Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an Tidak Pernah Berubah, Mengapa Riwayat Terus Diperdebatkan?

4
×

Al-Qur’an Tidak Pernah Berubah, Mengapa Riwayat Terus Diperdebatkan?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Sejak diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu, Al-Qur’an tetap dibaca dengan lafaz yang sama oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun, di saat Al-Qur’an tetap terjaga, perdebatan tentang berbagai riwayat, hadis, sejarah, dan pendapat ulama terus berlangsung tanpa henti.

Perbedaan mazhab, pertentangan teologis, hingga konflik politik dalam sejarah Islam sering kali berakar pada perbedaan penafsiran terhadap riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi, para sahabat, atau generasi setelahnya.

Pertanyaannya, mengapa sesuatu yang disebut sebagai sumber petunjuk agama terus diperdebatkan, sementara Al-Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam tetap terjaga dan tidak berubah?

Kajian Syahida kali ini mencoba menelaah persoalan tersebut melalui pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, yaitu memahami suatu tema dengan mengumpulkan dan mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tema yang sama.

Al-Qur’an Dijamin Terpelihara oleh Allah

Salah satu keunikan Al-Qur’an adalah adanya jaminan langsung dari Allah mengenai pemeliharaannya.

Firman Allah

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

(QS. Al-Hijr [15]: 9)

Ayat ini memberikan kepastian bahwa Al-Qur’an berada dalam penjagaan Allah. Tidak ada kitab lain yang memperoleh jaminan serupa secara eksplisit dalam Al-Qur’an.

Karena itu, ketika muncul perbedaan pendapat, seorang mukmin perlu bertanya: sumber mana yang memiliki jaminan pemeliharaan dari Allah?

Al-Qur’an Disebut Sempurna dan Terperinci

Al-Qur’an tidak hanya terpelihara, tetapi juga diperkenalkan sebagai kitab yang telah disempurnakan penjelasannya.

Firman Allah

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا

“Maka apakah selain Allah akan aku jadikan hakim, padahal Dia telah menurunkan kepadamu Kitab yang dijelaskan secara terperinci?”

(QS. Al-An’am [6]: 114)

Allah juga berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

“Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.”

(QS. Al-An’am [6]: 115)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa wahyu Allah telah mencapai kesempurnaan dalam fungsi petunjuknya. Tidak ada ruang bagi manusia untuk memperbaiki, menambah, atau mengurangi kebenaran yang berasal dari-Nya.

Mengapa Riwayat Menjadi Objek Perdebatan?

Berbeda dengan Al-Qur’an yang diturunkan secara wahyu dan dijaga oleh Allah, riwayat merupakan informasi yang berpindah dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Al-Qur’an memberikan prinsip penting tentang berita yang datang dari manusia.

Firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

(QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat ini mengajarkan bahwa informasi yang datang melalui manusia harus diverifikasi.

Semakin panjang rantai penyampaiannya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya perbedaan, kesalahan, penambahan, pengurangan, atau bahkan kepentingan tertentu yang memengaruhi isi berita tersebut.

Karena itulah sejarah manusia selalu dipenuhi perbedaan versi dan interpretasi.

Al-Qur’an Mengingatkan Bahaya Mengikuti Dugaan

Salah satu penyebab munculnya perselisihan adalah ketika manusia membangun keyakinan di atas dugaan.

Firman Allah

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan, padahal persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.”

(QS. An-Najm [53]: 28)

Ayat ini tidak berbicara tentang satu kelompok tertentu, tetapi tentang kecenderungan manusia secara umum.

Ketika suatu keyakinan dibangun di atas informasi yang tidak pasti, maka perdebatan akan sulit dihindari. Sebaliknya, sesuatu yang bersifat pasti akan lebih mampu menjadi titik temu.

Mengapa Allah Memerintahkan Kembali kepada Wahyu?

Ketika terjadi perselisihan, Al-Qur’an tidak memerintahkan manusia untuk kembali kepada tradisi golongan masing-masing.

Sebaliknya, Allah memerintahkan manusia untuk kembali kepada-Nya.

Firman Allah

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ

“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah.”

(QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Bagaimana cara kembali kepada Allah?

Al-Qur’an menjawab melalui ayat lain:

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ

“Dan inilah Kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah ia.”

(QS. Al-An’am [6]: 155)

Kembali kepada Allah berarti kembali kepada petunjuk yang diturunkan-Nya.

Perpecahan Bukan Karena Kurangnya Petunjuk

Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia sering kali berpecah bukan karena kekurangan ilmu, melainkan karena kepentingan dan hawa nafsu.

Firman Allah

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

“Mereka tidak berpecah belah kecuali setelah datang ilmu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka.”

(QS. Asy-Syura [42]: 14)

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa keberadaan petunjuk saja tidak cukup apabila manusia lebih memilih mempertahankan identitas kelompok daripada mencari kebenaran.

Al-Qur’an Sebagai Standar Pembeda

Untuk menghadapi berbagai klaim yang berkembang di tengah masyarakat, Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai Al-Furqan.

Firman Allah

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.”

(QS. Al-Furqan [25]: 1)

Al-Furqan berarti pembeda antara yang benar dan yang salah.

Artinya, ukuran kebenaran tidak berada pada banyaknya pengikut, usia suatu tradisi, atau popularitas suatu riwayat, melainkan pada kesesuaiannya dengan petunjuk Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Mengapa Sebagian Orang Lebih Sibuk Memperdebatkan Riwayat daripada Memahami Al-Qur’an?

Fenomena ini sesungguhnya telah disinggung oleh Al-Qur’an.

Allah menggambarkan kecenderungan sebagian manusia yang lebih tertarik kepada sesuatu selain wahyu.

Firman Allah

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Apabila Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Tetapi apabila disebut selain Dia, tiba-tiba mereka bergembira.”

(QS. Az-Zumar [39]: 45)

Ayat ini mengingatkan bahwa fokus utama seorang mukmin seharusnya adalah Allah dan wahyu-Nya.

Apabila pembahasan agama lebih banyak berkisar pada tokoh, kelompok, dan riwayat dibandingkan ayat-ayat Allah, maka orientasi keagamaan perlu dievaluasi kembali.

Refleksi: Mengapa Al-Qur’an Tetap Sama?

Al-Qur’an tetap sama karena Allah menjaganya.

Al-Qur’an tetap menjadi rujukan karena Allah menyempurnakannya.

Al-Qur’an tetap relevan karena Allah menjadikannya petunjuk bagi seluruh manusia.

Sebaliknya, perdebatan tentang riwayat terus berlangsung karena ia berada dalam wilayah transmisi manusia yang tidak pernah lepas dari keterbatasan, perbedaan pemahaman, dan kepentingan sejarah.

Karena itu, semakin banyak perbedaan yang muncul, semakin penting bagi umat untuk kembali kepada sumber yang paling pasti.

Penutup

Kajian tematik Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah telah menyediakan satu sumber petunjuk yang terjaga, sempurna, dan menjadi pembeda antara kebenaran dan kesalahan, yaitu Al-Qur’an.

Ketika manusia berselisih, Al-Qur’an mengajarkan untuk kembali kepada Allah dan petunjuk-Nya. Ketika manusia menghadapi berbagai klaim kebenaran, Al-Qur’an mengajarkan untuk mengujinya dengan wahyu. Dan ketika manusia terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung, Al-Qur’an mengingatkan bahwa petunjuk yang paling lurus telah berada di tangan mereka.

Firman Allah

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 9)

Mungkin persoalan terbesar umat hari ini bukanlah kurangnya petunjuk, melainkan kurangnya kemauan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat rujukan dalam memahami agama. Wallāhu a’lam bish-shawāb. (syahida)

Example 120x600