Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ritual Tanpa Pemahaman: Fenomena Keagamaan yang Dikritik Al-Qur’an

5
×

Ritual Tanpa Pemahaman: Fenomena Keagamaan yang Dikritik Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida Al-Qur'an Bil Al-Qur'an. Oleh; Syahida

Ketika Ritual Menjadi Tujuan, Bukan Jalan

JAKARTA.PPMIndonesia.com Agama dalam kehidupan manusia sering tampil melalui berbagai bentuk ritual: salat, puasa, membaca Al-Qur’an, sedekah, doa, dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya. Semua itu memiliki tempat penting dalam ajaran Islam.

Namun Al-Qur’an mengajak manusia melihat sesuatu yang lebih dalam: apa yang terjadi di dalam diri manusia setelah ritual itu dilakukan?

Apakah salat membuat seseorang semakin dekat kepada Allah? Apakah puasa membentuk ketakwaan? Apakah membaca Al-Qur’an membuat hati semakin tunduk kepada kebenaran? Apakah ibadah melahirkan keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian kepada sesama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang melakukan ibadah, tetapi juga tentang tujuan dan dampak ibadah.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, berbagai ayat dapat dibaca secara saling menjelaskan untuk menemukan pesan bahwa ritual tidak boleh kehilangan kesadaran, ketakwaan, dan pengabdian kepada Allah.

Salat Bukan Sekadar Gerakan

Al-Qur’an tidak menggambarkan salat hanya sebagai serangkaian gerakan fisik.

Allah berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Ayat ini memperlihatkan hubungan antara salat dan dzikrullah, yaitu kesadaran mengingat Allah.

Dengan demikian, salat bukan sekadar aktivitas tubuh. Ia merupakan sarana membangun hubungan sadar antara manusia dengan Allah.

Karena itu, ketika salat dilakukan tetapi kesadaran kepada Allah tidak tumbuh, manusia perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas keberagamaannya.

Al-Qur’an Bahkan Mengkritik Orang yang Salat

Salah satu kritik paling mengejutkan dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya, mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Ayat ini menarik karena objek kritiknya bukan orang yang tidak salat, melainkan orang yang salat tetapi lalai terhadap makna salatnya dan menjadikannya sebagai pertunjukan di hadapan manusia.

Di sini Al-Qur’an membedakan antara bentuk ibadah dan hakikat ibadah.

Bentuknya bisa benar, tetapi orientasinya bisa salah.

Ritual yang Tidak Melahirkan Kepedulian Sosial

Konteks Surah Al-Ma’un semakin memperjelas persoalan tersebut.

Sebelum berbicara tentang orang yang lalai dalam salat, Al-Qur’an berbicara tentang perilaku sosial:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Kemudian Al-Qur’an menyambungkannya dengan kritik terhadap orang yang salat.

Pesannya sangat kuat: keberagamaan yang benar tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap manusia.

Jika ritual semakin banyak tetapi kezaliman, kesombongan, penindasan, dan ketidakpedulian juga semakin kuat, maka ada sesuatu yang perlu direnungkan dalam keberagamaan kita.

Puasa Pun Memiliki Tujuan

Fenomena yang sama terlihat dalam ibadah puasa.

Allah tidak hanya memerintahkan puasa, tetapi menjelaskan tujuan utamanya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Kata kuncinya adalah لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — la‘allakum tattaqūn, “agar kamu bertakwa”.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa diarahkan menuju ketakwaan.

Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, tujuan ini dapat dibaca bersama ayat-ayat lain yang menggambarkan takwa sebagai kualitas moral dan spiritual manusia.

Artinya, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari berapa jam seseorang mampu menahan makan dan minum, tetapi juga dari sejauh mana dirinya mengalami perubahan menuju ketakwaan.

Kurban: Allah Tidak Membutuhkan Bentuk Lahiriah

Prinsip yang sama terlihat dalam ibadah kurban.

Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini merupakan prinsip penting dalam memahami seluruh ritual.

Allah tidak membutuhkan daging dan darah kurban. Yang bernilai di sisi Allah adalah takwa yang melandasi pengorbanan tersebut.

Dengan demikian, Al-Qur’an mengarahkan perhatian manusia dari bentuk menuju makna, dari ritual menuju ketakwaan, dan dari aktivitas lahiriah menuju perubahan batin.

Kebajikan Tidak Hanya Berupa Simbol

Al-Qur’an juga memberikan koreksi terhadap pemahaman agama yang terlalu berpusat pada simbol.

Allah berfirman:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab, dan para nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, melaksanakan salat, menunaikan zakat, menepati janji apabila berjanji, serta sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini tidak membatalkan arah kiblat. Sebaliknya, ayat tersebut mengingatkan bahwa kebajikan tidak boleh direduksi menjadi satu bentuk lahiriah saja.

Iman, kepedulian sosial, salat, zakat, kejujuran, menepati janji, dan kesabaran merupakan satu kesatuan.

Inilah gambaran keberagamaan yang hidup.

Al-Qur’an Tidak Menghendaki Bacaan Tanpa Tadabbur

Masalah ritualisme juga dapat terjadi dalam hubungan manusia dengan Al-Qur’an sendiri.

Seseorang dapat membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi tidak pernah membiarkan ayat-ayatnya mengubah cara berpikir dan perilakunya.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)

Tujuan wahyu bukan hanya menghasilkan suara bacaan, tetapi menghadirkan tadabbur dan peringatan bagi manusia.

Karena itu, membaca Al-Qur’an merupakan awal perjalanan, bukan akhir perjalanan.

Ketika Agama Menjadi Riya

Formalitas agama menjadi lebih berbahaya ketika ibadah diarahkan untuk mendapatkan penilaian manusia.

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya, mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Riya mengubah orientasi ibadah.

Yang semestinya:

Allah → menjadi manusia.

Yang semestinya:

pengabdian → menjadi pencitraan.

Yang semestinya:

ketakwaan → menjadi pengakuan sosial.

Karena itu, Al-Qur’an mengembalikan manusia kepada satu pertanyaan mendasar: untuk siapa seluruh pengabdian itu dilakukan?

Jawabannya: Hanya untuk Allah

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 162–163)

Inilah titik temu seluruh ritual dalam Al-Qur’an: tauhid.

Salat, puasa, kurban, zakat, membaca Al-Qur’an, dan seluruh amal tidak berdiri sebagai tujuan yang terpisah. Semuanya harus mengarah kepada Allah.

Ritual Seharusnya Mengubah Manusia

Al-Qur’an memberikan ukuran yang lebih mendalam terhadap ibadah.

Salat seharusnya memiliki dampak moral:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayat ini memberikan sebuah ukuran penting.

Jika seseorang rajin salat, tetapi tetap sengaja melakukan kezaliman dan kemungkaran tanpa merasa perlu bertobat dan memperbaiki diri, maka ia perlu bertanya: apakah pesan salat sudah benar-benar hadir dalam kehidupannya?

Yang dikritik bukan salatnya, melainkan keberagamaan yang gagal menghadirkan buah dari salat tersebut.

Dari Ritual Menuju Transformasi

Melalui pembacaan Qur’an bil Qur’an, dapat dirumuskan sebuah alur sederhana:

Ritual → Kesadaran → Takwa → Akhlak → Keadilan → Pengabdian kepada Allah.

Ritual yang sehat tidak berhenti pada gerakan.

Ia membangun kesadaran.

Kesadaran melahirkan takwa.

Takwa tercermin dalam akhlak.

Akhlak melahirkan keadilan dan kepedulian.

Dan seluruhnya kembali kepada pengabdian hanya kepada Allah.

Bagaimana Menghindari Ritualisme?

Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan sebagai bahan muhasabah:

Apakah saya memahami apa yang saya lakukan dalam ibadah?

Apakah ibadah membuat saya semakin dekat kepada Allah?

Apakah membaca Al-Qur’an mengubah cara saya berpikir dan bertindak?

Apakah puasa membentuk ketakwaan?

Apakah salat menjauhkan saya dari perbuatan keji dan mungkar?

Apakah aktivitas keagamaan membuat saya semakin rendah hati atau justru merasa lebih suci daripada orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk mengoreksi diri sendiri.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

Menghidupkan Kembali Ruh Ibadah

Al-Qur’an tidak menolak ritual. Justru Al-Qur’an memberikan tempat penting bagi salat, puasa, zakat, kurban, dan berbagai bentuk ibadah.

Yang dikritik adalah ritual yang kehilangan ruhnya.

Salat tanpa kesadaran dapat menjadi rutinitas. Puasa tanpa takwa dapat menjadi sekadar menahan lapar dan haus. Membaca Al-Qur’an tanpa tadabbur dapat berhenti pada suara. Aktivitas keagamaan tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi pencitraan.

Karena itu, persoalan umat bukan semata-mata apakah ritual dilakukan atau tidak, tetapi apakah ritual tersebut berhasil mengantarkan manusia kepada Allah dan mengubah kehidupannya menjadi lebih bertakwa.

Dalam perspektif Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an saling menjelaskan bahwa agama bukanlah kumpulan bentuk lahiriah yang berdiri sendiri. Semua ibadah memiliki tujuan: membangun manusia yang sadar kepada Allah, memurnikan pengabdian, memperbaiki akhlak, dan menegakkan kebaikan dalam kehidupan.

Pada akhirnya, ukuran keberagamaan bukan sekadar berapa banyak ritual yang kita lakukan, tetapi seberapa dalam Allah hadir dalam kesadaran kita dan seberapa jauh petunjuk-Nya tercermin dalam kehidupan kita.

Wallāhu a‘lam bi al-shawāb (syahida)

Example 120x600