga kini menjadi identitas visual komunitas tersebut. Ahmad Mukhlis dikenal sebagai salah satu penggerak pertunjukan awal di Malioboro. Ki Mujar kemudian berperan besar dalam mengembangkan berbagai kegiatan seni dan teater, sementara tokoh-tokoh lainnya memperkuat arah gerakan seni budaya yang dibangun bersama.
Inilah wajah gotong royong yang sesungguhnya. Sangkerta tumbuh dari kolaborasi, bukan dari dominasi.
Rumah bagi Mereka yang Belum Memiliki Panggung
Sejak awal, Sangkerta hadir sebagai ruang alternatif bagi para seniman yang memiliki kemampuan dan karya berkualitas, tetapi belum memperoleh ruang berekspresi di institusi seni formal.
Mahasiswa, seniman otodidak, penulis, pemusik, pekerja seni, hingga masyarakat umum dapat bertemu dan berkarya tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun status sosial.
Prinsip tersebut menjadi ciri khas Sangkerta.
Seni dipandang sebagai hak setiap orang, bukan sebagai privilese segelintir kalangan. Kreativitas tumbuh melalui kebersamaan, saling belajar, dan saling memberi kesempatan.
Membina Generasi melalui Teater
Komitmen Sangkerta dalam pemberdayaan semakin nyata ketika pada tahun 1987 komunitas ini menginisiasi Festival Teater Pelajar Tingkat SLTA se-Yogyakarta.
Saat itu aktivitas teater pelajar sedang mengalami kevakuman. Melihat kondisi tersebut, para aktivis Sangkerta bergerak secara swadaya. Mereka mencari dukungan, menyebarkan undangan ke sekolah-sekolah, menghubungi peserta, hingga mengupayakan piala penghargaan dari berbagai pihak.
Festival yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut itu menjadi ruang belajar yang melahirkan banyak aktor, sutradara, penulis naskah, dan pekerja seni muda.
Apa yang dilakukan Sangkerta menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan hanya soal memberikan bantuan, tetapi juga menciptakan kesempatan agar potensi masyarakat dapat berkembang.
Seni yang Menyatu dengan Kehidupan
Perjalanan Sangkerta tidak hanya diisi dengan pementasan seni.
Komunitas ini juga aktif menyelenggarakan pameran seni rupa, performance art, instalasi seni, produksi program budaya di TVRI, hingga berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Salah satu yang masih dikenang adalah penyelenggaraan Tarawih Bersama di kawasan Malioboro setelah toko-toko tutup pada bulan Ramadan. Kegiatan tersebut melibatkan pramuniaga, masyarakat, dan para aktivis, serta menghadirkan imam dan penceramah dari berbagai kalangan.
Hal itu memperlihatkan bahwa seni, budaya, kehidupan sosial, dan nilai-nilai spiritual dipandang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.
Warisan yang Tetap Relevan
Empat dekade telah berlalu sejak Sangkerta berdiri.
Zaman berubah. Teknologi berkembang. Cara masyarakat menikmati seni pun mengalami transformasi. Namun, nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya tetap memiliki makna yang mendalam.
Sangkerta mengajarkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik atau peningkatan ekonomi semata. Pemberdayaan juga berarti membangun manusia yang kreatif, percaya diri, mampu bekerja sama, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Di sinilah seni menemukan perannya.
Seni membangun imajinasi. Seni melatih keberanian untuk menyampaikan gagasan. Seni mengajarkan kerja sama. Seni memperkuat identitas budaya. Dan pada akhirnya, seni membentuk manusia yang lebih utuh.
Itulah sebabnya Sangkerta tidak pernah berdiri di luar gerakan PPM. Sejak awal, keduanya berjalan beriringan dengan keyakinan yang sama: bahwa pembangunan masyarakat harus menyentuh aspek ekonomi, sosial, pendidikan, sekaligus kebudayaan.
Perjalanan Sangkerta membuktikan satu hal penting: seni bukan pelengkap pembangunan, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemberdayaan masyarakat. Ketika masyarakat diberi ruang untuk berkarya, berkolaborasi, dan mengekspresikan gagasannya, pada saat itulah lahir manusia-manusia yang lebih merdeka, lebih percaya diri, dan lebih siap membangun peradaban.
Karena itu, sejarah Sangkerta bukan sekadar catatan tentang sebuah sanggar seni. Ia adalah bukti bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan sosial, dan bahwa seni, ketika berpihak kepada masyarakat, mampu menjadi jalan menuju pemberdayaan yang sesungguhnya.(ppmindonesia)





























