Scroll untuk baca artikel
BeritaDesa & Ekonomi Rakyat

Dari Citarum Harum Menuju Citarum Next Generation: Saatnya Masyarakat Menjadi Penggerak Utama

2
×

Dari Citarum Harum Menuju Citarum Next Generation: Saatnya Masyarakat Menjadi Penggerak Utama

Share this article

Redaksippmindoneia. Editor; asyary

Dari Citarum Harum Menuju Citarum Next Generation: Saatnya Masyarakat Menjadi Penggerak Utama

OPINI PPMIndonesia

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Selama bertahun-tahun, Sungai Citarum menjadi simbol sekaligus tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) strategis sepanjang sekitar 297 kilometer, Citarum menopang kehidupan lebih dari 25 juta penduduk di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sungai ini menjadi sumber air baku, irigasi pertanian, pembangkit listrik, perikanan, hingga kebutuhan industri nasional.

Kesadaran akan pentingnya Citarum melahirkan Program Citarum Harum, sebuah gerakan nasional yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Program tersebut telah membawa perubahan positif, mulai dari rehabilitasi kawasan hulu, penanganan sampah, pengendalian limbah industri, hingga meningkatnya perhatian publik terhadap kelestarian sungai. Bahkan, praktik baik Citarum Harum pernah diperkenalkan sebagai salah satu contoh pengelolaan sungai pada World Water Forum ke-10.

Namun, keberhasilan sebuah program lingkungan tidak pernah berhenti pada pencapaian jangka pendek. Pemulihan DAS merupakan proses panjang yang harus terus berkembang mengikuti tantangan zaman.

Di berbagai titik, persoalan limbah domestik, pencemaran industri, sedimentasi, perubahan tata guna lahan, dan tekanan akibat pertumbuhan penduduk masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan solusi berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemulihan Citarum tidak cukup hanya diukur dari berkurangnya sampah atau membaiknya kualitas air, tetapi juga dari terbentuknya sistem pengelolaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Dari Program Pemerintah Menjadi Gerakan Masyarakat

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa sungai yang berhasil dipulihkan bukan semata karena kekuatan regulasi, melainkan karena tumbuhnya budaya menjaga sungai di tengah masyarakat.

Inilah tantangan berikutnya bagi Citarum.

Selama ini masyarakat sering diposisikan sebagai penerima manfaat program. Padahal, masyarakat adalah pihak yang hidup berdampingan dengan sungai setiap hari. Mereka mengetahui perubahan lingkungan, memahami persoalan di wilayahnya, sekaligus menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak kerusakan maupun manfaat pemulihan.

Karena itu, paradigma pengelolaan DAS perlu bergeser.

Jika pada tahap awal pemerintah menjadi motor utama, maka tahap berikutnya harus memberikan ruang yang lebih besar kepada masyarakat sebagai pelaku utama perubahan.

Perubahan dari pendekatan top-down menuju bottom-up bukan berarti mengurangi peran pemerintah. Sebaliknya, pemerintah tetap menjadi regulator, fasilitator, dan penguat sistem, sementara masyarakat menjadi penggerak yang memastikan program terus hidup di tingkat akar rumput.

Mengapa Harus “CITARUM NEXT GENERATION”?

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menginisiasi gagasan CITARUM NEXT GENERATION sebagai model penguatan dan penyempurnaan Program Citarum Harum.

Program ini tidak dimaksudkan menggantikan kebijakan yang telah berjalan, melainkan melengkapinya melalui pendekatan yang lebih adaptif terhadap tantangan masa kini dan masa depan.

CITARUM NEXT GENERATION dibangun di atas tiga pilar utama.

Pertama, Smart Monitoring, yaitu pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan transparansi dan efektivitas pengawasan kualitas lingkungan. Sensor pemantauan kualitas air, dashboard publik, dan sistem pelaporan masyarakat memungkinkan pengawasan dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan terbuka.

Kedua, Community Circular Economy, yaitu menghubungkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya ekonomi melalui bank sampah digital, budidaya maggot, agroforestry, UMKM hijau, hingga pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.

Ketiga, Partisipasi Masyarakat Berbasis Bottom-Up, yaitu melibatkan masyarakat sejak tahap pemetaan masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA).

Dengan demikian, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pemilik sekaligus penjaga keberlanjutan program.

Teknologi Tidak Akan Berhasil Tanpa Gotong Royong

Kemajuan teknologi memberikan peluang besar dalam pengelolaan lingkungan. Sensor digital mampu mendeteksi kualitas air secara real-time. Data dapat dianalisis lebih cepat, sementara sistem informasi mampu mempercepat pengambilan keputusan.

Namun teknologi hanyalah alat.

Keberhasilan pemulihan sungai tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.

Karena itu, CITARUM NEXT GENERATION memadukan teknologi dengan nilai-nilai gotong royong yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat Indonesia.

Di kawasan hulu, masyarakat didorong menjadi penjaga kawasan konservasi melalui agroforestry dan rehabilitasi lahan.

Di wilayah tengah, masyarakat berperan dalam pengelolaan sampah, pengawasan lingkungan, dan pengembangan ekonomi sirkular.

Sementara di hilir, masyarakat menjadi bagian dari upaya mitigasi banjir, restorasi bantaran sungai, dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas.

Dengan pendekatan tersebut, pemulihan DAS tidak berhenti pada kegiatan pembersihan, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang menciptakan manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi.

Kolaborasi Menjadi Fondasi

Pemulihan DAS Citarum tidak mungkin berhasil jika hanya mengandalkan satu pihak.

Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat.

Dunia usaha membutuhkan kepastian regulasi sekaligus ruang untuk berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial.

Akademisi menyediakan riset dan inovasi.

Media membangun kesadaran publik.

Organisasi masyarakat memperkuat pemberdayaan komunitas.

Karena itu, pendekatan Pentahelix menjadi fondasi penting dalam CITARUM NEXT GENERATION, dengan menghadirkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan warga dalam satu ekosistem yang saling memperkuat.

Peran PPM dalam Membangun Gerakan Peranserta

Sebagai organisasi yang sejak awal berdiri mengusung semangat pemberdayaan masyarakat, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang bahwa keberhasilan pembangunan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kualitas partisipasi masyarakat.

Melalui gagasan CITARUM NEXT GENERATION, PPM ingin mengambil bagian sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat edukasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi hijau, pendampingan masyarakat, serta pengembangan pengawasan lingkungan berbasis komunitas.

Komitmen tersebut merupakan wujud nyata filosofi PPM bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila masyarakat diberi ruang untuk menjadi pelaku utama perubahan.

Saatnya Memasuki Generasi Baru Pemulihan Citarum

Perjalanan memulihkan Citarum belum selesai.

Yang telah dicapai melalui Program Citarum Harum merupakan fondasi yang sangat berharga. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan fondasi tersebut berkembang menjadi sistem yang lebih tangguh, lebih partisipatif, dan lebih berkelanjutan.

CITARUM NEXT GENERATION menawarkan arah itu.

Bukan sekadar melanjutkan program, tetapi memperkuatnya.

Bukan sekadar membersihkan sungai, tetapi membangun budaya menjaga sungai.

Bukan sekadar memperbaiki lingkungan, tetapi menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, masa depan Citarum tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan atau besarnya anggaran yang dialokasikan, melainkan oleh sejauh mana masyarakat merasa memiliki sungai ini sebagai bagian dari kehidupannya.

Ketika masyarakat menjadi penggerak utama, pemerintah menjadi penguat sistem, dunia usaha menjadi mitra yang bertanggung jawab, dan seluruh pemangku kepentingan berjalan dalam semangat kolaborasi, maka Citarum tidak hanya akan kembali bersih, tetapi juga menjadi model nasional pengelolaan DAS yang berkelanjutan.

Itulah makna sesungguhnya dari perjalanan dari Citarum Harum menuju Citarum Next Generation: membangun masa depan sungai melalui kekuatan masyarakat.(ppmindonesia)

Example 120x600