Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Jihad Bukan Teror: Membaca Kembali Ayat-Ayat Al-Qur’an Secara Utuh

5
×

Jihad Bukan Teror: Membaca Kembali Ayat-Ayat Al-Qur’an Secara Utuh

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh syahida

Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia

Pendahuluan

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di era informasi yang serba cepat, istilah jihad sering muncul dalam pemberitaan global yang berkaitan dengan konflik, kekerasan, bahkan aksi terorisme. Akibatnya, sebagian masyarakat dunia menganggap jihad identik dengan kekerasan dan teror. Ironisnya, tidak sedikit pula umat Islam yang memahami jihad hanya sebatas peperangan.

Padahal, jika Al-Qur’an dibaca secara utuh dan dipahami dengan metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, yaitu menafsirkan suatu ayat dengan ayat-ayat lain yang menjelaskan tema yang sama, akan terlihat bahwa konsep jihad jauh lebih luas, luhur, dan berorientasi pada penegakan keadilan serta kemaslahatan manusia.

Pertanyaannya, benarkah jihad dalam Al-Qur’an identik dengan teror? Ataukah itu merupakan hasil pembacaan yang parsial terhadap ayat-ayat Al-Qur’an?

Jihad dalam Al-Qur’an: Kesungguhan di Jalan Allah

Secara bahasa, jihad berasal dari akar kata جَهَدَ yang berarti bersungguh-sungguh, mengerahkan kemampuan, dan berjuang secara maksimal.

Al-Qur’an menggambarkan jihad sebagai karakter utama orang-orang beriman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 218)

Dalam banyak ayat, jihad selalu dikaitkan dengan pengorbanan harta dan jiwa:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.”

(QS. Al-Hujurat [49]: 15)

Menariknya, Al-Qur’an lebih sering menyebut jihad dalam konteks perjuangan moral, sosial, dan spiritual daripada peperangan fisik.

Jihad Tidak Selalu Berarti Perang

Salah satu ayat yang menunjukkan makna luas jihad terdapat dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Allah berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya.”

(QS. Luqman [31]: 15)

Kata جَاهَدَاكَ dalam ayat ini berasal dari akar kata yang sama dengan jihad. Jelas bahwa yang dimaksud bukan peperangan, melainkan usaha sungguh-sungguh.

Hal ini membuktikan bahwa jihad dalam Al-Qur’an tidak otomatis berarti perang.

Mengapa Teror Bertentangan dengan Al-Qur’an?

Terorisme pada hakikatnya adalah penggunaan kekerasan untuk menebarkan ketakutan kepada masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik.

Sementara Al-Qur’an justru melarang agresi dan pelampauan batas.

Allah berfirman:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 190)

Ayat ini menegaskan tiga prinsip:

  1. Perang hanya terhadap pihak yang memerangi.
  2. Tidak boleh menyerang pihak yang tidak terlibat.
  3. Segala bentuk agresi dilarang.

Teror yang menyasar masyarakat sipil jelas bertentangan dengan prinsip ini.

Al-Qur’an Mengizinkan Perang Karena Kezaliman, Bukan Karena Perbedaan Agama

Ketika Al-Qur’an pertama kali memberikan izin berperang, alasannya sangat jelas:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizalimi. Dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka.”

(QS. Al-Hajj [22]: 39)

Ayat berikutnya menjelaskan bentuk kezaliman tersebut:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

“Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’.”

(QS. Al-Hajj [22]: 40)

Dengan demikian, izin berperang bukan karena perbedaan keyakinan, melainkan karena adanya penindasan dan pengusiran.

Membela Kaum Tertindas Adalah Bagian dari Jihad

Al-Qur’an menempatkan pembelaan terhadap kelompok lemah sebagai salah satu tujuan perjuangan.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?”

(QS. An-Nisa’ [4]: 75)

Ayat ini menunjukkan bahwa jihad dalam bentuk perlawanan bersenjata hanya dibenarkan untuk menghentikan kezaliman dan melindungi korban penindasan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama

Salah satu tuduhan yang sering dikaitkan dengan jihad adalah bahwa Islam menyebarkan agama melalui pedang.

Namun Al-Qur’an secara tegas membantah anggapan tersebut.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 256)

Ayat ini merupakan prinsip universal bahwa keimanan harus lahir dari kesadaran, bukan tekanan.

Karena itu, peperangan dalam Islam tidak pernah dimaksudkan untuk memaksa orang memeluk agama tertentu.

Perdamaian Selalu Diutamakan

Jika tujuan jihad adalah keadilan, maka tujuan akhirnya adalah perdamaian.

Allah berfirman:

فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Jika mereka berhenti, maka tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 193)

Bahkan ketika pihak lawan menawarkan perdamaian, Al-Qur’an memerintahkan kaum Muslim untuk menerimanya.

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.”

(QS. Al-Anfal [8]: 61)

Ayat ini membuktikan bahwa perdamaian merupakan orientasi utama ajaran Islam.

Berbuat Baik kepada Semua yang Tidak Memusuhi

Hubungan antara Muslim dan non-Muslim tidak dibangun di atas kebencian, melainkan keadilan.

Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

(QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)

Ayat ini menjadi landasan hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang beragam.

Jihad Adalah Jalan Keadilan, Teror Adalah Jalan Kezaliman

Kajian Al-Qur’an Bil Al-Qur’an menunjukkan bahwa jihad dan teror adalah dua hal yang bertolak belakang.

Jihad dalam Al-Qur’an adalah perjuangan untuk menegakkan kebenaran, membela kaum tertindas, memperjuangkan keadilan, dan menjaga kebebasan manusia dalam beragama.

Sebaliknya, terorisme dibangun di atas ketakutan, agresi, pelanggaran terhadap hak hidup manusia, dan penyerangan terhadap pihak yang tidak bersalah.

Karena itu, menyamakan jihad dengan teror bukan hanya kesalahan konseptual, tetapi juga bertentangan dengan keseluruhan pesan Al-Qur’an.

Allah menutup ajakan jihad dengan perintah yang sangat luhur:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”

(QS. Al-Hajj [22]: 78)

Jihad yang sebenar-benarnya bukanlah menebar ketakutan, melainkan menghadirkan keadilan, membela yang tertindas, dan menjadi rahmat bagi seluruh manusia. (syahida)

Example 120x600