Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Mengapa Al-Qur’an Menempatkan Akal pada Posisi Terhormat?

24
×

Mengapa Al-Qur’an Menempatkan Akal pada Posisi Terhormat?

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran. Editor: asyary

Akal: Karunia yang Membedakan Manusia

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Di antara seluruh makhluk yang Allah ciptakan, manusia memperoleh satu anugerah yang sangat istimewa: akal. Dengan akal, manusia mampu berpikir, menimbang, mengambil pelajaran, membedakan yang benar dan yang salah, serta memahami tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta.

Namun ironisnya, dalam perjalanan sejarah umat manusia, akal sering kali diposisikan secara keliru. Ada yang mengagungkannya secara berlebihan hingga menjadikannya hakim tertinggi atas segala sesuatu. Sebaliknya, ada pula yang mencurigainya dan menganggap penggunaan akal sebagai ancaman bagi keimanan.

Lalu bagaimana sebenarnya Al-Qur’an memandang akal?

Kajian Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada akal, bahkan menjadikannya salah satu sarana utama manusia untuk mengenal Allah dan menerima petunjuk-Nya.

Al-Qur’an Berkali-kali Mengajak Manusia Berakal

Salah satu hal yang menonjol dalam Al-Qur’an adalah banyaknya ayat yang mengajak manusia berpikir.

Allah berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Maka apakah kamu tidak menggunakan akal?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Pada ayat lain Allah berfirman:

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu menggunakan akal.”
(QS. Al-Baqarah: 242)

Ayat-ayat semacam ini berulang kali muncul dalam Al-Qur’an. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan akal bukan sekadar diperbolehkan, melainkan dianjurkan oleh Allah.

Jika akal tidak penting, tentu Al-Qur’an tidak akan berkali-kali menyeru manusia untuk menggunakannya.

Orang Berakal Mendapat Gelar Ulul Albab

Al-Qur’an memberikan penghargaan khusus kepada orang-orang yang menggunakan akalnya dengan benar. Mereka disebut sebagai Ulul Albab (orang-orang yang memiliki inti akal dan kejernihan berpikir).

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)

Kemudian Allah menjelaskan ciri mereka:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”
(QS. Ali ‘Imran: 191)

Menariknya, Al-Qur’an tidak menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang berhenti berpikir. Sebaliknya, orang beriman digambarkan sebagai mereka yang senantiasa merenung dan menelaah ciptaan Allah.

Akal Adalah Jalan Menuju Keimanan

Sebagian orang beranggapan bahwa iman dan akal adalah dua hal yang bertentangan. Padahal Al-Qur’an justru menunjukkan bahwa akal merupakan salah satu jalan menuju keimanan.

Allah mengajak manusia memperhatikan alam semesta:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.”
(QS. Yunus: 101)

Perintah untuk memperhatikan, mengamati, dan meneliti adalah aktivitas akal.

Dengan mengamati keteraturan alam, manusia akan sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta ini tidak mungkin tercipta tanpa Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana.

Allah berfirman:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”
(QS. At-Tur: 35)

Ayat ini adalah contoh argumentasi rasional yang digunakan Al-Qur’an untuk membimbing manusia menuju keimanan.

Al-Qur’an Mencela Taklid Buta

Salah satu alasan mengapa Al-Qur’an memuliakan akal adalah karena akal menjadi benteng manusia dari taklid buta.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah Allah turunkan, mereka berkata: Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Kemudian Allah menegur mereka:

أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apakah mereka tetap mengikutinya walaupun nenek moyang mereka tidak memahami apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut, usia tradisi, atau besarnya otoritas manusia. Kebenaran harus diuji dengan petunjuk Allah dan pertimbangan akal yang sehat.

Tidak Menggunakan Akal Justru Dicela

Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah mencela orang yang berpikir. Yang dicela justru mereka yang mengabaikan fungsi akalnya.

Allah berfirman:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya makhluk yang paling buruk di sisi Allah ialah mereka yang tuli, bisu, dan tidak menggunakan akalnya.”
(QS. Al-Anfal: 22)

Pada ayat lain Allah menggambarkan penyesalan penghuni neraka:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: Sekiranya dahulu kami mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”
(QS. Al-Mulk: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa penggunaan akal merupakan bagian dari tanggung jawab manusia di hadapan Allah.

Akal dan Wahyu: Bukan Lawan, Melainkan Sahabat

Kajian Syahida menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mempertentangkan akal dengan wahyu.

Akal berfungsi mengenali kebenaran wahyu.

Wahyu berfungsi membimbing akal agar tidak tersesat oleh hawa nafsu dan keterbatasannya.

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. An-Nisa: 82)

Tadabbur adalah aktivitas intelektual yang memerlukan pemikiran mendalam. Karena itu, semakin seseorang memahami Al-Qur’an, seharusnya semakin aktif pula ia menggunakan akalnya.

Akal yang Terhormat adalah Akal yang Tunduk kepada Kebenaran

Al-Qur’an memuliakan akal bukan agar manusia menjadi sombong, melainkan agar manusia mampu mengenali kebenaran.

Ketika akal telah menemukan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah, maka akal yang sehat akan tunduk kepada petunjuk-Nya.

Allah berfirman:

فَبَشِّرْ عِبَادِ • الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan berbagai perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah Ulul Albab.”
(QS. Az-Zumar: 17–18)

Ayat ini menggambarkan karakter orang berakal: mendengar, menimbang, meneliti, lalu mengikuti yang paling benar.

Islam Tidak Takut pada Akal

Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia mematikan pikirannya. Sebaliknya, kitab suci ini mengajak manusia mengamati alam, menimbang bukti, mengkaji wahyu, dan mengambil pelajaran dari sejarah.

Karena itu, ketakutan terhadap penggunaan akal bukanlah ajaran Al-Qur’an.

Yang diajarkan Al-Qur’an adalah penggunaan akal yang jujur, rendah hati, dan terbuka terhadap kebenaran.

Akal adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia mengenal Tuhannya. Dengan akal, manusia memahami wahyu-Nya. Dan dengan akal yang dibimbing oleh Al-Qur’an, manusia dapat berjalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Maka tidak mengherankan jika Al-Qur’an menempatkan akal pada posisi yang terhormat. Sebab akal yang digunakan dengan benar bukanlah penghalang keimanan, melainkan jembatan menuju hidayah Allah.

Rubrik: Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an
Tema: Akal, Wahyu, dan Peradaban Islam
Tag: Akal dalam Islam, Ulul Albab, Tadabbur Al-Qur’an, Qur’an Bil Qur’an, Kajian Syahida, PPM Indonesia.

Example 120x600