PPMIndonesia.com. Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia
Mengapa Al-Qur’an Berulang Kali Memerintahkan Taat kepada Rasul?
Di antara perintah yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Hampir di setiap pembahasan mengenai iman, hukum, akhlak, dan kehidupan sosial, Al-Qur’an selalu menempatkan keduanya secara berdampingan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu.”
(QS An-Nisa [4]: 59)
Demikian pula:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.”
(QS Muhammad [47]: 33)
Namun pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apa sebenarnya hakikat ketaatan kepada Rasul menurut Al-Qur’an?
Apakah yang dimaksud adalah ketaatan kepada pribadi Rasul sebagai manusia? Ataukah ketaatan kepada risalah yang beliau bawa dari Allah?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tugas rasul, sumber otoritasnya, dan hubungan antara Allah, wahyu, serta manusia.
Rasul Diutus untuk Menyampaikan Ayat-Ayat Allah
Ketika Al-Qur’an menjelaskan tugas para rasul, terdapat satu tema yang terus berulang: penyampaian wahyu Allah.
Allah berfirman:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS Al-Baqarah [2]: 129)
Ayat ini memperlihatkan bahwa inti misi kerasulan adalah:
- Membacakan ayat-ayat Allah.
- Mengajarkan Al-Kitab.
- Membimbing manusia menuju penyucian diri.
Hal yang sama ditegaskan kembali:
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan menuju cahaya.”
(QS Ath-Thalaq [65]: 11)
Dengan demikian, menurut Al-Qur’an, rasul pertama-tama adalah penyampai wahyu Allah kepada manusia.
Rasul Tidak Berbicara Menurut Hawa Nafsu
Mengapa Allah memerintahkan manusia menaati rasul?
Al-Qur’an memberikan alasan yang mendasar:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS An-Najm [53]: 3–4)
Dalam konteks kerasulan, Nabi Muhammad tidak menyampaikan risalah berdasarkan keinginan pribadi atau kepentingan duniawi. Beliau menyampaikan apa yang diwahyukan Allah.
Karena itu, otoritas kerasulan berasal dari wahyu, bukan dari manusia yang membawanya.
Rasul Sendiri Diperintahkan Mengikuti Wahyu
Salah satu fakta yang sering terlupakan adalah bahwa Rasul yang diperintahkan untuk ditaati ternyata juga diperintahkan untuk mengikuti wahyu.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.”
(QS Al-A’raf [7]: 203)
Dan:
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”
(QS Al-An’am [6]: 50)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Rasul bukan sumber independen dari petunjuk agama. Beliau sendiri tunduk kepada wahyu Allah.
Maka rantai ketaatan yang dijelaskan Al-Qur’an adalah:
Allah → Wahyu → Rasul → Manusia
Mengapa Taat kepada Rasul Sama dengan Taat kepada Allah?
Allah berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”
(QS An-Nisa [4]: 80)
Ayat ini sering dibaca, tetapi tidak selalu direnungkan maknanya.
Mengapa menaati Rasul berarti menaati Allah?
Karena Rasul menyampaikan apa yang berasal dari Allah.
Seorang utusan tidak membawa otoritas atas nama dirinya sendiri. Otoritasnya berasal dari pihak yang mengutusnya.
Oleh sebab itu, menolak risalah Rasul berarti menolak petunjuk Allah. Sebaliknya, menerima risalah Rasul berarti menerima petunjuk Allah.
Apa yang Harus Ditaati dari Rasul?
Al-Qur’an menjawab pertanyaan ini melalui penjelasan tentang apa yang diperintahkan Allah kepada Rasul.
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS Al-Maidah [5]: 67)
Dan:
وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.”
(QS Al-An’am [6]: 19)
Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa alat utama dakwah Rasul adalah Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.
Karena itu, hakikat ketaatan kepada Rasul tidak dapat dipisahkan dari hubungan seorang mukmin dengan wahyu yang beliau sampaikan.
Ketika Perselisihan Terjadi
Allah memberikan petunjuk yang sangat penting ketika terjadi perbedaan pendapat.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian jika kamu berselisih dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS An-Nisa [4]: 59)
Dalam perspektif Al-Qur’an bil Al-Qur’an, kembali kepada Allah berarti kembali kepada petunjuk-Nya, sedangkan kembali kepada Rasul berarti kembali kepada risalah yang beliau bawa dari Allah.
Dengan demikian, penyelesaian perselisihan harus bertumpu pada petunjuk wahyu, bukan sekadar pada fanatisme kelompok, tradisi, atau kepentingan manusia.
Keluhan Rasul pada Hari Kiamat
Salah satu ayat yang paling menggugah dalam Al-Qur’an adalah pengaduan Rasul kepada Allah.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
(QS Al-Furqan [25]: 30)
Menarik bahwa yang dikeluhkan Rasul bukanlah kurangnya penghormatan kepada dirinya, melainkan ditinggalkannya Al-Qur’an.
Ayat ini menjadi peringatan bahwa hubungan dengan Rasul tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan kitab yang beliau bawa.
Penutup: Ketaatan yang Menghidupkan Wahyu
Kajian Al-Qur’an bil Al-Qur’an menunjukkan bahwa hakikat ketaatan kepada Rasul bukanlah sekadar penghormatan kepada sosok manusia pilihan Allah, melainkan ketaatan kepada risalah yang beliau sampaikan.
Rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab-Nya, menyampaikan wahyu-Nya, dan membimbing manusia menuju cahaya petunjuk.
Karena itu, semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semakin dekat pula ia kepada misi Rasul. Dan semakin jauh seseorang dari Al-Qur’an, semakin jauh pula ia dari hakikat ketaatan kepada Rasul.
Mungkin ukuran paling jujur untuk menilai kecintaan dan ketaatan kita kepada Rasul bukanlah seberapa sering kita menyebut namanya, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita menjadikan wahyu yang beliau sampaikan sebagai pedoman hidup. Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (syahida)





























