Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Mengapa Allah Menyempitkan dan Melapangkan Kehidupan?

12
×

Mengapa Allah Menyempitkan dan Melapangkan Kehidupan?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Penulis: syahida

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia dibandingkan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 26)

Pengantar: Ketika Hidup Tidak Selalu Sesuai Harapan

JAKARTA.ppmindonesia.com– Setiap manusia pasti pernah bertanya: mengapa ada masa ketika rezeki terasa mudah mengalir, usaha berkembang, kesehatan terjaga, dan kehidupan berjalan lancar; sementara pada waktu yang lain segala sesuatu terasa sempit, sulit, dan penuh tekanan?

Sebagian orang menganggap kelapangan hidup sebagai tanda bahwa Allah meridhainya, sedangkan kesempitan hidup dianggap sebagai bukti kemurkaan-Nya. Namun benarkah demikian?

Melalui metode Qur’an bil Qur’an, yakni memahami suatu ayat dengan ayat-ayat lain yang berkaitan, Al-Qur’an memberikan penjelasan yang jauh lebih mendalam. Ternyata, baik kelapangan maupun kesempitan hidup merupakan bagian dari sunnatullah yang memiliki tujuan pendidikan, pengujian, dan pemurnian iman.

Allah-lah yang Melapangkan dan Menyempitkan Rezeki

Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan kondisi hidup bukanlah peristiwa yang terjadi secara acak.

Allah berfirman:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 26)

Ayat serupa juga ditegaskan:

أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya?” (QS. Az-Zumar [39]: 52)

Dari ayat-ayat ini tampak bahwa rezeki bukan sekadar hasil kecerdasan, kerja keras, jabatan, atau keberuntungan. Semua itu hanyalah sebab yang berada di bawah kendali Allah.

Karena itu, orang beriman tidak boleh sombong ketika lapang dan tidak boleh berputus asa ketika sempit.

Kesempitan Bukan Berarti Allah Membenci

Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah mengukur kemuliaan dirinya di sisi Allah berdasarkan banyak atau sedikitnya harta.

Al-Qur’an mengoreksi cara berpikir ini:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۝ كَلَّا

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu menyempitkan rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr [89]: 15-17)

Kata “Kallā” (sekali-kali tidak) merupakan bantahan tegas dari Allah.

Kelapangan hidup bukan otomatis tanda kemuliaan, dan kesempitan hidup bukan otomatis tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian.

Kelapangan Adalah Ujian Syukur

Banyak orang mengira ujian hanya berupa kesulitan. Padahal Al-Qur’an menunjukkan bahwa kemudahan juga merupakan ujian.

Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya [21]: 35)

Kekayaan, kekuasaan, kesehatan, kecerdasan, dan popularitas adalah bentuk “kebaikan” yang sedang menguji manusia.

Akankah ia bersyukur?

Ataukah ia menjadi sombong dan melupakan Allah?

Nabi Sulaiman memahami hal ini ketika memperoleh kerajaan yang luar biasa besar.

Beliau berkata:

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari.” (QS. An-Naml [27]: 40)

Kelapangan hidup pada hakikatnya adalah ujian syukur.

Kesempitan Adalah Ujian Kesabaran

Sebaliknya, ketika rezeki menyempit, manusia diuji kesabarannya.

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa kekurangan ekonomi, kehilangan pekerjaan, berkurangnya hasil usaha, atau kondisi sulit lainnya bukanlah sesuatu yang berada di luar rencana Allah.

Semua itu dapat menjadi sarana pendidikan ruhani agar manusia kembali kepada-Nya.

Kadang Kesempitan Menjadi Peringatan

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sebagian kesulitan hidup diberikan agar manusia melakukan evaluasi diri.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri.” (QS. Al-An’am [6]: 42)

Kesulitan sering kali membuat manusia menyadari kelemahan dirinya.

Saat semua jalan tertutup, manusia kembali mengetuk pintu Allah.

Dalam kondisi demikian, kesempitan justru menjadi rahmat yang mengembalikan manusia kepada jalan yang benar.

Kadang Kelapangan Menjadi Istidraj

Tidak semua kelapangan hidup merupakan pertanda baik.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa sebagian manusia justru semakin jauh dari Allah ketika memperoleh kenikmatan.

Tentang mereka Allah berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan bagi mereka pintu-pintu segala kenikmatan.”

(QS. Al-An’am [6]: 44)

Kelapangan semacam ini bukanlah kemuliaan, melainkan proses penangguhan yang dapat berujung pada kehancuran apabila manusia tidak bertobat.

Karena itu Al-Qur’an mengajarkan agar seorang mukmin tidak tertipu oleh kemewahan dunia.

Teladan Para Nabi

Kajian Al-Qur’an menunjukkan bahwa para nabi mengalami kedua keadaan tersebut.

Nabi Yusuf pernah berada di sumur, dijual sebagai budak, dipenjara, kemudian menjadi penguasa Mesir.

Nabi Ayyub pernah kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan, lalu Allah mengembalikan semuanya.

Nabi Muhammad ﷺ pernah mengalami pemboikotan ekonomi yang berat di Makkah, kemudian memperoleh kemenangan dan kelapangan setelah hijrah.

Ini menunjukkan bahwa naik turunnya kondisi hidup adalah bagian dari perjalanan iman, bukan ukuran kecintaan Allah semata.

Perspektif Al-Qur’an: Yang Penting Bukan Lapang atau Sempit

Melalui ayat-ayat yang saling menjelaskan, Al-Qur’an mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang lebih penting daripada banyak atau sedikitnya rezeki.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jumlah hartanya, melainkan oleh ketakwaannya.

Orang yang bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit adalah orang yang berhasil melewati ujian kehidupan.

 Dua Wajah Ujian yang Sama

Kajian Syahida atas ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa kelapangan dan kesempitan kehidupan bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya merupakan instrumen pendidikan Ilahi untuk membentuk manusia yang bertakwa.

Ketika Allah melapangkan kehidupan, Dia sedang menguji rasa syukur kita.

Ketika Allah menyempitkan kehidupan, Dia sedang menguji kesabaran dan ketergantungan kita kepada-Nya.

Karena itu, seorang mukmin tidak terbang oleh nikmat dan tidak tumbang oleh musibah. Ia memahami bahwa keduanya berasal dari Tuhan yang sama dan memiliki tujuan yang sama: mendekatkan manusia kepada Allah.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun [64]: 11)

Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap bersyukur saat lapang dan tetap bersabar saat sempit, sehingga berhasil meraih kemuliaan di sisi Allah. (syahida)

Box Redaksi

Kajian Syahida (Qur’an bil Qur’an) adalah metode memahami Al-Qur’an dengan menghimpun ayat-ayat yang berbicara tentang satu tema, kemudian menjadikan ayat-ayat tersebut saling menjelaskan satu sama lain sehingga diperoleh pemahaman yang utuh, objektif, dan berpusat pada petunjuk Al-Qur’an itu sendiri. .

Example 120x600