Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Keagungan Allah dalam Struktur Bahasa Al-Qur’an

4
×

Keagungan Allah dalam Struktur Bahasa Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran; Penulis: A Mohammed

“Sesungguhnya Al-Qur’an bukan hanya mengandung petunjuk pada makna, tetapi juga pada cara penyampaiannya. Setiap kata, susunan kalimat, pergantian kata ganti, dan pilihan gaya bahasa mengandung pesan tauhid yang mendalam.”

JAKARTA|PPMIndonesia.com– Bagi seorang mukmin, Al-Qur’an adalah firman Allah yang sempurna. Kesempurnaan itu tidak hanya tampak pada kandungan petunjuknya, tetapi juga pada struktur bahasa yang digunakan.

Tidak ada satu kata pun dalam Al-Qur’an yang hadir tanpa tujuan. Bahkan pergantian antara kata ganti Aku, Dia, dan Kami mengandung pesan yang sangat dalam tentang siapa Allah dan bagaimana manusia seharusnya mengenal-Nya.

Melalui metode Quran bil Quran, yaitu memahami ayat dengan ayat lainnya, kita menemukan bahwa struktur bahasa Al-Qur’an bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana pendidikan tauhid yang mengarahkan manusia kepada pengenalan yang benar terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


Bahasa Al-Qur’an Dibangun di Atas Fondasi Tauhid

Sebelum memahami berbagai gaya bahasa Al-Qur’an, kita harus memahami fondasi utamanya.

Allah berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”

(QS. Al-Ikhlas 112:1)

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia.”

(QS. Al-Baqarah 2:255)

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ

“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia.”

(QS. Ali ‘Imran 3:18)

Seluruh struktur bahasa Al-Qur’an bergerak dalam orbit tauhid ini.

Karena itu, apa pun bentuk gaya bahasa yang digunakan, tidak boleh dipahami dengan cara yang bertentangan dengan prinsip keesaan Allah yang menjadi inti Al-Qur’an.

Ketika Allah Berfirman dengan Kata “Aku”

Salah satu bentuk yang paling sering ditemukan dalam Al-Qur’an adalah penggunaan kata ganti tunggal.

Allah berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”

(QS. Thaha 20:14)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

(QS. Al-Baqarah 2:186)

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ

“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu.”

(QS. Thaha 20:12)

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menggunakan bentuk tunggal karena konteksnya adalah:

  • penegasan tauhid,
  • hubungan langsung dengan manusia,
  • ibadah dan penghambaan,
  • kedekatan Allah dengan hamba-Nya.

Struktur bahasa ini mengajarkan bahwa antara manusia dan Tuhannya tidak ada sekutu dalam ketuhanan.

Ketika Allah Menggunakan Kata “Kami”

Pada ayat lain, Allah menggunakan bentuk jamak:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”

(QS. Al-Qadr 97:1)

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْيدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”

(QS. Adz-Dzariyat 51:47)

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”

(QS. Al-Hijr 15:9)

Dalam bahasa Arab klasik, bentuk ini dikenal sebagai:

Jamak Keagungan (Pluralis Majestatis)

Penggunaan bentuk jamak tidak menunjukkan banyak Tuhan, melainkan menunjukkan:

  • keagungan,
  • kemuliaan,
  • kebesaran kerajaan,
  • keluasan kekuasaan.

Sebagaimana seorang raja berkata:

“Kami menetapkan…”

padahal yang dimaksud tetap satu penguasa.

Keagungan Allah Tercermin dalam Struktur Kalimat

Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada pilihan kata, tetapi juga pada susunan kalimatnya.

Ketika Allah berbicara tentang penciptaan alam semesta, struktur kalimat sering menampilkan nuansa kebesaran yang luar biasa.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

(QS. Ali ‘Imran 3:190)

Susunan ayat ini membawa pembaca dari: alam semesta, keteraturan kosmos, hingga kesimpulan tentang keagungan Sang Pencipta.

Bahasa Al-Qur’an Menggambarkan Allah yang Dekat dan Maha Tinggi

Menariknya, Al-Qur’an mampu menghadirkan dua kesan sekaligus:

Allah Sangat Dekat

فَإِنِّي قَرِيبٌ

“Sesungguhnya Aku dekat.”

(QS. Al-Baqarah 2:186)

Allah Maha Tinggi dan Maha Agung

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

(QS. Al-Baqarah 2:255)

Bahasa manusia biasanya sulit menggabungkan dua konsep tersebut secara bersamaan.

Namun Al-Qur’an melakukannya dengan sempurna:

Allah dekat tanpa menjadi bagian dari makhluk.

Allah Maha Tinggi tanpa menjadi jauh dari hamba-Nya.

Keterbatasan Bahasa Manusia dan Kemahaluasan Allah

Allah berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya.”

(QS. Az-Zumar 39:67)

Ayat ini mengingatkan bahwa sebesar apa pun kemampuan bahasa manusia, tetap tidak akan mampu menggambarkan Allah secara sempurna.

Bahasa manusia terbatas.

Sedangkan Allah: tidak terbatas ruang, tidak terbatas waktu, tidak terbatas dimensi, tidak menyerupai apa pun.

Karena itu, Al-Qur’an menggunakan berbagai bentuk bahasa agar manusia dapat mendekati pemahaman tentang Tuhan, walaupun hakikat-Nya tetap melampaui segala gambaran.

Pesan Tauhid di Balik Keindahan Bahasa Al-Qur’an

Jika ditelaah secara menyeluruh, seluruh struktur bahasa Al-Qur’an mengarah pada satu tujuan:

Mengenalkan Allah kepada manusia.

Melalui:

  • kata ganti,
  • pilihan diksi,
  • susunan ayat,
  • perumpamaan,
  • pengulangan,
  • dan ritme bahasa,

Al-Qur’an terus mengarahkan manusia kepada kesadaran bahwa:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

(QS. Asy-Syura 42:11)

Inilah puncak pesan tauhid yang dibangun oleh struktur bahasa Al-Qur’an.

Penutup

Keagungan Allah tidak hanya tampak dalam penciptaan langit dan bumi, tetapi juga tercermin dalam struktur bahasa Al-Qur’an yang sempurna.

Penggunaan kata Aku, Dia, dan Kami, susunan ayat yang penuh hikmah, serta keseimbangan antara kedekatan dan keagungan Allah menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab sastra, melainkan wahyu Ilahi yang membimbing manusia menuju pengenalan yang benar terhadap Tuhannya.

Semakin dalam seseorang mentadabburi bahasa Al-Qur’an, semakin kuat keyakinannya bahwa:

اللَّهُ أَكْبَرُ

“Allah Maha Besar.”

Bukan hanya dalam kekuasaan-Nya, tetapi juga dalam setiap firman yang diturunkan-Nya sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. (a mohmmed)

Example 120x600