JAKARTA.PPMIndonesia.com – Perjalanan sebuah gerakan besar sering kali bermula dari ruang-ruang sederhana. Bukan dari gedung pertunjukan yang megah, melainkan dari semangat orang-orang yang percaya bahwa seni mampu menggerakkan kesadaran, mempererat kebersamaan, dan menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat.
Semangat itulah yang melahirkan Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta), sebuah komunitas seni budaya yang berdiri di bawah naungan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM). Sejak awal berdirinya pada pertengahan dekade 1980-an, Sangkerta hadir bukan hanya sebagai sanggar seni, tetapi sebagai ruang belajar, ruang kolaborasi, dan ruang pemberdayaan yang mempertemukan seniman, budayawan, mahasiswa, aktivis sosial, hingga masyarakat umum dalam satu semangat: berkarya untuk masyarakat.
Bagi Sangkerta, seni tidak berhenti pada nilai estetika. Seni adalah media pendidikan, sarana membangun karakter, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan sosial dan kebudayaan.
Berawal dari Trotoar Malioboro
Menurut penuturan para perintisnya, embrio lahirnya Sangkerta berawal dari sebuah pertunjukan seni yang digelar di trotoar Jalan Malioboro, tepat di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, pada pertengahan dekade 1980-an. Ruang publik yang sehari-hari menjadi tempat lalu lalang masyarakat itu disulap menjadi panggung ekspresi yang menghadirkan seni secara dekat, terbuka, dan dapat dinikmati oleh siapa saja.
Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan adalah pembacaan puisi oleh Ahmad Mukhlis. Untuk membangun suasana dramatik yang menyatu dengan pembacaan puisi, Ahmad Mukhlis berinisiatif mengupayakan agar lampu penerangan di sekitar lokasi pertunjukan dipadamkan sejenak. Dalam temaram malam Malioboro, puisi dibacakan dengan penuh penghayatan, menciptakan atmosfer yang hening sekaligus memikat perhatian masyarakat yang menyaksikannya. Setelah pembacaan puisi usai, lampu penerangan kembali dinyalakan, menandai berakhirnya sebuah pertunjukan yang sederhana namun sarat makna.
Pertunjukan tersebut tidak hanya menghadirkan pembacaan puisi, tetapi juga memadukan musik, ekspresi teater, seni rupa, dan berbagai bentuk pertunjukan kolaboratif lainnya. Interaksi yang terbangun antara para seniman dan masyarakat menjadikan ruang publik sebagai arena kreativitas yang hidup. Dari rangkaian kegiatan sederhana itulah tumbuh semangat berkesenian secara kolektif yang kemudian berkembang menjadi Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta), sebuah ruang kreatif yang menjadikan seni sebagai media partisipasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Lahir dari Rahim Gerakan PPM
Sekitar tahun 1985, komunitas tersebut berkembang menjadi Sanggar Kesenian Peranserta (Sangkerta) sebagai badan otonom bidang seni budaya di lingkungan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).
Sebagai bagian dari PPM, Sangkerta membawa keyakinan bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui pendidikan, ekonomi, dan kegiatan sosial, tetapi juga melalui kebudayaan. Seni diposisikan sebagai media pembelajaran, ruang dialog, sarana membangun kesadaran kolektif, sekaligus instrumen pemberdayaan masyarakat.
Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi setiap aktivitas Sangkerta dalam berkarya dan mengabdi kepada masyarakat.
Para Perintis Sangkerta
Sangkerta lahir dari kerja kolektif sejumlah seniman, budayawan, dan aktivis yang memiliki visi yang sama, yakni menghadirkan ruang berkesenian yang terbuka, inklusif, dan berpihak kepada masyarakat.
Tokoh-tokoh yang menjadi perintis Sangkerta antara lain:
- Almarhum Ali Mustofa Trajutisna, pendiri Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) sekaligus penggerak lahirnya ruang seni berbasis pemberdayaan masyarakat.
- Nunik Tasnim Haryani, alumnus Universitas Gadjah Mada, penulis, dan pegiat seni.
- Ahmad Mukhlis, seniman yang turut merintis berbagai pertunjukan awal Sangkerta di kawasan Malioboro.
- Ki Mujar, penggerak seni dan budaya yang kemudian menjadi salah satu tokoh dalam pengembangan Sangkerta.
- Badrus Zaman, seniman yang merancang logo Sangkerta sebagai identitas visual komunitas.
- Totong Lis, yang bersama para pendiri lainnya aktif membangun berbagai kegiatan seni dan budaya.
Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan bahwa Sangkerta dibangun di atas semangat gotong royong. Tidak ada tokoh yang berdiri sendiri; keberhasilan Sangkerta merupakan hasil kerja kolektif yang memadukan kreativitas, idealisme, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rumah Kreativitas yang Terbuka
Sejak awal, Sangkerta hadir sebagai ruang alternatif bagi para seniman yang memiliki karya dan gagasan kreatif, tetapi belum memperoleh kesempatan berekspresi di lingkungan akademik maupun institusi seni formal.
Sangkerta membuka pintunya bagi siapa saja yang ingin belajar dan berkarya. Mahasiswa seni rupa, teater, desain, sastra, seniman otodidak, penulis, pekerja seni, hingga masyarakat umum dapat bertemu, berdiskusi, dan berkolaborasi dalam suasana yang egaliter.
Semangat keterbukaan tersebut menjadi ciri khas Sangkerta. Seni dipandang sebagai milik bersama, bukan milik kelompok tertentu.
Menghidupkan Kembali Teater Pelajar
Salah satu tonggak penting perjalanan Sangkerta adalah penyelenggaraan Festival Teater Pelajar Tingkat SLTA se-Yogyakarta yang dimulai pada tahun 1987 dan berlangsung selama tiga tahun berturut-turut.
Menurut Ahmad Mukhlis, salah seorang perintis Sangkerta, penyelenggaraan festival tersebut sepenuhnya digerakkan dengan semangat gotong royong dan kerja sukarela. Seluruh proses dilakukan secara mandiri, mulai dari mencari dukungan pendanaan, menyebarkan undangan ke sekolah-sekolah, menghubungi peserta, hingga mengupayakan penyediaan piala dan penghargaan bagi para pemenang.
Melalui berbagai pendekatan kepada sejumlah pihak, panitia berhasil menghadirkan piala penghargaan yang mengatasnamakan Sri Sultan Hamengku Buwana X dan Wali Kota Yogyakarta, sehingga festival memiliki nilai prestise yang tinggi di kalangan pelajar.
Festival ini lahir ketika aktivitas teater pelajar di Yogyakarta sedang mengalami kevakuman. Kehadirannya menjadi ruang baru bagi para pelajar untuk kembali menampilkan karya-karya terbaik mereka serta melahirkan generasi baru aktor, sutradara, penulis naskah, dan pekerja seni yang kemudian mewarnai perkembangan teater di Yogyakarta.
Seni sebagai Gerakan Sosial
Perjalanan Sangkerta tidak hanya berhenti pada dunia teater. Komunitas ini juga aktif menyelenggarakan pameran seni rupa, performance art, pertunjukan kolaboratif, instalasi seni, hingga produksi program budaya dan sinetron untuk TVRI.
Selain berkesenian, para aktivis Sangkerta juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Salah satu kegiatan yang cukup dikenang adalah penyelenggaraan Tarawih Bersama di kawasan Malioboro setelah toko-toko tutup selama bulan Ramadan.
Kegiatan tersebut melibatkan para pramuniaga, aktivis, dan masyarakat sekitar. Dukungan anggaran diperoleh melalui kerja sama dengan Kementerian Agama, sementara imam dan penceramah dihadirkan secara bergantian dari kalangan tokoh dan aktivis, termasuk almarhum Imam Nur Hidayat.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa bagi Sangkerta, seni tidak pernah dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Seni, budaya, nilai sosial, dan nilai spiritual berjalan beriringan sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan.
Warisan yang Terus Menginspirasi
Lebih dari empat dekade setelah kelahirannya, Sangkerta tetap dikenang sebagai ruang kreativitas yang tumbuh dari semangat peranserta masyarakat.
Warisan terbesarnya bukan semata-mata pementasan, festival, atau karya seni yang pernah dihasilkan, melainkan nilai-nilai yang terus hidup: keterbukaan, gotong royong, kreativitas, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi, semangat yang diwariskan para perintis Sangkerta tetap relevan. Seni tetap memiliki peran sebagai media pendidikan, ruang dialog, sarana memperkuat solidaritas sosial, sekaligus jalan membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Sangkerta membuktikan bahwa gerakan besar tidak selalu lahir dari panggung megah. Ia dapat tumbuh dari trotoar Malioboro, dari kerja kolektif yang tulus, dan dari keyakinan bahwa seni mampu menghadirkan perubahan. Semangat itulah yang menjadikan Sangkerta bukan sekadar sanggar seni, melainkan bagian penting dari sejarah gerakan Pusat Peranserta Masyarakat dalam membangun masyarakat yang berbudaya, mandiri, dan berdaya. (emha)





























