Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Al-Qur’an yang Jelas, Umat yang Merumitkan

8
×

Al-Qur’an yang Jelas, Umat yang Merumitkan

Share this article

Kajian Syahida Al-Qur'an Bil Al-Qur'an. Oleh; Syahida

“Kitab yang Mudah”, Mengapa Menjadi Sulit?

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah kesaksiannya tentang dirinya sendiri. Berbeda dengan kitab-kitab pemikiran manusia yang memerlukan penjelasan dari luar, Al-Qur’an berkali-kali menyatakan bahwa ia adalah kitab yang jelas, terperinci, mudah dipelajari, dan menjadi petunjuk langsung bagi manusia.

Namun ironi justru muncul dalam kehidupan umat Islam. Semakin banyak kitab yang ditulis tentang Al-Qur’an, semakin banyak pula orang yang merasa tidak berani memahami Al-Qur’an secara langsung. Seolah-olah kitab suci itu terlalu rumit untuk dipahami tanpa melewati berlapis-lapis otoritas manusia.

Apakah memang demikian yang diajarkan Al-Qur’an?

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an (Kajian Syahida), kita membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.

Al-Qur’an Menyebut Dirinya Kitab yang Jelas

Allah berfirman:

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُّبِينٍ

“Alif Lām Rā. Itulah ayat-ayat Kitab dan Al-Qur’an yang jelas.” (QS. Al-Hijr [15]: 1)

Kata مُبِين (mubīn) berarti jelas, terang, menerangkan.

Artinya, Al-Qur’an bukan kitab yang sengaja dibuat rumit agar hanya dapat dipahami oleh kalangan tertentu. Justru ia diturunkan sebagai penerang bagi manusia.

Penegasan serupa terdapat dalam firman Allah:

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Sungguh telah datang kepadamu dari Allah cahaya dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 15)

Al-Qur’an menyebut dirinya Kitab Mubin, kitab yang menjelaskan.

Allah Sendiri Menjelaskan Al-Qur’an

Banyak orang menganggap Al-Qur’an tidak cukup jelas sehingga harus dijelaskan terlebih dahulu oleh sumber lain.

Padahal Allah berfirman:

وَلَقَدْ جِئْنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sungguh Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami jelaskan atas dasar ilmu sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf [7]: 52)

Perhatikan redaksinya:

فَصَّلْنَاهُ

“Kami telah menjelaskannya secara terperinci.”

Subjeknya adalah Allah, bukan manusia.

Hal yang sama ditegaskan kembali:

كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ

“Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu.” (QS. Al-An’am [6]: 55)

Juga:

انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

“Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat itu berulang-ulang agar mereka memahami.” (QS. Al-An’am [6]: 65)

Kajian Syahida berangkat dari prinsip ini: penafsir pertama Al-Qur’an adalah Al-Qur’an sendiri.

Mengapa Al-Qur’an Terasa Sulit?

Jika Al-Qur’an menyatakan dirinya jelas, mengapa banyak orang merasa sulit memahaminya?

Jawabannya justru diberikan oleh Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17)

Ayat yang sama diulang empat kali dalam surah Al-Qamar (ayat 17, 22, 32, dan 40). Pengulangan ini menunjukkan penekanan bahwa kemudahan Al-Qur’an merupakan bagian dari kehendak Allah.

Kesulitan sering kali bukan berasal dari Al-Qur’an, melainkan dari cara manusia mendekatinya: membawa prasangka, fanatisme mazhab, atau menganggap kitab ini tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu menerima seluruh konstruksi pemikiran yang berkembang kemudian.

Tradisi yang Mengalahkan Wahyu

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa salah satu penyebab manusia menjauh dari petunjuk adalah fanatisme terhadap tradisi.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini bukan sekadar kritik terhadap masyarakat Arab masa lalu, tetapi menjadi peringatan universal agar setiap generasi menguji tradisi dengan wahyu, bukan sebaliknya.

Jangan Mengikuti Tanpa Ilmu

Al-Qur’an tidak mengajarkan keimanan yang membutakan akal.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab intelektual dan spiritual. Beragama tidak cukup hanya dengan mengikuti, tetapi juga dengan memahami dan menghayati.

Al-Qur’an sebagai Furqan

Fungsi utama Al-Qur’an adalah menjadi furqan, pembeda antara yang benar dan yang batil.

Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Al-Furqan [25]: 1)

Karena itu, segala bentuk tradisi, pemikiran, maupun praktik keagamaan semestinya diuji dengan Al-Qur’an, bukan sebaliknya Al-Qur’an dipahami semata-mata melalui tradisi yang telah mapan.

Refleksi Syahida: Kembali kepada Kesaksian Al-Qur’an

Kajian Syahida mengajak kita mendengar kesaksian Al-Qur’an tentang dirinya sendiri. Ketika Allah menyatakan bahwa kitab ini jelas, terperinci, mudah dipelajari, dan menjadi petunjuk, maka sikap pertama seorang mukmin adalah mempercayai kesaksian tersebut.

Ini bukan berarti menafikan pentingnya ilmu, sejarah, bahasa Arab, atau khazanah tafsir. Semua itu merupakan ikhtiar ilmiah yang sangat berharga. Namun, seluruh ikhtiar tersebut semestinya membantu kita semakin dekat kepada Al-Qur’an, bukan membuat kita merasa bahwa Al-Qur’an tidak dapat dipahami tanpa bergantung sepenuhnya kepada otoritas manusia.

Pada akhirnya, Al-Qur’an memanggil setiap orang untuk membangun hubungan langsung dengan wahyu melalui tadabbur, ilmu, dan ketakwaan.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

(QS. Shad [38]: 29)

Al-Qur’an telah menyatakan dirinya jelas. Pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah Al-Qur’an dapat dipahami, melainkan apakah kita bersedia membuka hati, menggunakan akal, dan menjadikannya sebagai petunjuk utama dalam kehidupan.

Kotak Refleksi

“Kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada banyaknya rujukan yang ia miliki, tetapi pada kesediaannya menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan tertinggi yang menilai seluruh pemahamannya. Sebab Al-Qur’an datang bukan untuk menggantikan akal, melainkan untuk membimbing akal menuju kebenaran.”

— Seri Kajian Syahida: Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri

Example 120x600