YOGYAKARTA, PPMindonesia.com – Suasana berbeda tampak di lingkungan Sanggar Kesenian Peranserta Institut Sangkerta Indonesia, Sabtu (6/6/2026). Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai daerah yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta menghadiri kuliah umum yang menghadirkan tokoh pendidikan dan sosial, Mukti Asikin, sebagai narasumber utama. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog inspiratif yang membahas upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, khususnya bagi kaum dhuafa dan anak-anak yatim piatu.
Dalam kesempatan tersebut, Mukti Asikin menyampaikan materi tentang pentingnya membangun sistem pendidikan yang berpihak kepada kaum dhuafa dan anak yatim piatu. Ia menjelaskan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu melalui program beasiswa penuh dan sistem pendidikan berasrama.
Menurut Mukti Asikin, pendidikan merupakan instrumen utama untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, anak-anak dari keluarga kurang mampu harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tanpa terbebani biaya.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak dhuafa dan yatim piatu dapat bersekolah dan tinggal di asrama secara gratis, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya di hadapan peserta kuliah umum.
Pendidikan Formal dan Nonformal Terintegrasi
Dalam paparannya, Mukti Asikin menjelaskan bahwa di MA UMMATAN WASATHON Imogiri Timur para siswa mengikuti pendidikan formal mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB. Setelah itu, mereka melanjutkan berbagai kegiatan pendidikan nonformal di lingkungan pondok pesantren.
Program nonformal tersebut meliputi pendidikan keagamaan, kewirausahaan, teknik, komputer, pertanian, peternakan, serta pelatihan kemandirian. Model pendidikan terpadu ini dirancang untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, konsep pendidikan berbasis pesantren yang dipadukan dengan penguatan keterampilan menjadi salah satu solusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan mandiri di masa depan.
Kolaborasi Pesantren dan Organisasi Kemasyarakatan
Kuliah umum tersebut juga menjadi bagian dari kegiatan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh Sanggar Kesenian Peranserta Institut Sangkerta Indonesia, sebuah badan otonom di bawah naungan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).
Kegiatan berlangsung dengan melibatkan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Jember (IKPMJ) yang sedang menempuh pendidikan di Kota Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, Mukti Asikin turut memperkenalkan Program Beasiswa Ustman, sebuah program pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pendidikan secara gratis hingga 100 persen di Yogyakarta.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pondok Pesantren MA UMMATAN WASATHON dengan Pesantren Ustman Yogyakarta dalam upaya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Peran Sanggar Kesenian Peranserta Institut Sangkerta Indonesia
Selain membahas pendidikan, kegiatan ini juga memperkenalkan peran Sanggar Kesenian Peranserta Institut Sangkerta Indonesia sebagai salah satu badan otonom PPM yang bergerak di bidang seni dan budaya.
Lembaga yang dipimpin oleh Ki Mujar Sangkerta tersebut memiliki fokus pada pengembangan seni budaya sebagai sarana pendidikan karakter, pelestarian nilai-nilai kearifan lokal, serta pemberdayaan masyarakat.
Melalui berbagai program pendidikan dan kebudayaan, Sanggar Kesenian Peranserta Institut Sangkerta Indonesia diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa.
Membangun Generasi Mandiri dan Berkarakter
Kegiatan kuliah umum ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Selain memperoleh wawasan mengenai pendidikan dan pemberdayaan sosial, mahasiswa juga diajak memahami pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam menciptakan akses pendidikan yang lebih inklusif.
Melalui sinergi tersebut, diharapkan semakin banyak anak-anak dhuafa dan yatim piatu yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas, sehingga mampu tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berkarakter, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
“Pendidikan bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga memerdekakan dan memberdayakan. Ketika akses pendidikan terbuka bagi semua, maka masa depan Indonesia akan menjadi lebih kuat dan berkeadilan,” demikian pesan yang mengemuka dalam kuliah umum tersebut.




























