“Sesungguhnya Al-Qur’an bukan hanya mengandung petunjuk pada makna, tetapi juga pada cara penyampaiannya. Setiap kata, susunan kalimat, pergantian kata ganti, dan pilihan gaya bahasa mengandung pesan tauhid yang mendalam.”
JAKARTA|PPMIndonesia.com– Bagi seorang mukmin, Al-Qur’an adalah firman Allah yang sempurna. Kesempurnaan itu tidak hanya tampak pada kandungan petunjuknya, tetapi juga pada struktur bahasa yang digunakan.
Tidak ada satu kata pun dalam Al-Qur’an yang hadir tanpa tujuan. Bahkan pergantian antara kata ganti Aku, Dia, dan Kami mengandung pesan yang sangat dalam tentang siapa Allah dan bagaimana manusia seharusnya mengenal-Nya.
Melalui metode Quran bil Quran, yaitu memahami ayat dengan ayat lainnya, kita menemukan bahwa struktur bahasa Al-Qur’an bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana pendidikan tauhid yang mengarahkan manusia kepada pengenalan yang benar terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bahasa Al-Qur’an Dibangun di Atas Fondasi Tauhid
Sebelum memahami berbagai gaya bahasa Al-Qur’an, kita harus memahami fondasi utamanya.
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas 112:1)
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia.”
(QS. Al-Baqarah 2:255)
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia.”
(QS. Ali ‘Imran 3:18)
Seluruh struktur bahasa Al-Qur’an bergerak dalam orbit tauhid ini.
Karena itu, apa pun bentuk gaya bahasa yang digunakan, tidak boleh dipahami dengan cara yang bertentangan dengan prinsip keesaan Allah yang menjadi inti Al-Qur’an.
Ketika Allah Berfirman dengan Kata “Aku”
Salah satu bentuk yang paling sering ditemukan dalam Al-Qur’an adalah penggunaan kata ganti tunggal.
Allah berfirman:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Thaha 20:14)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah 2:186)
إِنِّي أَنَا رَبُّكَ
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu.”
(QS. Thaha 20:12)
Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menggunakan bentuk tunggal karena konteksnya adalah:
- penegasan tauhid,
- hubungan langsung dengan manusia,
- ibadah dan penghambaan,
- kedekatan Allah dengan hamba-Nya.
Struktur bahasa ini mengajarkan bahwa antara manusia dan Tuhannya tidak ada sekutu dalam ketuhanan.
Ketika Allah Menggunakan Kata “Kami”
Pada ayat lain, Allah menggunakan bentuk jamak:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”
(QS. Al-Qadr 97:1)
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْيدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
(QS. Adz-Dzariyat 51:47)
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr 15:9)
Dalam bahasa Arab klasik, bentuk ini dikenal sebagai:
Jamak Keagungan (Pluralis Majestatis)
Penggunaan bentuk jamak tidak menunjukkan banyak Tuhan, melainkan menunjukkan:
- keagungan,
- kemuliaan,
- kebesaran kerajaan,
- keluasan kekuasaan.
Sebagaimana seorang raja berkata:
“Kami menetapkan…”
padahal yang dimaksud tetap satu penguasa.
Keagungan Allah Tercermin dalam Struktur Kalimat
Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada pilihan kata, tetapi juga pada susunan kalimatnya.
Ketika Allah berbicara tentang penciptaan alam semesta, struktur kalimat sering menampilkan nuansa kebesaran yang luar biasa.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3:190)
Susunan ayat ini membawa pembaca dari: alam semesta, keteraturan kosmos, hingga kesimpulan tentang keagungan Sang Pencipta.
Bahasa Al-Qur’an Menggambarkan Allah yang Dekat dan Maha Tinggi
Menariknya, Al-Qur’an mampu menghadirkan dua kesan sekaligus:
Allah Sangat Dekat
فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah 2:186)
Allah Maha Tinggi dan Maha Agung
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
(QS. Al-Baqarah 2:255)
Bahasa manusia biasanya sulit menggabungkan dua konsep tersebut secara bersamaan.
Namun Al-Qur’an melakukannya dengan sempurna:
Allah dekat tanpa menjadi bagian dari makhluk.
Allah Maha Tinggi tanpa menjadi jauh dari hamba-Nya.
Keterbatasan Bahasa Manusia dan Kemahaluasan Allah
Allah berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya.”
(QS. Az-Zumar 39:67)
Ayat ini mengingatkan bahwa sebesar apa pun kemampuan bahasa manusia, tetap tidak akan mampu menggambarkan Allah secara sempurna.
Bahasa manusia terbatas.
Sedangkan Allah: tidak terbatas ruang, tidak terbatas waktu, tidak terbatas dimensi, tidak menyerupai apa pun.
Karena itu, Al-Qur’an menggunakan berbagai bentuk bahasa agar manusia dapat mendekati pemahaman tentang Tuhan, walaupun hakikat-Nya tetap melampaui segala gambaran.
Pesan Tauhid di Balik Keindahan Bahasa Al-Qur’an
Jika ditelaah secara menyeluruh, seluruh struktur bahasa Al-Qur’an mengarah pada satu tujuan:
Mengenalkan Allah kepada manusia.
Melalui:
- kata ganti,
- pilihan diksi,
- susunan ayat,
- perumpamaan,
- pengulangan,
- dan ritme bahasa,
Al-Qur’an terus mengarahkan manusia kepada kesadaran bahwa:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. Asy-Syura 42:11)
Inilah puncak pesan tauhid yang dibangun oleh struktur bahasa Al-Qur’an.
Penutup
Keagungan Allah tidak hanya tampak dalam penciptaan langit dan bumi, tetapi juga tercermin dalam struktur bahasa Al-Qur’an yang sempurna.
Penggunaan kata Aku, Dia, dan Kami, susunan ayat yang penuh hikmah, serta keseimbangan antara kedekatan dan keagungan Allah menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab sastra, melainkan wahyu Ilahi yang membimbing manusia menuju pengenalan yang benar terhadap Tuhannya.
Semakin dalam seseorang mentadabburi bahasa Al-Qur’an, semakin kuat keyakinannya bahwa:
اللَّهُ أَكْبَرُ
“Allah Maha Besar.”
Bukan hanya dalam kekuasaan-Nya, tetapi juga dalam setiap firman yang diturunkan-Nya sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. (a mohmmed)




























