Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Membaca Ulang Rukun Islam dengan Qur’an bil Qur’an

2
×

Membaca Ulang Rukun Islam dengan Qur’an bil Qur’an

Share this article

Kajian Syahida Al-Qur'an Bil Al-Qur'an. Oleh; Syahida

Selama berabad-abad umat Islam mengenal lima Rukun Islam sebagai fondasi keberagamaan. Namun, bagaimana Al-Qur’an sendiri menggambarkan fondasi agama? Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita diajak membaca kembali ayat-ayat Al-Qur’an untuk memahami bahwa Islam tidak hanya membangun ritual, tetapi juga membangun manusia, masyarakat, dan peradaban.

Islam: Agama yang Membangun Kehidupan

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Bagi mayoritas umat Islam, fondasi Islam dikenal melalui lima rukun: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu. Kelima amalan tersebut memiliki kedudukan penting dalam praktik keagamaan umat Islam.

Namun ketika Al-Qur’an dibaca secara menyeluruh, muncul pertanyaan menarik:

Bagaimana Al-Qur’an sendiri menjelaskan jalan hidup yang disebut Islam?

Kajian Qur’an bil Qur’an mengajak kita membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan sumber ajaran, tetapi untuk melihat bagaimana Al-Qur’an menyusun bangunan nilai yang menjadi dasar kehidupan seorang Muslim.

Agama Ibrahim: Titik Berangkat Islam

Al-Qur’an berkali-kali menyebut bahwa Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan mengikuti agama Nabi Ibrahim.

Allah berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۝ شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ۝ وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ۝ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah, hanif, dan bukan termasuk orang-orang musyrik. Ia bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan di akhirat dia termasuk orang-orang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

(QS. An-Nahl [16]: 120–123)

Ayat ini memperlihatkan bahwa identitas Islam pertama-tama dikaitkan dengan tauhid yang lurus (hanif) dan keteladanan hidup Nabi Ibrahim

Jalan Lurus: Kerangka Dasar Kehidupan

Al-Qur’an kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dengan ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus).

Allah berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…

“Katakanlah, marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu: janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; berbuat baiklah kepada kedua orang tua…”

Kemudian ayat tersebut ditutup dengan firman Allah:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”

(QS. Al-An’am [6]: 151–153)

Menariknya, sebelum menyebut “jalan yang lurus”, Al-Qur’an terlebih dahulu memaparkan seperangkat nilai:

  • Mentauhidkan Allah,
  • Berbakti kepada orang tua,
  • Menjaga kehidupan,
  • Menjauhi perbuatan keji,
  • Melindungi harta anak yatim,
  • Berlaku adil dalam perdagangan,
  • Berkata benar, menepati janji.

Rangkaian nilai ini menunjukkan bahwa jalan lurus dalam Al-Qur’an mencakup dimensi akidah, akhlak, hukum, dan keadilan sosial.

Kebajikan Tidak Berhenti pada Ritual

Al-Qur’an juga memberikan definisi yang sangat luas tentang al-birr (kebajikan).

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ… وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ… وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ…

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat, tetapi kebajikan ialah beriman kepada Allah…, memberikan harta yang dicintainya…, mendirikan shalat, menunaikan zakat…, menepati janji, dan bersabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

Ayat ini memperlihatkan bahwa shalat dan zakat merupakan bagian penting dari kebajikan, tetapi berdampingan dengan iman, kepedulian sosial, kejujuran, dan keteguhan moral.

Ibadah sebagai Jalan Menuju Perubahan

Al-Qur’an menjelaskan tujuan ibadah, bukan hanya tata caranya.

Tentang shalat:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45)

Tentang puasa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Tentang zakat:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

“Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka.”

(QS. At-Taubah [9]: 103)

Dalam perspektif Qur’an, ibadah memiliki tujuan pembentukan karakter dan transformasi sosial.

Islam sebagai Sistem Kehidupan

Jika ayat-ayat tersebut dibaca secara terpadu, tampak bahwa Al-Qur’an menggambarkan Islam sebagai bangunan yang utuh.

Fondasinya meliputi:

  • Tauhid sebagai orientasi hidup.
  • Ibadah sebagai pembinaan spiritual.
  • Keadilan sebagai prinsip sosial.
  • Amanah sebagai etika kepemimpinan.
  • Kepedulian kepada kelompok rentan.
  • Ilmu sebagai sarana memakmurkan bumi.
  • Akhlak sebagai ukuran keberagamaan.

Dengan demikian, ritual tidak dipisahkan dari tanggung jawab sosial, tetapi menjadi sumber energi untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.

Refleksi: Membaca Ulang untuk Memperdalam Pemahaman

Membaca ulang fondasi Islam melalui Al-Qur’an bukan berarti mengurangi arti ibadah ritual. Sebaliknya, pembacaan ini mengajak kita melihat bahwa Al-Qur’an menempatkan ritual dalam kerangka yang lebih luas: pembentukan manusia yang bertakwa dan masyarakat yang berkeadilan.

Pertanyaan yang layak direnungkan bukanlah apakah ritual itu penting—karena Al-Qur’an dengan jelas memerintahkannya—melainkan:

Sudahkah ritual yang kita jalankan melahirkan kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kepedulian sosial sebagaimana tujuan yang dijelaskan Al-Qur’an?

Ketika ibadah melahirkan perubahan pada diri, keluarga, masyarakat, dan tata kehidupan, saat itulah Islam tampil bukan hanya sebagai identitas keagamaan, tetapi sebagai jalan hidup yang membangun peradaban (syahida)

Kotak Hikmah

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain…”
(QS. Al-An’am [6]: 153)

Jalan lurus menurut Al-Qur’an bukan hanya arah ibadah, tetapi jalan kehidupan yang menyatukan tauhid, akhlak, keadilan, dan kemaslahatan umat.

Example 120x600