JAKARTA.PPMIndonesia.com.Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia
Mukadimah
Di antara miliaran manusia yang hidup di bumi, lebih dari satu miliar orang menyebut dirinya sebagai Muslim. Mereka mengaku mengikuti agama yang disebut Islam.
Namun pernahkah kita bertanya:
Mengapa Allah menamai agama ini “Islam”?
Mengapa bukan nama seorang nabi, seperti agama-agama lain yang sering dikaitkan dengan tokoh tertentu?
Mengapa bukan nama suatu bangsa, wilayah, atau kelompok manusia?
Ternyata Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat mendalam. Nama “Islam” bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan menggambarkan hakikat hubungan antara manusia dan Tuhan.
Melalui metode Kajian Syahida Al-Qur’an bil Al-Qur’an, kita akan menelusuri bagaimana Al-Qur’an menjelaskan makna Islam dan mengapa Allah memilih nama tersebut bagi agama yang diridhai-Nya.
Apa Arti Islam Secara Bahasa?
Kata Islam berasal dari akar kata Arab:
س ل م
yang melahirkan berbagai makna seperti:
- Damai
- Selamat
- Tunduk
- Berserah diri
Dalam konteks Al-Qur’an, Islam mengandung makna:
Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan kesadaran, ketaatan, dan kepatuhan terhadap petunjuk-Nya.
Karena itu seorang Muslim pada hakikatnya adalah orang yang memilih untuk tunduk kepada kehendak Allah, bukan kepada hawa nafsu, kesombongan, atau sesama makhluk.
Nama Islam Datang dari Allah
Al-Qur’an menunjukkan bahwa nama agama ini bukan hasil kesepakatan manusia.
Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 19)
Ayat ini sangat penting.
Allah tidak mengatakan bahwa agama yang benar adalah milik suatu bangsa atau kelompok tertentu.
Allah menyebut prinsip yang menjadi inti agama tersebut, yaitu Islam (berserah diri kepada-Nya).
Islam Bukan Agama Baru
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Islam baru dimulai pada masa Nabi Muhammad ﷺ.
Padahal Al-Qur’an menunjukkan bahwa seluruh nabi membawa misi yang sama.
Nabi Nuh
وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan aku diperintahkan agar termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).”
(QS. Yunus [10]: 72)
Nabi Ibrahim
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Berserah dirilah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 131)
Nabi Ya’qub
فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Muslim).”
(QS. Al-Baqarah [2]: 132)
Para Hawari Nabi Isa
آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 52)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama baru yang dimulai pada abad ke-7 Masehi.
Islam adalah jalan seluruh nabi sejak awal sejarah manusia.
Mengapa Berserah Diri Menjadi Inti Agama?
Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat hakikat hubungan antara Allah dan manusia.
Allah adalah:
رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah [1]: 2)
Sedangkan manusia adalah makhluk ciptaan-Nya.
Karena itu, hubungan yang benar antara manusia dan Allah adalah hubungan penghambaan yang sadar dan sukarela.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Dalam Al-Qur’an, ibadah bukan sekadar ritual.
Ibadah adalah bentuk nyata dari penyerahan diri kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.
Seluruh Alam Semesta Berserah Diri kepada Allah
Menariknya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa bukan hanya manusia yang tunduk kepada Allah.
Seluruh alam semesta pun berada dalam keadaan “Islam”.
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا
“Apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya telah berserah diri siapa pun yang di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa?”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 83)
Planet-planet bergerak sesuai hukum Allah.
Matahari dan bulan mengikuti ketentuan-Nya.
Tumbuhan tumbuh sesuai sistem yang Dia tetapkan.
Seluruh alam semesta tunduk kepada aturan-Nya.
Manusia menjadi makhluk yang unik karena diberi kebebasan memilih untuk tunduk atau menolak.
Islam dan Fitrah Manusia
Al-Qur’an menghubungkan Islam dengan fitrah.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS. Ar-Rum [30]: 30)
Ayat ini menunjukkan bahwa kecenderungan untuk mengenal Allah dan tunduk kepada-Nya telah ditanamkan dalam diri manusia.
Karena itu Islam bukan sesuatu yang asing bagi manusia.
Islam adalah jalan yang sesuai dengan fitrahnya.
Islam Bukan Sekadar Identitas
Al-Qur’an membedakan antara pengakuan formal dan penyerahan diri yang sesungguhnya.
Allah berfirman:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا
“Orang-orang Arab Badui berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk (Islam).’”
(QS. Al-Hujurat [49]: 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar label atau identitas sosial.
Islam harus terwujud dalam sikap hidup, ketaatan, dan komitmen terhadap petunjuk Allah.
Apa Lawan dari Islam?
Secara Qurani, lawan dari Islam bukanlah agama tertentu, melainkan sikap menolak tunduk kepada Allah.
Contoh paling jelas adalah Iblis.
Ia mengetahui Allah.
Ia berbicara kepada Allah.
Ia mengakui hari kebangkitan.
Namun ia menolak tunduk kepada perintah Allah.
أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Ia enggan dan menyombongkan diri, maka jadilah ia termasuk golongan kafir.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 34)
Karena itu akar masalah manusia bukan kurangnya pengetahuan, melainkan keengganan untuk berserah diri.
Islam dan Keselamatan
Al-Qur’an menghubungkan Islam dengan keselamatan.
Pada Hari Kiamat, yang dinilai bukan sekadar klaim keagamaan, melainkan apakah seseorang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah.
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ
“Ya, barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat baik, maka baginya pahala di sisi Tuhannya.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 112)
Penyerahan diri inilah yang menjadi inti dari keselamatan dunia dan akhirat.
Kesimpulan Kajian Syahida
Melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa:
Pertama, Islam berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dengan kesadaran dan ketaatan.
Kedua, nama Islam berasal dari Allah sendiri dan disebut sebagai agama yang diridhai-Nya.
Ketiga, Islam bukan agama baru, melainkan jalan yang dibawa seluruh nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ.
Keempat, seluruh alam semesta berada dalam keadaan tunduk kepada Allah, sementara manusia diberi kebebasan untuk memilih.
Kelima, inti Islam bukan sekadar identitas atau pengakuan lisan, melainkan penyerahan diri yang nyata kepada petunjuk Allah.
Pada akhirnya, Allah tidak menamai agama ini berdasarkan nama seorang nabi, bangsa, atau wilayah tertentu. Allah menamainya Islam karena inti ajarannya adalah satu prinsip universal yang berlaku sepanjang zaman:
أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 131)
Kalimat Nabi Ibrahim ini pada hakikatnya adalah inti dari seluruh risalah para nabi dan inti dari perjalanan hidup setiap manusia yang mencari kebenaran. Wallāhu A’lam bish-Shawāb. (syahida)





























