EDITORIAL
Membaca Ulang Hubungan antara Kesalehan, Produktivitas, dan Pemberdayaan Umat
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash [28]: 77)
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di berbagai penjuru Indonesia, masjid dan mushala berdiri megah. Suara azan berkumandang lima kali sehari. Pengajian, majelis taklim, dan kegiatan keagamaan tumbuh subur. Setiap tahun, jutaan umat Islam berbondong-bondong menunaikan ibadah haji dan umrah. Secara kasat mata, kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia tampak sangat hidup.
Namun di balik fenomena tersebut, terdapat pertanyaan yang sering muncul dalam berbagai diskusi sosial dan keumatan:
Mengapa masyarakat yang begitu rajin beribadah belum selalu menikmati tingkat kesejahteraan yang sepadan?
Mengapa kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan ketergantungan sosial masih menjadi persoalan besar di tengah masyarakat yang religius?
Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk meragukan nilai ibadah atau mengecilkan peran agama. Sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita melakukan refleksi mendalam mengenai hubungan antara kesalehan ritual dan transformasi kehidupan sosial.
Ibadah dan Realitas Sosial
Dalam Islam, ibadah memiliki kedudukan yang sangat penting. Shalat, puasa, zakat, dan haji merupakan fondasi spiritual yang membentuk hubungan manusia dengan Allah SWT.
Namun Al-Qur’an tidak pernah memisahkan ibadah dari tanggung jawab sosial.
Shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi latihan kedisiplinan.
Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi pendidikan pengendalian diri.
Zakat bukan semata kewajiban finansial, tetapi instrumen distribusi kesejahteraan.
Haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi pembelajaran tentang persaudaraan, kesetaraan, dan kepemimpinan.
Dengan kata lain, ibadah seharusnya melahirkan perubahan perilaku yang berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi.
Paradoks Kesalehan
Di sinilah kita menghadapi sebuah paradoks.
Di satu sisi, tingkat religiusitas masyarakat cukup tinggi. Di sisi lain, berbagai persoalan sosial masih terus berlangsung.
Korupsi masih terjadi.
Ketimpangan ekonomi masih melebar.
Kerusakan lingkungan terus berlangsung.
Kemiskinan kultural masih membelenggu sebagian masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesalehan ritual belum selalu bertransformasi menjadi kesalehan sosial.
Ibadah telah menjadi rutinitas, tetapi belum sepenuhnya menjadi energi perubahan.
Ketika Agama Dipahami Secara Parsial
Salah satu penyebab utama paradoks tersebut adalah cara memahami agama yang cenderung parsial.
Agama sering dipersempit pada persoalan:
- Halal dan haram,
- Pahala dan dosa,
- Surga dan neraka.
Sementara aspek pembangunan masyarakat, penguatan ekonomi, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan umat sering kali belum mendapatkan perhatian yang seimbang.
Akibatnya, muncul generasi yang rajin beribadah tetapi kurang memiliki:
- Etos kerja produktif,
- Kemampuan kewirausahaan,
- Budaya inovasi,
- Dan kesadaran sosial yang kuat.
Padahal Islam sejak awal hadir sebagai agama yang membangun peradaban.
Al-Qur’an dan Spirit Produktivitas
Al-Qur’an tidak mengajarkan umatnya untuk menjauhi kehidupan dunia.
Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi.
Allah SWT berfirman:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.”
(QS. Hud [11]: 61)
Ayat ini menegaskan bahwa bekerja, berproduksi, mengelola sumber daya, membangun ekonomi, dan menciptakan kesejahteraan merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah.
Karena itu, produktivitas bukan lawan dari spiritualitas.
Produktivitas adalah salah satu bentuk aktualisasi spiritualitas.
Kemiskinan Kultural dan Mentalitas Pasrah
Dalam banyak kasus, persoalan umat bukan semata-mata kekurangan sumber daya.
Indonesia adalah negara yang kaya akan:
- Tanah subur,
- Laut yang luas,
- Hasil tambang,
- Serta bonus demografi yang besar.
Namun potensi tersebut sering kali tidak mampu diolah secara optimal karena adanya hambatan budaya dan paradigma.
Sebagian masyarakat masih terjebak dalam:
- Mentalitas pasrah yang keliru,
- Ketergantungan terhadap bantuan,
- Rendahnya keberanian mengambil risiko,
- Dan minimnya budaya produktif.
Di sinilah kemiskinan kultural menjadi persoalan yang lebih serius daripada kemiskinan material.
Karena kemiskinan material dapat diatasi dengan sumber daya, sedangkan kemiskinan kultural membutuhkan perubahan cara berpikir.
Pendapat Tokoh
Prof. Kuntowijoyo
Melalui konsep Ilmu Sosial Profetik, Kuntowijoyo menegaskan bahwa agama harus melahirkan: humanisasi, liberasi, dan transendensi.
Agama tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus membebaskan manusia dari berbagai bentuk keterbelakangan.
Prof. M. Dawam Rahardjo
Dawam Rahardjo berulang kali menegaskan pentingnya pembangunan ekonomi umat.
Menurutnya, umat Islam tidak cukup kuat dalam bidang spiritual saja, tetapi juga harus kuat dalam: ekonomi, pendidikan, dan kelembagaan sosial.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Gus Dur pernah mengingatkan bahwa agama harus hadir untuk memuliakan manusia.
Ukuran keberhasilan agama bukan banyaknya simbol keagamaan, tetapi sejauh mana agama mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat.
Pemberdayaan sebagai Jembatan
Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang bahwa solusi atas paradoks ini terletak pada pemberdayaan.
Pemberdayaan adalah proses menjembatani antara:
- Iman dan tindakan,
- Ibadah dan produktivitas,
- Spiritualitas dan kesejahteraan.
Pemberdayaan mengubah masyarakat dari penerima bantuan menjadi pelaku perubahan.
Melalui pemberdayaan, agama diterjemahkan menjadi:
- Pelatihan keterampilan,
- Penguatan koperasi,
- Pengembangan pertanian,
- Pendidikan kader,
- Pengelolaan wakaf produktif,
- Dan pembangunan komunitas yang mandiri.
Qaryah Thayyibah: Kesalehan yang Membumi
Dalam konsep Qaryah Thayyibah, religiusitas tidak hanya diukur dari banyaknya aktivitas ritual.
Religiusitas juga tercermin dalam:
- Keadilan ekonomi,
- Budaya gotong royong,
- Kemandirian masyarakat,
- Kepedulian terhadap lingkungan,
- Dan kualitas pelayanan sosial.
Masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan.
Agama tidak hanya menjadi identitas, tetapi menjadi energi pembangunan.
Menghubungkan Langit dan Bumi
Ibadah adalah fondasi yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun ibadah tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan.
Ibadah harus melahirkan keberanian untuk memperbaiki kehidupan.
Harus melahirkan etos kerja.
Harus melahirkan kepedulian sosial.
Harus melahirkan keadilan dan kesejahteraan.
Karena itu, ketika ibadah belum berbanding lurus dengan kesejahteraan, yang perlu dievaluasi bukanlah ajaran agamanya, melainkan cara kita memahami, menghayati, dan mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah tantangan besar umat Islam hari ini: menghubungkan langit dan bumi, menghubungkan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial, serta mengubah iman menjadi energi pemberdayaan dan kemajuan peradaban.
Inilah semangat yang terus diperjuangkan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) melalui gerakan Teologi Pemberdayaan menuju terwujudnya Qaryah Thayyibah dan cita-cita besar baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—masyarakat yang beriman, berkeadilan, sejahtera, dan diridhai Allah SWT. (ppmindonesia.com)





























