PPMIndonesia.com. Oleh: Team Kajian Syahida Qur’an bil Qur’an PPMIndonenesia
Umat yang Sama, Kitab yang Sama, Tetapi Terus Berselisih
Di era digital, perdebatan keagamaan semakin mudah ditemukan. Media sosial, forum diskusi, hingga mimbar-mimbar keagamaan dipenuhi perbedaan pandangan yang terkadang berkembang menjadi saling menyalahkan.
Ironisnya, semua pihak mengaku berpegang kepada Islam. Semua mengaku mengikuti Rasulullah. Semua mengaku membela kebenaran.
Namun jika demikian, mengapa perselisihan itu tidak pernah berakhir?
Pertanyaan ini sesungguhnya bukan fenomena baru. Al-Qur’an telah berbicara tentang perpecahan dan perselisihan manusia jauh sebelum era modern. Bahkan Allah menunjukkan akar masalahnya serta jalan keluarnya.
Kajian Syahida kali ini mencoba menelusuri tema tersebut melalui pendekatan Al-Qur’an bil Al-Qur’an, yaitu memahami suatu persoalan dengan menghimpun ayat-ayat yang saling menjelaskan sehingga Al-Qur’an menjadi penafsir bagi dirinya sendiri.
Al-Qur’an Mengakui Bahwa Perselisihan Akan Selalu Ada
Allah berfirman:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat saja, tetapi mereka senantiasa berselisih.” (QS Hud [11]: 118)
Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan dan perselisihan adalah bagian dari realitas kehidupan manusia.
Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada pengakuan adanya perselisihan. Allah juga menjelaskan bagaimana perselisihan itu harus disikapi.
Ketika Perselisihan Terjadi, Ke Mana Kita Harus Kembali?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS An-Nisa [4]: 59)
Ayat ini sangat menarik.
Allah tidak memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada tradisi kelompok, tokoh yang dikultuskan, warisan leluhur, atau mayoritas manusia.
Allah memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul.
Pertanyaannya, bagaimana cara kembali kepada Allah dan Rasul?
Rasul Diutus untuk Menyampaikan Ayat-Ayat Allah
Untuk memahami makna “kembali kepada Rasul”, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur’an menjelaskan tugas seorang rasul.
Allah berfirman:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 129)
Dan Allah berfirman:
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ
“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)
Dari ayat-ayat ini terlihat bahwa inti misi kerasulan adalah menyampaikan ayat-ayat Allah.
Karena itu, mengembalikan perkara kepada Rasul tidak dapat dipisahkan dari risalah yang beliau bawa.
Mengapa Banyak Perselisihan Tetap Berlangsung?
Salah satu sebab utama perselisihan adalah ketika manusia lebih mendahulukan identitas kelompok dibanding petunjuk Allah.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Dan mereka tidak berpecah belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu karena kedengkian di antara mereka.” (QS Asy-Syura [42]: 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa perpecahan sering kali bukan terjadi karena kurangnya informasi, melainkan karena kepentingan, fanatisme, dan keengganan menerima kebenaran.
Ilmu sudah datang, tetapi hawa nafsu lebih diikuti.
Ketika Tradisi Mengalahkan Wahyu
Al-Qur’an juga mengungkapkan pola yang berulang dalam sejarah manusia.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka berkata: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.” (QS Al-Baqarah [2]: 170)
Ayat ini memperlihatkan bahwa salah satu penghalang terbesar untuk kembali kepada petunjuk Allah adalah keterikatan yang berlebihan kepada tradisi dan kebiasaan yang diwariskan.
Ketika tradisi menjadi ukuran kebenaran, wahyu sering kali hanya berfungsi sebagai pelengkap.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjadi Hakim
Allah menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai penentu dalam perkara yang diperselisihkan.
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar perkara yang mereka perselisihkan.”(QS An-Naml [27]: 76)
Fungsi ini tidak hanya berlaku bagi Bani Israil, tetapi juga menjadi pelajaran bagi umat manusia secara umum.
Al-Qur’an hadir untuk menerangi wilayah-wilayah yang dipenuhi perselisihan.
Rasul Mengeluhkan Umat yang Meninggalkan Al-Qur’an
Salah satu ayat yang paling menyentuh dalam Al-Qur’an adalah keluhan Rasul pada Hari Kiamat.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)
Perhatikan bahwa yang dikeluhkan Rasul bukan sekadar banyaknya perbedaan pendapat.
Yang beliau keluhkan adalah ditinggalkannya Al-Qur’an.
Seakan-akan ayat ini mengisyaratkan bahwa sumber utama berbagai penyimpangan dan perpecahan adalah ketika umat menjauh dari kitab yang diturunkan Allah.
Al-Qur’an Sebagai Tali Persatuan
Allah memberikan solusi yang sangat jelas:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS Ali Imran [3]: 103)
Para mufasir berbeda dalam menjelaskan rincian makna “tali Allah”, namun mereka sepakat bahwa wahyu Allah adalah inti petunjuk yang mempersatukan manusia.
Persatuan yang dibangun di atas kepentingan kelompok mudah runtuh.
Persatuan yang dibangun di atas petunjuk Allah memiliki fondasi yang lebih kokoh.
Penutup: Sudahkah Kita Benar-Benar Kembali?
Perselisihan tidak selalu buruk. Dalam batas tertentu, perbedaan pandangan adalah bagian dari dinamika kehidupan dan pencarian kebenaran.
Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketika perselisihan berubah menjadi perpecahan, fanatisme, dan permusuhan, umat harus kembali kepada sumber petunjuk yang sama.
Allah tidak memerintahkan manusia untuk kembali kepada prasangka.
Allah tidak memerintahkan manusia untuk kembali kepada fanatisme kelompok.
Allah memerintahkan manusia untuk kembali kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.
Dan Rasul sendiri diutus untuk membacakan, mengajarkan, dan menyampaikan ayat-ayat Allah.
Mungkin karena itulah perselisihan tak pernah benar-benar usai. Bukan karena Al-Qur’an tidak cukup jelas, tetapi karena terlalu sering kita mencari pembenaran bagi pendapat kita sendiri sebelum sungguh-sungguh mencari petunjuk dari Al-Qur’an.
Maka pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah siapa yang paling benar di antara kelompok-kelompok yang ada, melainkan: sudahkah kita benar-benar kembali kepada Al-Qur’an ketika berselisih?
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (syahida)





























