Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

KOPERASI DI TENGAH PERUBAHAN IKLIM: DARI EKONOMI RAKYAT MENUJU EKONOMI HIJAU

7
×

KOPERASI DI TENGAH PERUBAHAN IKLIM: DARI EKONOMI RAKYAT MENUJU EKONOMI HIJAU

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com. Editor: asyary

OPINI PPMIndonesia

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Perubahan iklim bukan lagi cerita tentang masa depan.

Ia mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Musim tanam yang berubah. Curah hujan yang sulit diprediksi. Kekeringan yang lebih panjang. Banjir yang datang lebih cepat. Produktivitas pertanian yang terganggu. Harga pangan yang ikut bergejolak.

Bagi masyarakat yang kehidupannya bergantung langsung pada alam, perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan.

Ia adalah persoalan ekonomi.

Petani menghadapi risiko produksi. Nelayan menghadapi perubahan kondisi laut. Pelaku UMKM menghadapi gangguan bahan baku dan pasar. Masyarakat desa menghadapi tekanan terhadap sumber daya yang selama ini menjadi penopang kehidupan.

Karena itu, ketika berbicara tentang perubahan iklim, kita tidak cukup hanya membicarakan emisi dan lingkungan.

Kita juga harus membicarakan ekonomi rakyat.

Dan di tengah hubungan tersebut, koperasi memiliki ruang strategis.

Koperasi dan Perubahan Zaman

Koperasi lahir dari kebutuhan masyarakat untuk menghadapi persoalan ekonomi secara bersama.

Prinsipnya sederhana: sesuatu yang sulit dilakukan sendiri dapat menjadi lebih kuat apabila dikerjakan bersama.

Prinsip tersebut justru semakin relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Risiko yang dihadapi petani tidak dapat selalu diselesaikan oleh seorang petani.

Persoalan pemasaran tidak mudah diatasi oleh satu UMKM.

Akses teknologi sulit diperoleh oleh kelompok kecil tanpa kelembagaan.

Demikian pula upaya menjaga lingkungan membutuhkan kerja bersama.

Di sinilah koperasi dapat berkembang dari sekadar lembaga ekonomi menjadi instrumen adaptasi masyarakat terhadap perubahan.

Dari Koperasi Ekonomi ke Koperasi Hijau

Selama ini koperasi lebih sering dipahami sebagai lembaga simpan pinjam atau lembaga usaha bersama.

Pemahaman tersebut perlu diperluas.

Koperasi dapat menjadi bagian dari transformasi menuju ekonomi hijau.

Bukan berarti seluruh koperasi harus meninggalkan kegiatan ekonominya.

Sebaliknya, kegiatan yang sudah berjalan dapat diarahkan agar semakin efisien, produktif, dan ramah lingkungan.

Koperasi pertanian dapat mendorong praktik budidaya yang menjaga kesuburan tanah dan efisiensi air.

Koperasi nelayan dapat mendukung praktik perikanan yang menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

Koperasi UMKM dapat membantu anggotanya mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi energi.

Koperasi desa dapat mengembangkan pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.

Koperasi konsumen dapat memperluas pasar produk yang lebih ramah lingkungan.

Dengan demikian, ekonomi hijau tidak berdiri di luar koperasi.

Ia dapat tumbuh dari aktivitas ekonomi anggota koperasi sendiri.

Perubahan Iklim Mengubah Cara Kita Berusaha

Selama ini banyak kegiatan ekonomi berangkat dari pertanyaan:

Apa yang bisa kita produksi dan jual?

Di tengah perubahan iklim, pertanyaannya menjadi lebih luas:

Bagaimana kita menghasilkan produk tanpa merusak sumber daya yang menjadi dasar produksi?

Pertanian membutuhkan tanah yang sehat.

Perikanan membutuhkan laut yang sehat.

Industri membutuhkan air dan energi.

Pariwisata membutuhkan lingkungan yang terjaga.

Masyarakat membutuhkan udara dan ruang hidup yang layak.

Artinya, keberlanjutan lingkungan bukan hambatan bagi ekonomi.

Ia adalah syarat agar ekonomi dapat terus berlangsung.

Koperasi dapat membantu anggotanya melakukan perubahan tersebut secara bertahap.

Petani dan Koperasi: Menghadapi Risiko Bersama

Bayangkan seorang petani menghadapi musim yang tidak menentu.

Ia membutuhkan benih yang sesuai.

Teknologi pertanian.

Informasi cuaca.

Pembiayaan.

Asuransi atau mekanisme pengelolaan risiko.

Akses pasar.

Dan pengetahuan mengenai cara menjaga produktivitas tanah.

Jika semuanya harus dilakukan sendiri, beban menjadi berat.

Koperasi dapat mengorganisasi kebutuhan tersebut.

Pengadaan dilakukan bersama.

Informasi dibagikan.

Produksi dikumpulkan.

Pemasaran dilakukan secara kolektif.

Teknologi diperkenalkan.

Nilai tambah dikembangkan.

Dengan demikian, koperasi dapat menjadi mekanisme pengelolaan risiko ekonomi masyarakat.

Ekonomi Sirkular: Dari Limbah Menjadi Nilai

Perubahan menuju ekonomi hijau juga membuka cara pandang baru terhadap limbah.

Sampah rumah tangga.

Limbah pertanian.

Limbah pasar.

Limbah UMKM.

Semuanya selama ini sering dianggap sebagai masalah.

Padahal sebagian dapat diolah menjadi sumber nilai ekonomi.

Sampah organik dapat menjadi kompos.

Limbah pertanian dapat menjadi bahan baku.

Sampah anorganik dapat dipilah dan didaur ulang.

Produk sisa dapat digunakan kembali.

Koperasi dapat mengorganisasi proses tersebut dari hulu hingga hilir.

Masyarakat mengumpulkan.

Koperasi mengelola.

Pelaku usaha mengolah.

Pasar menyerap.

Terbentuklah rantai ekonomi baru.

Inilah salah satu bentuk ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Ekonomi Hijau dan Peluang Karbon

Perubahan iklim juga melahirkan perkembangan ekonomi baru, termasuk Nilai Ekonomi Karbon dan perdagangan karbon.

Isu ini perlu dipahami secara serius oleh masyarakat.

Namun PPM memandang bahwa perdagangan karbon tidak boleh diperlakukan sebagai jalan pintas untuk memperoleh keuntungan.

Kegiatan yang berkaitan dengan karbon membutuhkan aturan, metodologi, pengukuran, pelaporan, verifikasi, pencatatan, serta tata kelola yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Masyarakat juga perlu memahami hak dan kewajibannya.

Jika masyarakat terlibat dalam menjaga hutan, mangrove, lahan pertanian atau ekosistem lainnya, mereka perlu memiliki kapasitas untuk memahami bagaimana manfaat ekonomi dapat dikelola secara transparan sesuai hak, kontribusi, kesepakatan dan ketentuan hukum.

Dalam konteks tersebut, koperasi dapat menjadi salah satu kelembagaan yang membantu masyarakat mengorganisasi diri.

Prinsipnya:

Karbon boleh memiliki nilai ekonomi, tetapi fungsi lingkungan dan kepentingan masyarakat harus tetap menjadi pertimbangan utama.

Koperasi sebagai Penghubung

Koperasi memiliki kelebihan yang sering terlupakan.

Ia berada di antara masyarakat dan pasar.

Masyarakat memiliki sumber daya.

Pasar memiliki permintaan.

Koperasi dapat menjadi penghubung.

Dalam ekonomi hijau, fungsi tersebut semakin penting.

Koperasi dapat menghubungkan:

anggota → produksi → teknologi → pembiayaan → standardisasi → pasar.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah.

Mereka dapat meningkatkan nilai tambah.

Petani tidak hanya menjual hasil panen.

UMKM tidak hanya menjual produk tanpa diferensiasi.

Masyarakat desa tidak hanya menjual sumber daya alam.

Koperasi membantu membangun rantai nilai.

Generasi Muda dan Transformasi Koperasi

Perubahan iklim juga membutuhkan perubahan generasi.

Koperasi membutuhkan anak muda yang memahami teknologi.

Generasi muda membutuhkan ruang untuk berkreasi.

Pertemuan keduanya dapat menghasilkan inovasi.

Anak muda dapat mengembangkan:

  • digitalisasi koperasi,
  • marketplace produk anggota,
  • monitoring lingkungan,
  • pengelolaan data,
  • sistem logistik,
  • branding produk hijau,
  • hingga model bisnis baru berbasis ekonomi sirkular.

Karena itu, kaderisasi PPM tidak cukup hanya menyiapkan regenerasi kepemimpinan organisasi.

Kaderisasi harus melahirkan penggerak perubahan di masyarakat.

Dari Bantuan Menuju Ketahanan

Perubahan iklim mengajarkan satu hal penting:

masyarakat tidak dapat terus-menerus mengandalkan bantuan setelah bencana atau ketika usaha mengalami tekanan.

Yang perlu dibangun adalah ketahanan.

Ketahanan ekonomi.

Ketahanan pangan.

Ketahanan kelembagaan.

Ketahanan lingkungan.

Ketahanan sosial.

Koperasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun ketahanan tersebut.

Ketika anggota memiliki kelembagaan bersama, akses pembiayaan, jaringan pasar, pengetahuan dan sistem pengelolaan risiko, mereka memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menghadapi perubahan.

Koperasi Hijau Tidak Harus Mahal

Transformasi menuju koperasi hijau sering dibayangkan membutuhkan teknologi mahal.

Padahal perubahan dapat dimulai dari hal sederhana.

Mengurangi penggunaan energi.

Mengurangi limbah.

Menggunakan bahan baku lokal.

Mengembangkan produk tahan lama.

Menghemat air.

Mengelola sampah.

Memperbaiki pencatatan usaha.

Menggunakan pemasaran digital.

Membangun kemitraan.

Yang penting bukan seberapa besar investasi awalnya.

Tetapi apakah ada proses perubahan yang terus berjalan.

PENAS X: Membaca Masa Depan Ekonomi Rakyat

Gagasan tersebut relevan dengan agenda Pertemuan Nasional (PENAS) X Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).

PENAS X tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi dan kaderisasi.

Ia dapat menjadi ruang untuk membaca perubahan yang sedang terjadi di masyarakat.

Perubahan iklim.

Transformasi ekonomi.

Digitalisasi.

Perkembangan koperasi.

Pertumbuhan UMKM.

Ekonomi hijau.

Hingga perdagangan karbon.

Semua isu tersebut perlu dilihat dari satu perspektif:

bagaimana masyarakat dapat memiliki kapasitas untuk menghadapi perubahan dan menangkap peluang yang muncul?

Karena itu, gagasan Koperasi Hijau menjadi salah satu agenda yang relevan untuk dibahas.

Bukan sebagai slogan.

Tetapi sebagai model yang dapat diuji melalui kegiatan nyata.

Menuju Model Koperasi Hijau PPM 2026–2031

PPM dapat mulai membangun model tersebut secara bertahap.

2026 — Pemetaan

Mengidentifikasi koperasi, UMKM, desa, kelompok masyarakat dan potensi ekonomi hijau.

2027 — Percontohan

Mengembangkan beberapa pilot project Koperasi Hijau.

2028 — Penguatan

Memperkuat bisnis, teknologi, pembiayaan dan akses pasar.

2029 — Replikasi

Memperluas model yang berhasil ke wilayah lain.

2030 — Integrasi

Menghubungkan koperasi dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, teknologi dan pasar.

2031 — Konsolidasi

Mengukur dampak ekonomi, sosial dan lingkungan sekaligus menyempurnakan model.

Dengan pendekatan tersebut, Koperasi Hijau menjadi proses pembelajaran.

Bukan proyek yang selesai ketika anggaran selesai.

Mengubah Cara Pandang

Perubahan iklim pada akhirnya memaksa kita mengubah cara melihat ekonomi.

Dulu kita bertanya:

berapa banyak yang dapat diproduksi?

Kini kita juga harus bertanya:

berapa lama sumber daya tersebut dapat bertahan?

Dulu keberhasilan usaha banyak diukur dari keuntungan.

Kini kita juga perlu memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.

Dulu koperasi lebih banyak dilihat sebagai lembaga ekonomi.

Ke depan, koperasi dapat menjadi bagian dari ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Inilah transformasi yang perlu dimulai.

Ekonomi Rakyat Menuju Ekonomi Hijau

Ekonomi rakyat dan ekonomi hijau sebenarnya tidak berada pada dua dunia yang berbeda.

Keduanya bertemu pada kebutuhan yang sama:

keberlanjutan kehidupan.

Ekonomi rakyat membutuhkan lingkungan yang sehat.

Lingkungan membutuhkan masyarakat yang memiliki kepentingan untuk menjaganya.

Koperasi dapat mempertemukan keduanya melalui kelembagaan ekonomi bersama.

Karena itu, transisi menuju ekonomi hijau harus membuka ruang bagi koperasi dan masyarakat.

Bukan hanya perusahaan besar.

Bukan hanya investor.

Bukan hanya lembaga keuangan.

Tetapi juga mereka yang setiap hari hidup dan bekerja di tengah sumber daya alam.

Penutup: Koperasi untuk Masa Depan

Perubahan iklim akan terus menghadirkan tantangan baru.

Tidak semua dapat diprediksi.

Tetapi masyarakat dapat dipersiapkan.

Diperkaya pengetahuan.

Diperkuat kelembagaannya.

Diperluas aksesnya.

Dihubungkan dengan teknologi dan pasar.

Dan dibangun kemampuan untuk bekerja bersama.

Koperasi memiliki kesempatan untuk memainkan peran tersebut.

Dari lembaga ekonomi rakyat, koperasi dapat bergerak menjadi kekuatan ekonomi hijau.

Bukan dengan meninggalkan prinsip dasarnya, tetapi justru dengan menghidupkan kembali semangat kebersamaan dalam konteks tantangan zaman baru.

Koperasi menghimpun kekuatan.
Masyarakat mengelola potensi.
Teknologi memperkuat produktivitas.
Ekonomi hijau menjaga keberlanjutan.

Dan semuanya bermuara pada satu tujuan:

membangun ekonomi yang mampu bertahan tanpa mengorbankan masa depan.

Karena ekonomi yang baik bukan hanya ekonomi yang menghasilkan hari ini.

Ekonomi yang baik adalah ekonomi yang masih mampu memberikan kehidupan bagi generasi esok.

PPM INDONESIA

Gerakan, Persaudaraan, dan Pemberdayaan Masyarakat
Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Peradaban

Example 120x600