Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Berpegang Teguh pada Dua Perkara: Mengakhiri Polemik Sunni-Syiah dengan Qur’an

8
×

Berpegang Teguh pada Dua Perkara: Mengakhiri Polemik Sunni-Syiah dengan Qur’an

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

AKADEMI PPM | KAJIAN SYAHIDA
Qur’an bil Qur’an | Persatuan Umat | Sunni–Syiah


Polemik yang Tidak Kunjung Selesai

JAKARTA.PPMIndonesia- Perbedaan Sunni dan Syiah merupakan bagian dari sejarah panjang umat Islam. Perbedaan tersebut menyangkut sejarah kepemimpinan setelah Nabi Muhammad, otoritas keagamaan, pemahaman terhadap hadis, serta sejumlah persoalan teologi dan fikih.

Perbedaan sejarah itu kemudian berkembang menjadi identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Masalahnya muncul ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Ketika identitas kelompok menjadi lebih penting daripada persaudaraan.

Ketika sejarah menjadi alasan untuk saling menuduh.

Ketika masing-masing kelompok merasa memiliki monopoli atas kebenaran.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah Al-Qur’an membiarkan umat terus berada dalam pertikaian seperti itu?

Ataukah Al-Qur’an memberikan jalan untuk kembali kepada titik temu?

Pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak kita memulai dari pertanyaan kedua.

Dua Perkara yang Harus Menjadi Titik Temu

Dalam sejarah pemikiran Islam terdapat berbagai riwayat mengenai pesan Nabi agar umat berpegang pada dua perkara setelah beliau.

Dalam tradisi Sunni dikenal riwayat yang populer dengan formulasi Al-Qur’an dan Sunnah, sementara dalam tradisi Syiah terdapat riwayat Al-Qur’an dan Ahlul Bait.

Perbedaan formulasi riwayat tersebut merupakan bagian dari diskusi sejarah dan ilmu hadis yang panjang.

Kajian ini tidak hendak memutuskan salah satu versi sebagai satu-satunya dasar.

Sebaliknya, Qur’an bil Qur’an mengajak kita bertanya:

Apa yang secara eksplisit diberikan Al-Qur’an sebagai titik pegangan bersama umat?

Jawabannya ditemukan dalam ayat yang sangat jelas:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 103)

Ayat ini memberikan dua pesan sekaligus:

berpegang teguh kepada Allah

dan

jangan berpecah-belah.

Inilah dua perkara yang perlu selalu hadir bersamaan:

hubungan dengan Allah dan persatuan manusia.

Al-Qur’an sebagai Titik Temu

Sunni dan Syiah sama-sama mengakui Al-Qur’an sebagai kitab suci.

Maka, sebelum memasuki perdebatan mengenai siapa yang paling berhak menafsirkan sejarah, pertanyaan pertama seharusnya adalah:

Apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang persatuan umat?

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.”
(QS Al-Hujurat [49]: 10)

Perhatikan kata ikhwah—bersaudara.

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa persaudaraan hanya berlaku bagi mereka yang mempunyai seluruh kesamaan dalam pemikiran.

Persaudaraan justru diuji ketika manusia menghadapi perbedaan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih Qur’ani bukan:

Apakah dia Sunni atau Syiah?”

melainkan:

“Apakah dia sesama manusia yang harus diperlakukan dengan adil, dan apakah dia bagian dari persaudaraan umat?”

Perbedaan Tidak Harus Menjadi Permusuhan

Al-Qur’an mengakui bahwa manusia akan berbeda.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”
(QS Hud [11]: 118)

Ayat ini penting.

Perbedaan merupakan kenyataan manusia.

Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.

Karena itu, tugas umat bukan menghapus seluruh perbedaan, melainkan mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

Jangan Menjadikan Agama Terpecah Menjadi Golongan

Al-Qur’an memberikan peringatan:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi beberapa golongan, engkau (Muhammad) tidak termasuk sedikit pun dari mereka.”
(QS Al-An‘am [6]: 159)

Peringatan ini seharusnya menjadi cermin bagi semua kelompok.

Ayat tersebut tidak layak digunakan sebagai senjata untuk menunjuk:

“Itulah kelompok mereka.”

Sebab setiap kelompok dapat bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah identitas kami telah menjadi sumber perpecahan?

Al-Qur’an bahkan menggambarkan kecenderungan setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang mereka miliki:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(QS Ar-Rum [30]: 32)

Di sinilah fanatisme perlu dikritisi.

Ketika Sejarah Mengalahkan Wahyu

Polemik Sunni-Syiah sering kali kembali kepada sejarah.

Siapa yang seharusnya menjadi pemimpin setelah Nabi?

Bagaimana posisi keluarga Nabi?

Bagaimana memahami para sahabat?

Siapa yang memiliki otoritas?

Pertanyaan-pertanyaan sejarah tersebut tentu penting untuk dipelajari.

Namun ada bahaya ketika sejarah tidak lagi menjadi bahan kajian, melainkan berubah menjadi identitas permusuhan.

Al-Qur’an mengingatkan:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itu adalah umat yang telah lalu. Bagi mereka apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan. Dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS Al-Baqarah [2]: 134)

Ayat ini memberikan prinsip penting:

sejarah perlu dipelajari, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas amalnya sendiri.

Kita tidak dapat mengubah sejarah.

Yang dapat kita ubah adalah bagaimana kita hidup hari ini.

Ahlul Bait: Jangan Dipisahkan dari Pesan Al-Qur’an

Salah satu pusat penting dalam polemik Sunni-Syiah adalah kedudukan Ahlul Bait.

Al-Qur’an sendiri memberikan perhatian terhadap keluarga Nabi dalam sejumlah ayat yang menjadi bahan kajian umat.

Di antaranya:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
(QS Al-Ahzab [33]: 33)

Ayat ini mempunyai sejarah penafsiran yang luas dan menjadi salah satu ayat penting dalam pembahasan Ahlul Bait.

Namun penghormatan terhadap Ahlul Bait semestinya tidak menjadi alasan untuk merendahkan pihak lain.

Demikian pula kecintaan kepada para sahabat tidak semestinya menjadi alasan untuk meniadakan penghormatan terhadap keluarga Nabi.

Al-Qur’an mengajarkan keadilan:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS Al-Ma’idah [5]: 8)

Mengapa Umat Harus Kembali kepada Qur’an?

Karena Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai petunjuk:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.”
(QS Al-Isra’ [17]: 9)

Jalan lurus tidak disebut sebagai jalan satu kelompok tertentu.

Ia adalah jalan Allah.

Al-Qur’an juga mengatakan:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS Al-An‘am [6]: 153)

Ayat ini memberikan ukuran yang penting:

jalan Allah menyatukan; jalan-jalan yang memecah-belah perlu diwaspadai.

Jika Berselisih, Kembali kepada Allah

Al-Qur’an juga memberikan mekanisme ketika terjadi perbedaan:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…”
(QS An-Nisa [4]: 59)

Ini merupakan prinsip yang sangat penting bagi budaya dialog umat.

Ketika berbeda, jangan langsung saling menyesatkan.

Kembali kepada Allah.

Pelajari wahyu.

Gunakan akal.

Periksa argumentasi.

Dengarkan pihak lain.

Dan jangan mengubah perbedaan menjadi kebencian.

Dari “Siapa yang Benar?” Menjadi “Apa yang Benar?”

Polemik sektarian sering terjebak pada pertanyaan:

“Siapa yang benar, Sunni atau Syiah?”

Pertanyaan tersebut membuat identitas kelompok menjadi pusat pembicaraan.

Kajian Syahida menawarkan perubahan cara bertanya:

Apa yang dikatakan Al-Qur’an?”

Lalu:

“Apa yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan wahyu?”

Dan akhirnya:

“Apa buah pemahaman tersebut bagi kehidupan manusia?”

Perubahan pertanyaan ini penting.

Sebab kebenaran tidak seharusnya digunakan untuk membangun kesombongan kelompok.

Kebenaran seharusnya menghasilkan:

  • keadilan,
  • persaudaraan,
  • kasih sayang,
  • kejujuran,dan
  • kemaslahatan kehidupan.

Berbeda dalam Pemikiran, Bersatu dalam Kehidupan

Al-Qur’an memberikan prinsip:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”
(QS Al-Anfal [8]: 46)

Umat tidak harus mempunyai seluruh pandangan yang sama untuk dapat bekerja bersama.

Sunni dapat tetap Sunni.

Syiah dapat tetap Syiah.

Perbedaan teologis dan fikih dapat terus dikaji secara ilmiah.

Tetapi perbedaan itu tidak harus menghilangkan:

  • persaudaraan,
  • keadilan,
  • kerja sama sosial,dan
  • kepedulian terhadap manusia.

Inilah yang mungkin lebih dekat dengan semangat Al-Qur’an.

Dua Perkara: Allah dan Persaudaraan

Jika judul “berpegang teguh pada dua perkara” dibaca melalui Qur’an bil Qur’an, kita dapat menemukan dua orientasi yang harus berjalan bersama:

1. Berpegang teguh kepada Allah

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

Jangan kehilangan hubungan dengan Allah dan wahyu-Nya.

2. Jangan memutus persaudaraan

وَلَا تَفَرَّقُوا

Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk terpecah.

Dua prinsip ini tidak boleh dipisahkan.

Berpegang kepada agama tetapi memusuhi manusia bertentangan dengan semangat persaudaraan.

Sebaliknya, berbicara tentang persatuan tanpa kembali kepada nilai kebenaran juga tidak cukup.

Hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan manusia harus berjalan bersama.

Jalan Keluar dari Polemik

Maka jalan keluar dari polemik Sunni-Syiah bukanlah memaksa semua orang menjadi satu mazhab.

Bukan pula menghapus sejarah.

Bukan mengharuskan semua orang memiliki penafsiran yang sama.

Yang diperlukan adalah mengubah budaya keberagamaan:

  • dari klaim menuju kajian,
  • dari fanatisme menuju kesadaran,
  • dari permusuhan menuju persaudaraan,
  • dari perebutan otoritas menuju tanggung jawab,
  • dan dari perdebatan tanpa akhir menuju kerja nyata untuk kemanusiaan.

Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS Al-Hujurat [49]: 13)

Bukan nama kelompok yang menjadi ukuran kemuliaan.

Bukan label mazhab.

Bukan identitas sejarah.

Tetapi takwa.

Penutup: Qur’an sebagai Rumah Bersama

Sunni dan Syiah mempunyai sejarah panjang, tradisi keilmuan, dan pengalaman keagamaan masing-masing.

Perbedaan itu tidak perlu dihapus.

Yang perlu dihentikan adalah permusuhan yang lahir dari perbedaan.

Sebab umat memiliki rumah bersama yang jauh lebih besar daripada identitas kelompok:

Al-Qur’an.

Al-Qur’an memerintahkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 103)

Mungkin inilah pesan terpenting bagi umat hari ini.

Kita tidak harus menghapus semua perbedaan untuk menjadi satu.

Kita hanya perlu memastikan bahwa perbedaan tidak mengalahkan persaudaraan.

Dan kita tidak perlu sibuk menentukan siapa yang paling berhak memiliki kebenaran.

Kita perlu kembali bertanya:

Apakah kita telah benar-benar berpegang pada petunjuk Allah?

Sebab pada akhirnya, Al-Qur’an tidak memanggil manusia untuk menjadi pengikut fanatis sebuah identitas.

Al-Qur’an memanggil manusia untuk menjadi hamba Allah yang beriman, berkeadilan, berbuat baik, dan menjaga persaudaraan.

Dari polemik menuju dialog.
Dari fanatisme menuju kesadaran.
Dari perpecahan menuju persaudaraan.
Dari identitas kelompok menuju jalan Allah.

Itulah jalan Qur’ani menuju umat yang lebih dewasa.

BOX AKADEMI PPM | INTI GAGASAN

DUA PEGANGAN QUR’ANI

1. Berpegang kepada Allah
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

2. Jangan bercerai-berai
وَلَا تَفَرَّقُوا

Titik temu: Al-Qur’an — Persaudaraan — Keadilan — Dialog — Amal Nyata


Catatan Kajian Syahida

Tulisan ini menggunakan pendekatan Qur’an bil Qur’an, yakni membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara silang untuk menemukan prinsip yang lebih utuh mengenai persatuan, perbedaan, Ahlul Bait, sejarah umat, dan penyelesaian konflik.

Pembahasan mengenai riwayat “dua perkara” memiliki berbagai formulasi dan perdebatan dalam tradisi keilmuan Islam. Karena itu, tulisan ini tidak menjadikan salah satu formulasi riwayat sebagai alat untuk menghakimi Sunni atau Syiah. Fokus kajian diarahkan pada prinsip-prinsip yang secara eksplisit dapat ditemukan dalam Al-Qur’an sebagai titik temu bersama.

 

Example 120x600